Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Tegal misalnya, kesulitan mendapatkan buku bacaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa mereka. Buku-buku bantuan yang tersedia seringkali ditujukan untuk pembaca yang sudah mahir membaca dan memahami teks panjang.
"Karena yang masuk ke sini kan yang kemampuannya rendah, jadi untuk kalau mau baca lancar dengan font yang kecil juga kita mengalami kesulitan," ujar Pengawas Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XI Provinsi Jawa Tengah, Sut Jineti, saat berbincang di SLBN Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 24 Oktober 2026.
Neti mengatakan SLB membutuhkan lebih banyak buku-buku khusus yang sesuai dengan kebutuhan siswa mereka. Hal ini juga kerap menjadi dilema dalam pelaporan dana BOS.
Sekolah wajib membeli buku berstandar nasional (SNI) agar aman dalam pelaporan. Di sisi lain, sangat sulit menemukan buku berstandar nasional di pasar yang memang dirancang khusus untuk anak-anak kelas kecil di SLB.
SLBN Kota Tegal sendiri merupakan satu dari empat sekolah yang menerima bantuan buku bacaan bermutu jumlahnya mencapai 300 judul. Saat ini, baru satu dua murid yang membaca.
Hal ini lantaran sekolah masih direvitalisasi sehingga belum memiliki perpustakaan. Buku-buku yang datang sekitar bulan Agustus 2026 itu juga masih dalam tahap pelabelan dan pendataan.
Meski begitu, sekolah sudah bergerak mendorong murid untuk membaca.
"Di Jumat kedua itu ada Jumat Literasi, jadi nanti anak-anak belajar buka-buka buku. Kami juga baru kerja sama dengan Perpustakaan Daerah, nanti setiap hari Jumat kedua mobil (perpustakaan) keliling akan datang," ujar Kepala SLBN Kota Tegal, Sri Suprapti.
Buku-buku di SLBN Kota Tegal. Medcom.id/Renatha Swasty
Baca Juga :
Daun-daun yang Bercerita, Tumbuhkan Minat Baca Lewat Pohon LiterasiSelain visual, format audio menjadi media yang saangat efektif dan menarik bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menyerap informasi dan cerita.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin, menyebut SLBN Kota Tegal sebetulnya bisa memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) yang sudah tersedia. Dalam PID, tersedia seribu judul buku digital yang sudah disesuaikan dengan kemampuan membaca anak, seperti jenjang B1, B2 dan B3.
Lewat PID, anak-anak dapat membaca bersama dengan visual yang lebih besar. "Jadi, tidak perlu beli barangnya. Anak-anak bisa baca bersama-sama melalui PID, lebih menarik, lebih interaktif, mereka bisa memilih masing-masing," ujar Hafidz.
Tak cuma itu, khusus untuk anak-anak netra yang tidak bisa melihat secara visual juga sudah disiapkan bacaan yang bisa diunduh. Pemerintah menyediakan ribuan master buku braille dalam format digital.
"Nah jadi tinggal diunduh, nanti dicetak. Karena kalau buku braille kan harus dicetak karena diraba, jadi tidak bisa melalui digital," tutur Hafidz.
Sekolah bisa mencetaknya menggunakan mesin cetak braille di unit layanan terdekat. Hafidz menyebut pencetakan ini bisa memanfaatkan dana BOS.
Inovasi lainnya buku bacaan bermutu dari Balai Bahasa yang menyajikan dua bahasa sekaligus dalam satu buku, yakni Jawa dan Bahasa Idonesia. Ini membantu anak mengenali koonsep Bahasa secara lebih konteksual.
Meski begitu, Hafidz mengingatkan buku bermutu tidak akan berdampak maksimal tanpa adanya guru yang terampil. Oleh karena itu, dia mendorong pelatihan guru.
Dia menyebut guru mesti mendapat pelatihan metode membaca sepeti teknik membaca nyaring atau membaca cepat. Selain itu, perlu ada pelatihan untuk penggunaan PID untuk memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia.
SLBN Kota Tegal. Medcom.id/Renatha Swasty
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Menembus Batas Literasi Sediakan Bacaan Bermutu di SLB Klik untuk baca: https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/GKdGam4k-menembus-batas-literasi-sediakan-bacaan-bermutu-di-slb
(REN)





