Kiai Miftach Singgung Yaumul Haraj, Minta Pengurus Aktif Beri Pencerahan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar (Kiai Miftach) mengingatkan jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026-2031 mengenai tantangan besar di era media sosial. Ia meminta para pengurus aktif memberikan pencerahan kepada umat.

Hal itu disampaikan Kiai Miftach dalam amanatnya pada Pelantikan PBNU 2026-2031 di Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (24/10).

"Kita di samping mohon doa kepada Allah atas anugerah yang besar semoga dipermudah, juga merupakan amanah yang besar, kita yang terpilih untuk mengemban amanah ini di awal abad yang... awal abad yang medsos sebegitu bebas-sebebasnya tanpa ada batas," kata Kiai Miftach.

Menurut Kiai Miftach, banyak orang saat ini mudah terpengaruh oleh berbagai informasi di media sosial tanpa mempertimbangkan tanggung jawab atas apa yang disampaikan.

"Banyak orang terpengaruh dengan medsos-medsos yang semacam ini tanpa ada tanggung jawab, dan itulah sudah digambarkan oleh Rasulullah," ujarnya.

Kiai Miftach kemudian menyinggung istilah yaumul haraj untuk menggambarkan situasi ketika manusia semakin sulit membedakan kebenaran dan kesalahan.

"Sampai digambarkan itulah yang dinamakan yaumul haraj," kata Kiai Miftach.

Ia juga menyinggung polemik sound horeg sebagai salah satu fenomena yang terjadi di masyarakat. Namun, menurutnya, persoalan tersebut masih kecil dibandingkan gambaran yaumul haraj yang ia maksud.

"Di luar ada kasus sound horeg, tapi itu masih kecil daripada yaumul haraj. Orang sudah sulit membedakan mana yang benar mana yang salah, tipis perbedaannya, banyak orang tergelincir karena ketipisan batas," ujarnya.

Kiai Miftach kemudian menyinggung istilah ruwaibidhoh, yakni orang yang dinilainya tidak mempunyai bekal yang cukup tetapi berbicara mengenai urusan umat.

"Maka di situ disebutkan akan keluar manusia-manusia yang disebut di situ manusia yang, manusia lemah tidak punya bekal tidak punya nilai tapi bicara tentang umat, itu disebut ruwaibidhoh, dan ini zamannya ruwaibidhoh," katanya.

Karena itu, Kiai Miftach menilai pengurus NU memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan pencerahan, termasuk kepada masyarakat yang mengkritik, meremehkan, atau bahkan menyerang NU.

"Maka kewajiban pengurus sekarang ini terus memberikan pencerahan, itu semua umat kita. Mereka yang terceloteh, mereka yang meremehkan, mereka yang mem-bully, mereka yang memojokkan, mereka yang menggoreng sampai gosong, itu umat kita," kata Kiai Miftach.

Ia meminta pengurus tidak menjauhkan kelompok tersebut, melainkan mencari cara agar mereka dapat kembali bersama-sama berkhidmat.

"Mari kita cari cara bagaimana mereka bisa kembali ke jalan yang benar, bisa bersama-sama berkhidmat untuk bagaimana para muassis ini senang dengan kita," ujarnya.

Kiai Miftach mengatakan di tengah NU terdapat apa yang ia sebut sebagai umat ijabah dan umat dakwah. Menurutnya, jajaran yang berada di struktur NU harus mampu merangkul masyarakat yang berada di luar struktur.

“Karena di tengah-tengah kita ini ada umat ijabah dan umat dakwah. Yang sudah menjadi struktur adalah mereka insya Allah kita pastikan umat ijabah, yang masih kultur kebanyakan, karena apa, anggota NU itu mulai dari qari sampai qorag," katanya.

Ia menegaskan pendekatan dakwah yang dilakukan harus merangkul, bukan memukul.

"Bagaimana qari-qari, qorag-qorag ini bisa menjadi qari, itu kewajiban kita, kemampuan kita, bagaimana cara kita berdakwah merangkul mereka tidak memukul, dan seterusnya dan seterusnya," ujar Kiai Miftach.

Kiai Miftach kemudian mengibaratkan kepengurusan PBNU saat ini sebagai tunas yang mulai tumbuh dan diharapkan semakin kokoh berakar.

"Oleh karena itu contoh Rasulullah dan para sahabat, dan itu tentu kita ada di dalamnya. Ndak apa-apa hari ini kita sebagai tunas yang mulai mekar mengeluarkan ranting-rantingnya, lalu kokoh di atas akar-akarnya, lalu menjadi kuat, dan menggembirakan para muassis-muassis ini," katanya.

Kiai Miftach pun mendorong kader-kader NU berperan aktif dalam berbagai lembaga dan ruang kehidupan berbangsa.

"Mari kita isi Indonesia ini, kita isi tempat-tempat lembaga-lembaga dan semuanya jangan diberi kosong dari kader-kader Nahdlatul Ulama," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tangis Wardatina Mawa Pecah di Ulang Tahun Anak, Mantan Istri Insanul Fahmi: Tahun Lalu Masih Sama Ayahnya
• 8 jam lalugrid.id
thumb
KDM Soroti Kas Bekasi Masih Rp 1 T: Ngapain Dikumpulkan, Tak Dibelanjakan?
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Taklukan Wakil China di Partai Final, Rina/Subhan Persembahkan Medali Emas Kedua dari Para Bulu Tangkis Asian Para Games 2026
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
84 Personel Damkar Berupaya Padamkan Kebakaran Rumah di Sawah Besar
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polda Kalsel Ungkap 18 Kasus Penyelewengan BBM Subsidi, Telusuri Dugaan Mafia
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.