Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dalam jangka panjang dapat memicu beragam penyakit paru-paru mendalam. Ancaman kesehatan paling fatal dari paparan polusi ini adalah kanker.
Hal itu disampaikan dr. Garinda Alma Duta, Spesialis Paru Konsultan yang juga anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Jawa Timur (PDPI Jatim), dalam diskusi daring yang digelar Rumah Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) Universitas Airlangga (Unair) pada Sabtu (24/10/2026).
dr. Garinda menjelaskan, asap karhutla mengandung berbagai senyawa toksik yang berbahaya jika terhirup, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, hingga Volatile Organic Compounds (VOC) atau senyawa organik mudah menguap.
“Semakin kecil ukuran partikel polutan, seperti PM 2.5, semakin mudah zat tersebut menembus saluran pernapasan. Partikel mikro ini tidak dapat disaring oleh sistem pertahanan alami tubuh di hidung maupun tenggorokan,” ujar dr. Garinda.
Ia menambahkan, jika warga terus-menerus menghirup polutan berbahaya tersebut, dampaknya tidak hanya sebatas gangguan pernapasan. Dalam jangka panjang, paparan asap ini dapat merusak sistem kardiovaskular, pencernaan, saraf, imunitas, hingga sistem reproduksi.
Lebih lanjut, dr. Garinda memaparkan bahwa zat berbahaya dari karhutla yang masuk ke tubuh dapat memicu stres oksidatif. Kondisi ini merangsang timbulnya inflamasi (peradangan) sekaligus menurunkan kadar enzim antioksidan alami tubuh.
Akibatnya, fungsi pembersihan mukosiliar—mekanisme alami saluran napas untuk mengeluarkan dahak dan kotoran—akan terganggu. Ketika fungsi mukosiliar rusak, dahak dan racun tertahan di dalam tubuh karena saluran pembuangannya tersumbat.
“Selain itu, paparan asap karhutla secara terus-menerus dapat menurunkan fungsi paru-paru secara drastis, terlebih jika sudah terjadi kerusakan organ sebelumnya,” jelasnya.
Oleh karena itu, dr. Garinda mengingatkan bahwa polusi udara merupakan salah satu silent killer (pembunuh senyap) di dunia kesehatan. Dampak fatal sering kali berawal dari keluhan ringan yang kerap diabaikan masyarakat.
“Proses masuknya polutan ke dalam tubuh biasanya diawali dengan gejala ringan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejala awal ini adalah pintunya. Jika tidak ditangani dengan benar dan dibiarkan berlarut-larut, dampak terburuknya bisa berujung pada kematian,” pungkasnya.(kir/bil/faz)




