Jakarta: Sejumlah negara pernah mengubah mata uangnya sebagai bagian dari kebijakan ekonomi.
Perubahan tersebut dapat berupa penggunaan mata uang bersama seperti euro, penggantian mata uang nasional, maupun redenominasi dengan mengurangi angka nol pada nominal uang.
Langkah tersebut dilakukan dengan tujuan yang berbeda, mulai dari mempererat integrasi ekonomi hingga menyederhanakan transaksi setelah inflasi membuat nominal harga semakin besar.
Meski demikian, redenominasi tidak otomatis meningkatkan daya beli masyarakat karena perubahan nominal tidak dengan sendirinya menambah nilai riil uang yang dimiliki.
Mengutip Vanguard News, berikut tiga contoh negara yang pernah mengubah mata uangnya. 1. Bulgaria Bulgaria mengadopsi euro pada 1 Januari 2026 dan menggantikan lev sebagai mata uang nasional. Perubahan ini menjadi bagian dari upaya negara tersebut menyelaraskan sistem moneternya dengan negara-negara zona euro.
Dengan bergabungnya Bulgaria, jumlah anggota zona euro bertambah menjadi 21 negara. Nilai tukarnya ditetapkan sebesar 1 euro setara dengan 1,95583 lev.
Penggunaan euro membuat transaksi Bulgaria dengan negara-negara lain di zona euro tidak lagi memerlukan konversi mata uang. Perubahan ini juga berlaku bagi kegiatan bisnis maupun perjalanan lintas negara di kawasan tersebut.
2. Zimbabwe Zimbabwe memperkenalkan mata uang baru bernama Zimbabwe Gold atau ZiG pada April 2024. Mata uang ini menggantikan dolar Zimbabwe setelah negara tersebut mengalami ketidakstabilan ekonomi dan pelemahan mata uang selama bertahun-tahun.
ZiG didukung oleh cadangan yang mencakup aset valuta asing dan logam mulia, termasuk emas. Pemerintah memperkenalkan mata uang tersebut sebagai bagian dari reformasi sistem moneter.
Pemerintah Zimbabwe menyatakan reformasi itu bertujuan mendorong stabilitas moneter dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan. Penerbitan ZiG merupakan penggantian mata uang, bukan sekadar penghapusan angka nol. 3. Venezuela Venezuela melakukan redenominasi bolívar pada Oktober 2021. Dalam reformasi tersebut, pemerintah memperkenalkan bolívar digital sebagai versi baru mata uang nasional.
Sebanyak enam angka nol dihapus dari nominal lama. Dengan demikian, 1 juta bolívar lama setara dengan 1 bolívar baru.
Langkah itu dilakukan setelah inflasi tinggi membuat harga barang dan transaksi sehari-hari menggunakan angka yang semakin besar. Redenominasi menyederhanakan nominal dalam pencatatan dan pembayaran, tetapi tidak dengan sendirinya meningkatkan daya beli masyarakat. (Razaqa Hariz)
Baca juga: Mata Uang 8 Negara ASEAN dan Perbandingannya dengan Rupiah




