Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak mengambil pendekatan konfrontatif terhadap Morgan Stanley Capital International (MSCI) di tengah kekhawatiran mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar saham domestik.
Menurut Dino, pemerintah sebaiknya memusatkan perhatian pada pembenahan pasar modal dan pemenuhan standar internasional daripada merespons penilaian MSCI dengan serangan terbuka maupun tudingan konspirasi.
Ia menilai sikap yang terlalu defensif justru berpotensi memperburuk persepsi investor global terhadap kredibilitas pasar modal Indonesia.
“MSCI bukan lawan yang harus kita tumbangkan, tapi wasit yang perlu kita dengar dan siasati,” ujar Dino melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Sabtu (24/10/2026).
Dino menjelaskan bahwa MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi salah satu acuan penting bagi investor internasional dalam menentukan penempatan dana di berbagai pasar keuangan.
Karena itu, penilaian lembaga tersebut memiliki pengaruh terhadap keputusan investasi, terutama bagi pengelola dana yang menggunakan indeks MSCI sebagai tolok ukur portofolio.
Menurutnya, MSCI berbeda dengan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), yang dalam pandangannya memiliki sejarah keterlibatan dalam kebijakan ekonomi negara-negara tertentu.
Dino menggambarkan MSCI sebagai organisasi nonpemerintah yang bekerja berdasarkan metodologi dan kriteria penilaian pasar.
Ia berpandangan bahwa Indonesia perlu memahami standar tersebut dan melakukan penyesuaian yang diperlukan agar tetap menarik bagi investor internasional.
Dino juga menyoroti penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Berdasarkan angka yang disampaikannya, bobot Indonesia pernah mencapai sekitar 2,6%, tetapi kini berada di kisaran 0,3%.
Ia membandingkan angka tersebut dengan sejumlah negara lain, yakni China sekitar 20%, India 11%, Korea Selatan 18%, serta Brasil 4,8%.
Perbedaan tersebut, menurut Dino, seharusnya menjadi bahan evaluasi mengenai posisi dan daya saing pasar saham Indonesia di tingkat global.
“Masalah MSCI ini bukan pertandingan adu jotos, bukan permainan gagah-gagahan, bukan juga siapa yang lebih nekat. Ini bukan pertandingan adu jotos. Pertarungan di dunia militer sangat beda dari permainan dunia finansial,” tegasnya.
Dino menekankan bahwa dinamika pasar keuangan tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan yang mengandalkan tekanan politik ataupun retorika konfrontatif.
Menurutnya, kepercayaan investor dibangun melalui kualitas tata kelola, transparansi, kepastian aturan, dan kemampuan pasar memenuhi standar yang digunakan secara internasional.
Sebagai perbandingan, Dino menyinggung pengalaman China yang sebelumnya menghadapi hambatan dalam memperoleh pengakuan lebih luas dari MSCI.
Ia menyebut China sempat mengalami penolakan selama tiga tahun berturut-turut sebelum akhirnya berhasil masuk dalam indeks pasar berkembang MSCI pada 2018.
Dino menilai pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya melakukan penyesuaian terhadap persyaratan penyedia indeks dibandingkan menolak hasil evaluasi.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan buzzer untuk menyerang MSCI tidak akan menyelesaikan persoalan mendasar yang menjadi perhatian investor.
“Jadi, percuma kita gagah hari ini dan sejuta buzzer dikerahkan untuk memaki-maki MSCI dan berteori konspirasi, tapi besok rupiah tumbang ke level Rp22.000, investor kabur, kepercayaan runtuh, ekspor anjlok, harga barang naik, daya beli melemah, rakyat sengsara, dan pemerintah pun bisa gawat,” kata Dino.
Pernyataan tersebut merupakan peringatan mengenai skenario risiko yang menurut Dino dapat terjadi apabila kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia memburuk, bukan proyeksi resmi nilai tukar rupiah.
Dino berpandangan bahwa investor global memiliki banyak pilihan negara dan instrumen investasi untuk menempatkan modalnya.
Di sisi lain, sejumlah pengelola investasi juga memiliki ketentuan internal mengenai klasifikasi pasar yang dapat memengaruhi keputusan alokasi dana.
Karena itu, perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi kategori Standalone Market, apabila benar-benar terjadi, dinilai dapat menimbulkan tantangan bagi upaya mempertahankan minat investor internasional.
Baca Juga: Dino Patti Djalal: Kepercayaan Investor Turun Imbas Polemik MSCI
Baca Juga: Dino Patti Djalal: MSCI Tak Mungkin Jadi Alat Singapura Rebut Aset Indonesia
Dino menegaskan bahwa sentimen nasionalisme tidak dapat menggantikan kebutuhan investor terhadap transparansi, kredibilitas, serta kepastian dalam berinvestasi.
Ia mengibaratkan persaingan menarik modal asing seperti menawarkan produk kepada konsumen yang memiliki berbagai alternatif dengan harga, kualitas, dan jaminan berbeda.
Menurutnya, investor akan mempertimbangkan kondisi dan kualitas pasar sebelum mengambil keputusan, terlepas dari narasi yang disampaikan oleh pemerintah maupun pelaku pasar.
Melalui analogi tersebut, Dino menekankan pentingnya meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia agar mampu mempertahankan kepercayaan investor.
“Tebak sendiri, pembeli akan pilih yang mana? Anda sendiri bagaimana?” ujarnya.





