Kode Merah bagi Orangutan di Indonesia

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Di hutan Batang Toru, Sumatera Utara, waktu terus berjalan bagi salah satu kera besar paling langka di dunia. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) hanya hidup di bentang hutan yang tersisa di kawasan itu. Ketika habitatnya terfragmentasi oleh aktivitas manusia dan bencana ekologis, masa depan spesies yang baru dikenali secara ilmiah pada 2017 ini semakin tidak pasti.

Peringatan tersebut disampaikan Mighty Earth dan Satya Bumi melalui laporan, yang diluncurkan dalam Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD COP 17) di Yerevan, Armenia. Mengusung tema Taking Action for Nature, konferensi ini menjadi momentum untuk meninjau kemajuan dunia dalam mencapai target keanekaragaman hayati global, termasuk menghentikan kepunahan spesies.

Laporan itu memperingatkan, tanpa intervensi segera dan terkoordinasi, orangutan Tapanuli berisiko menjadi spesies kera besar pertama pada era modern yang punah tak lama setelah keberadaannya diakui sebagai spesies tersendiri.

Populasinya diperkirakan hanya sekitar 658 individu di alam liar. Seluruhnya bergantung pada hutan hujan di Sumatera Utara, tanpa kawasan hunian alternatif jika benteng terakhir tersebut hancur. “Ini adalah kode merah untuk orangutan Tapanuli, spesies di ambang kepunahan tanpa rencana pemulihan. Bahayanya sudah di depan mata, tetapi kepunahan bukanlah hal yang tak terelakkan,” ujar Amanda Hurowitz, pemimpin program kera besar di Mighty Earth, dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).

Ia menambahkan, masih ada kesempatan untuk melindungi populasi yang tersisa, memulihkan hutan yang rusak, dan mengamankan masa depan bagi spesies luar biasa ini. "Namun, waktu untuk menyelamatkan mereka semakin sempit,” katanya.

Ketika bencana mempersempit rumah

Ancaman terhadap orangutan Tapanuli tidak datang dari satu arah. Pertambangan, pembangunan pembangkit listrik tenaga air, ekspansi pertanian, deforestasi, dan perburuan menekan habitatnya yang sudah terisolasi. Pembangunan dapat memecah bentang hutan menjadi kantong-kantong kecil, menghambat pergerakan individu, dan memperkecil peluang populasi untuk bertahan dalam jangka panjang.

Tekanan itu diperparah bencana ekologis. Pada November 2025, Siklon Senyar membawa hujan lebih dari 1.000 milimeter selama empat hari dan memicu banjir bandang serta longsor di Sumatera Utara.

Menurut laporan tersebut, lebih dari 8.300 hektar hutan di Ekosistem Batang Toru Barat rusak. Kerusakan itu diperkirakan mencapai 11,7 persen tutupan hutan di kawasan yang terdampak dan berpotensi mengancam hingga 58 orangutan Tapanuli, setara sekitar 7 persen populasi spesies tersebut.

Angka itu menggambarkan betapa rentannya populasi yang kecil dan terisolasi. Kehilangan puluhan individu bukan sekadar pengurangan jumlah satwa. Dalam populasi yang terbatas, setiap kematian dapat memperburuk keragaman genetik dan mengurangi peluang berkembang biak.

Studi pada 2021 yang dikutip laporan tersebut juga memperkirakan bahwa populasi orangutan Tapanuli telah menyusut 97,5 persen sejak 1890. Sementara itu, ekspansi tambang emas Martabe dan pembangunan PLTA Batang Toru menambah tekanan terhadap habitat dan koridor hutan yang menghubungkan kelompok-kelompok orangutan.

Profesor Serge Wich dari Liverpool John Moores University, yang turut membantu mengidentifikasi spesies ini, mengingatkan bahwa kegagalan menyelamatkannya akan menjadi cermin kegagalan manusia.

“Ini akan menjadi kegagalan fatal bagi umat manusia, komunitas konservasi, dan pemerintah. Dengan semua pengetahuan dan uang yang kita miliki di dunia, jika kita tidak dapat menyelamatkan spesies karismatik seperti ini, apa harapan bagi semua spesies lain yang kita pedulikan?” katanya.

Kalimantan: ancaman api di rumah orangutan

Di Kalimantan, orangutan menghadapi ancaman dengan wajah berbeda. Kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika musim kering memperburuk kondisi vegetasi dan gambut, dapat menghanguskan habitat, memisahkan kelompok orangutan, serta mengusir satwa ke kawasan yang lebih dekat dengan permukiman dan perkebunan.

Baca JugaBagaimana Karhutla Mengancam Orangutan dan Habitatnya?

Bagi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), api bukan sekadar ancaman sesaat. Kebakaran berulang dapat menghilangkan sumber pakan, merusak pohon-pohon tempat bersarang, dan membuat hutan yang tersisa semakin terfragmentasi. Orangutan yang lolos dari api pun menghadapi risiko kelaparan, konflik dengan manusia, hingga kematian ketika memasuki kawasan terbuka untuk mencari makanan.

Ancaman ini menjadi semakin penting ketika kebakaran terjadi di bentang hutan yang merupakan habitat orangutan. Api yang meluas dapat menghancurkan sumber makanan dan tempat berlindung dalam waktu singkat, sedangkan pemulihan hutan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Pada ekosistem gambut yang rusak dan mengering, kebakaran juga dapat berlangsung di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan.

Kondisi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara krisis iklim, pengelolaan lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Kekeringan dapat meningkatkan kerentanan hutan terhadap api, tetapi kebakaran berskala besar juga berkaitan dengan aktivitas manusia, pembukaan lahan, serta kondisi tata kelola kawasan. Karena itu, ancaman kebakaran tidak cukup dijawab dengan pemadaman ketika api sudah membesar. Perlindungan hutan, pencegahan pembukaan lahan dengan api, pengawasan konsesi, dan pemulihan ekosistem harus menjadi bagian dari strategi yang sama.

Di Batang Toru, ncaman utamanya bukan semata-mata kebakaran, melainkan penyempitan dan pemecahan habitat akibat pembangunan serta aktivitas ekstraktif, yang kini diperburuk bencana hidrometeorologi. Namun, kedua kasus memperlihatkan persoalan mendasar yang serupa: kelangsungan hidup orangutan bergantung pada keutuhan ekosistem, sementara keputusan pembangunan dapat menggerus ruang hidup yang mereka perlukan.

Ketiga spesies orangutan Indonesia , yaitu Sumatera (Pongo abelii), Kalimantan (Pongo pygmaeus), dan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) kini berstatus kritis atau Critically Endangered dalam daftar merah IUCN. Perbedaan ancaman di masing-masing habitat menuntut strategi konservasi yang sesuai dengan kondisi setempat, bukan pendekatan seragam yang mengabaikan penyebab kerusakan.

Sadam Afian Richwanudin, juru kampanye Satya Bumi, menyerukan agar komunitas internasional menggunakan momentum COP CBD untuk memperkuat perlindungan orangutan. “Dari deforestasi, bencana ekologis, hingga kebakaran hutan, populasi orangutan di Indonesia mengalami penderitaan terlalu banyak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia perlu memimpin koordinasi lintas pihak untuk menentukan masa depan orangutan Tapanuli. “Bagi mereka, tidak ada rumah kedua. Hutan Batang Toru adalah satu-satunya rumah mereka. Kita juga harus memastikan masyarakat lokal tidak tertinggal dalam upaya konservasi. Itulah mengapa kita harus memulihkan hutan mereka dan bertindak sekarang.”

Bukan sekadar mencegah kepunahan

Bagi para peneliti, menyelamatkan orangutan Tapanuli bukan misi yang mustahil. Pengalaman pemulihan gorila gunung di Afrika Tengah menunjukkan bahwa perlindungan habitat, pengawasan populasi, penegakan hukum, dan keterlibatan masyarakat dapat membantu memulihkan populasi kera besar yang terancam.

Namun, hingga kini, menurut Profesor Jatna Supriatna, Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources, Universitas Indonesia, belum tersedia satu rencana pemulihan terpadu yang dilengkapi target populasi, target habitat, dan pendanaan khusus untuk orangutan Tapanuli. “Sejujurnya saat ini masih belum ada rencana pemulihan tunggal dengan target populasi, target habitat, dan pendanaan khusus,” ujarnya.

Baca JugaPelajaran dari Orangutan

Ia mengakui bahwa kerja kolektif di lapangan telah dimulai melalui berbagai koalisi, termasuk kelompok kerja Batang Toru. Tantangannya adalah menyatukan upaya tersebut menjadi program yang terukur dan berkelanjutan.

“Kita tahu bahwa kepunahan bersifat permanen dan tidak ada teknologi yang dapat mengembalikan suatu spesies. Tugas kita sekarang adalah memperkuat kolaborasi antar mitra, termasuk pemerintah, OMS (Organisasi Masyarakat Sipil), masyarakat, dan pelaku usaha. Penting untuk mengkoordinasikan upaya di lapangan guna mencapai tujuan konservasi dan pemulihan kita.”

Baca JugaKarhutla Membuat Orangutan Berada dalam Kondisi Paling Berisiko

Laporan Mighty Earth dan Satya Bumi menyerukan enam langkah darurat. Pertama, melakukan survei terbaru untuk menghitung populasi yang masih bertahan, menilai kerusakan habitat, dan mencari kemungkinan populasi yang belum terdeteksi. Kedua, menghentikan kerusakan hutan sekaligus memulihkan koridor yang menghubungkan kelompok-kelompok orangutan.

Ketiga, memulihkan habitat di Batang Toru Barat yang rusak akibat siklon melalui regenerasi alami dan penanaman kembali. Keempat, mencegah kematian lebih lanjut akibat perburuan, konflik manusia-satwa liar, dan pembangunan. Kelima, menempatkan masyarakat adat dan lokal sebagai bagian utama upaya konservasi, termasuk melalui dukungan terhadap mata pencaharian berkelanjutan.

Keenam, menjamin pendanaan jangka panjang untuk membangun kembali populasi, bukan sekadar mempertahankannya agar tidak punah.

Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) telah menyerukan moratorium terhadap proyek-proyek yang mengancam habitat orangutan Tapanuli sampai rencana pengelolaan konservasi diadopsi. Mighty Earth dan Satya Bumi mendorong tindakan yang lebih jauh, yakni pemulihan habitat dan populasi melalui kerja bersama pemerintah, pelaku usaha, ilmuwan, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat setempat.

Kita tidak boleh membiarkan salah satu kerabat terdekat kita lenyap dari muka Bumi di bawah pengawasan kita.

Bagi Amanda Hurowitz, waktu untuk bertindak tidak dapat ditunda lagi. “Sangat memungkinkan untuk mengembalikan spesies kera besar dari ambang kepunahan dengan rencana pemulihan yang terkoordinasi, seperti yang telah kita lihat pada gorila gunung di Afrika Tengah. Waktu untuk bertindak bagi Tapanuli adalah sekarang. Kita tidak boleh membiarkan salah satu kerabat terdekat kita lenyap dari muka Bumi di bawah pengawasan kita,” katanya.

Peringatan itu melampaui nasib satu spesies. Ketika hutan terbakar di Kalimantan atau terfragmentasi di Batang Toru, yang hilang bukan hanya tempat tinggal orangutan, melainkan juga fungsi ekologis hutan dan kekayaan evolusi yang terbentuk selama jutaan tahun.

Tema Taking Action for Nature di COP CBD 17 menjadi ujian bagi komitmen global terhadap keanekaragaman hayati. Bagi orangutan Tapanuli, komitmen itu harus diterjemahkan menjadi perlindungan habitat, pemulihan populasi, dan pendanaan yang nyata. Di Kalimantan, komitmen yang sama harus diwujudkan melalui pencegahan kebakaran dan perlindungan hutan yang menjadi rumah orangutan.

Sebab, jika manusia baru bertindak setelah individu terakhir menghilang, tidak akan ada lagi hutan yang bisa mengembalikan spesies tersebut ke alam liar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ayah di Bandung Aniaya Anak hingga Tewas Usai Ribut soal Uang Judi Online
• 4 jam lalueranasional.com
thumb
Generasi Alfa Menjinakkan Akal Imitasi
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Kim Jong Un Kunjungi Kota Perbatasan China Lewat Jembatan Baru
• 6 jam laludetik.com
thumb
DLH DKI Buka 264 Loker Padat Karya, Catat Tanggal Pendaftarnya
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Meta Terancam Denda Rp452,6 Triliun, Ini Dampak Skandal Kebocoran Data Facebook bagi Pengguna
• 22 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.