Seorang guru honorer di Lebak, Banten, Nuraida (45), menemukan mainan 'squishy' dengan jarum suntik yang marak dimainkan sejumlah siswa di sekolah dasar tempatnya mengajar.
Penemuan itu awalnya dari salah satu siswanya yang disemprot air menggunakan jarum suntik tersebut hingga berteriak histeris.
"Saat itu, saya sedang mengumpulkan sampah di teras dan mendengar siswa kelas 3 berteriak-teriak serta berlarian ketakutan karena disemprot air oleh temannya. Saya melihat ada siswa yang menangis dan merasa kesakitan. Ternyata, mereka sedang bermain suntikan tersebut," kata Nuraida saat dihubungi, Sabtu (24/10).
Setelah mengetahui penyebab kegaduhan, Nuraida langsung memeriksa mainan yang digunakan para siswa. Ia juga menanyakan asal mainan tersebut kepada mereka.
Dari keterangan para siswa, mainan berbentuk suntikan itu dibeli dari seorang pedagang mainan yang berjualan di depan sekolah setiap pagi.
"Ternyata, siswa di semua kelas sudah memainkan suntikan tersebut," ujarnya.
Dijual Rp 3.000 oleh Pedagang Keliling
Nuraida menyebut mainan itu dijual seharga Rp 3.000 oleh pedagang mainan keliling yang biasa berjualan di depan sekolah. Bentuknya menyerupai alat suntik dan dilengkapi jarum, meskipun bagian ujungnya sudah rata dan tidak lagi runcing.
Kondisi ujung jarum tersebut tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran Nuraida terhadap keamanan mainan yang digunakan anak-anak.
"Mainan itu berbentuk seperti suntikan dan memiliki jarum, tetapi ujungnya sudah rata dan tidak runcing lagi. Menurut saya, meskipun jarumnya tidak runcing, mainan tersebut tetap menakutkan dan berpotensi melukai kulit atau bagian tubuh lainnya. Saya juga khawatir jarum tersebut merupakan bekas pakai tenaga kesehatan atau sejenisnya," kata Nuraida.
Kekhawatiran itu muncul karena mainan tersebut digunakan siswa untuk bermain bersama teman-temannya. Dalam kejadian yang ditemukan Nuraida, salah seorang siswa menyemprotkan air ke arah temannya hingga mengenai bagian pipi.
Siswa yang terkena semprotan kemudian berteriak histeris. Sementara itu, siswa lainnya ikut berlarian karena takut terkena air maupun jarum yang terdapat pada mainan tersebut. Meski sempat terjadi kegaduhan, Nuraida memastikan tidak ada siswa yang terluka saat ia menemukan kejadian itu.
"Saat saya menemukan mereka, tidak ada siswa yang terluka. Namun, ada siswa yang menyemprotkan air hingga mengenai pipi temannya. Temannya itu kemudian berteriak histeris sehingga saya mendengar kegaduhan tersebut. Siswa lainnya juga berlarian ketakutan karena disemprot air dan takut terkena jarumnya," tuturnya.
Guru Imbau Siswa Tak Beli Lagi
Setelah menemukan mainan tersebut, Nuraida mengingatkan para siswa agar tidak kembali membelinya. Ia juga mengimbau rekan-rekan guru untuk lebih memperhatikan barang yang dibawa anak didik ke sekolah, terutama mainan yang berpotensi membahayakan.
Nuraida mengatakan, ia telah menyampaikan kepada para siswa bahwa pihak sekolah akan melakukan razia dan menyita mainan tersebut apabila masih ditemukan dibawa ke sekolah.
"Sampai saat ini, saya mengimbau rekan-rekan guru untuk lebih waspada terhadap anak didik dan lebih peka jika ada anak yang membawa mainan berbahaya. Saya juga sudah mengingatkan siswa agar tidak membeli mainan tersebut lagi, dengan ancaman akan melakukan razia dan menyitanya jika masih ditemukan," katanya.
Namun, hingga saat ini, belum ada tindakan khusus dari pihak sekolah untuk menindaklanjuti temuan tersebut. Menurut Nuraida, pihak sekolah mungkin menilai imbauan kepada guru dan siswa serta razia yang telah dilakukannya cukup untuk sementara waktu.
"Dari pihak sekolah belum ada tindakan khusus terkait kejadian ini. Mungkin mereka merasa sudah cukup karena saya telah melakukan razia dan menasihati anak-anak agar tidak membeli mainan tersebut lagi. Ada juga orang tua yang langsung menghubungi saya setelah melihat status WhatsApp saya untuk menyampaikan dukungan terhadap tindakan tersebut," ujar Nuraida.
Nuraida juga belum sempat menindaklanjuti temuan itu secara langsung kepada pedagang yang menjual mainan tersebut. Setelah mendapat telepon dari orang tua siswa, ia bergegas menemui pedagang yang biasa berjualan di depan sekolah.
Namun, pedagang itu sudah tidak berada di lokasi karena telah melanjutkan aktivitas berjualan dengan berkeliling ke sekolah lain.
"Belum ada tindakan (ke pedagang), setelah saya ditelepon orang tua, saya langsung ke depan menemui pedagang ternyata sudah tidak ada karena keliling ke sekolah lain," kata dia.





