JAKARTA, DISWAY.ID – Kabut asap kiriman dari Sumatra berdampak pada kualitas udara di Singapura.
Meski hujan deras disertai petir membantu memperbaiki kondisi udara di sejumlah wilayah pada Sabtu, 24 Oktober 2026, indeks kualitas udara di negara tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat.
Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) menyebut, kabut asap yang menyelimuti Singapura sejak malam sebelumnya berasal dari Sumatra. Selain itu, asap juga terpantau berada di wilayah Kalimantan.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur sejumlah wilayah Singapura pada Sabtu sore membantu menurunkan konsentrasi partikel halus PM2.5.
BACA JUGA:18 Hari Udara Singapura Tercemar Kabut Asap dengan Indikator PSI 230, Pemerintah RI Harus Lebih Serius
Pada pukul 17.00 waktu setempat, kadar PM2.5 dalam pengukuran satu jam tercatat berada dalam rentang normal di empat dari lima wilayah Singapura.
Mengutip laporan media Singapura, AsiaOne, Sabtu, 24 Oktober 2026, konsentrasi PM2.5 terendah tercatat di wilayah utara, yakni 33 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Sementara itu, wilayah tengah mencatat angka 43 µg/m³, wilayah selatan 50 µg/m³, dan wilayah timur 53 µg/m³. Keempatnya masih masuk dalam rentang normal PM2.5, yaitu 0–55 µg/m³.
Namun, kondisi berbeda terlihat di wilayah barat. Konsentrasi PM2.5 di wilayah tersebut mencapai 97 µg/m³, melampaui rentang normal yang ditetapkan.
BACA JUGA:Singapura Bidik 10 Perusahaan RI soal Kabut Asap, Prabowo Balas Ancam Cabut Izin Usaha Asing!
PSI Singapura Masih dalam Kategori Tidak SehatMeski kadar PM2.5 per jam membaik di sebagian besar wilayah, kualitas udara Singapura secara keseluruhan belum sepenuhnya pulih.
NEA mencatat, indeks standar pencemar udara atau Pollutant Standards Index (PSI) dalam pengukuran 24 jam masih berada pada kategori tidak sehat di seluruh wilayah Singapura.
Angka PSI tertinggi tercatat di wilayah barat, mencapai 151. Berdasarkan klasifikasi yang digunakan NEA, PSI pada rentang 101–200 masuk kategori tidak sehat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi PM2.5 setelah hujan belum serta-merta menghilangkan dampak kabut asap terhadap kualitas udara.
Masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan indeks pencemaran sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
- 1
- 2
- »





