Temuan mainan squishy yang dilengkapi jarum suntik tajam di sebuah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Lebak, Banten, menjadi perhatian. Mainan tersebut ditemukan setelah seorang guru mendapati sejumlah siswa bermain menggunakan suntikan untuk menyemprotkan air ke temannya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap permainan tersebut. Ia menilai squishy berjarum berisiko membahayakan anak, terutama jika jarum suntik yang digunakan merupakan jarum bekas.
Yahya meminta pengawasan terhadap aktivitas bermain anak diperkuat. Ia juga mendorong sekolah melarang permainan tersebut di lingkungan pendidikan dan memberikan edukasi mengenai alternatif permainan yang lebih aman.
Guru di Lebak Temukan Squishy dengan Jarum Suntik TajamTemuan itu bermula dari pengalaman Nuraida (45), seorang guru honorer di Lebak, Banten. Saat berada di teras sekolah, ia mendengar keributan siswa kelas 3 SD yang berteriak dan berlarian ketakutan.
Nuraida kemudian melihat seorang siswa menangis dan merasa kesakitan setelah disemprot air oleh temannya menggunakan suntikan. Setelah memeriksa situasi, ia mengetahui para siswa sedang memainkan benda tersebut.
“Saat itu, saya sedang mengumpulkan sampah di teras dan mendengar siswa kelas 3 berteriak-teriak serta berlarian ketakutan karena disemprot air oleh temannya. Saya melihat ada siswa yang menangis dan merasa kesakitan. Ternyata, mereka sedang bermain suntikan tersebut,” kata Nuraida.
Setelah mengetahui kejadian itu, Nuraida memeriksa mainan yang digunakan para siswa dan menanyakan dari mana mereka mendapatkannya. Berdasarkan keterangan siswa, mainan berbentuk suntikan tersebut dibeli dari pedagang mainan yang berjualan di depan sekolah setiap pagi.
Temuan ini menjadi perhatian karena benda yang dimainkan anak-anak tersebut memiliki jarum yang berpotensi menyebabkan cedera. Risiko kesehatan juga perlu diwaspadai apabila jarum yang digunakan ternyata merupakan jarum bekas.
Waka Komisi IX DPR Minta Orang Tua Awasi Permainan AnakMenanggapi temuan tersebut, Yahya Zaini meminta orang tua lebih memperhatikan jenis mainan yang digunakan anak-anak mereka. Menurutnya, pengawasan keluarga diperlukan untuk mencegah anak terpapar risiko kesehatan akibat permainan yang berbahaya.
“Pertama, saya minta orang tua untuk mewaspadai dampak negatif dari permainan tersebut. Apalagi jarum suntik yang digunakan jarum bekas yang sangat berbahaya bagi kesehatan,” kata Yahya, Sabtu (24/10).
Yahya juga meminta orang tua melarang anak memainkan mainan yang tidak sehat dan berpotensi membahayakan. Ia menilai pencegahan perlu dimulai dari lingkungan keluarga agar anak memahami risiko dari benda yang mereka gunakan saat bermain.
Selain pengawasan orang tua, Yahya mendorong pemerintah mengawasi peredaran dan penggunaan mainan tersebut. Ia bahkan meminta pemerintah mempertimbangkan pelarangan apabila dinilai diperlukan untuk mencegah risiko terhadap anak.
“Ketiga, meminta pemerintah melakukan pengawasan yang ketat terhadap permainan tersebut, jika diperlukan melakukan pelarangan,” ujarnya.
Sekolah Diminta Larang Squishy Berjarum dan Beri EdukasiYahya turut meminta pihak sekolah melarang peserta didik memainkan squishy berjarum di lingkungan pendidikan. Menurutnya, sekolah perlu berperan aktif dalam mencegah penggunaan mainan berbahaya sekaligus memberikan pemahaman kepada siswa.
“Keempat, meminta sekolah melarang anak didiknya melakukan permainan tersebut karena sangat membahayakan. Dan memberikan edukasi dengan permainan yang mendidik dan konstruktif,” katanya.
Sekolah dapat memperkuat pengawasan terhadap barang yang dibawa siswa serta memberikan pemahaman tentang pentingnya memilih permainan yang aman. Edukasi juga diperlukan agar anak-anak tidak menganggap benda menyerupai alat medis sebagai mainan biasa, terlebih jika memiliki bagian tajam.
Yahya menegaskan kewaspadaan juga perlu melibatkan masyarakat. Ia meminta warga ikut memastikan anak-anak tidak menggunakan permainan yang berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan.
“Kelima, meminta masyarakat untuk mewaspadai dampak permainan tersebut bagi kesehatan dan menjauhkan anak-anaknya dari permainan tersebut,” tuturnya.





