New York: Perak menghadapi gejolak jangka pendek seiring bank sentral mempertahankan tekanan kebijakan moneter. Namun, menurut catatan riset dari UBS Global Wealth Management, harga perak diperkirakan akan mencapai USD80 per ons pada akhir 2027, didorong oleh meningkatnya permintaan untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) serta defisit pasokan struktural yang terus berlanjut.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh Chief Investment Office bank tersebut, pakar strategi UBS, Giovanni Staunovo, mencatat bahwa meskipun perak kembali mengalami tekanan jual, prospek jangka menengahnya tetap positif. Logam mulia ini terus bergerak mengikuti emas sebagai aset dengan beta yang lebih tinggi.
UBS memproyeksikan harga perak akan naik dari harga spot USD55,90 per ons pada 22 Oktober menjadi USD70,00 pada Desember 2026, kemudian terus meningkat menjadi USD75,00 pada pertengahan 2027, hingga mencapai USD80,00 pada September 2027.
"Perak terus berperilaku seperti versi emas dengan beta yang lebih tinggi; ia mendapatkan keuntungan, sekaligus menanggung kerugian, dari kekuatan makro yang sama dengan emas," tulis Staunovo dikutip dari Investing, Minggu, 25 Oktober 2026,
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan suku bunga riil, kekuatan dolar AS, dan pengetatan moneter akan terus memicu fluktuasi harga yang tajam.
Baca Juga :
Saham Korea Selatan Melonjak Berkat AI, Risiko Koreksi Tetap Membayangi(Ilustrasi. Foto: Freepik) Permintaan dari sektor AI dan otomotif mengimbangi efisiensi penggunaan perak Fundamental industri untuk perak menunjukkan tren yang berbeda-beda di berbagai pasar akhir. Harga yang tinggi telah mempercepat substitusi dan penghematan penggunaan perak, terutama di sektor tenaga surya fotovoltaik, sehingga Silver Institute memprediksi adanya kontraksi sekitar dua persen dalam total permintaan untuk kebutuhan industri pada 2026.
Namun, tekanan tersebut diimbangi oleh pertumbuhan jangka panjang yang didorong oleh ekspansi pusat data (data center), perangkat keras kecerdasan buatan (AI), investasi pada jaringan listrik, serta elektronik otomotif. Pasokan mempertahankan defisit tahunan keenam Dari sisi pasokan, aliran daur ulang sekunder memang meningkat sebagai respons terhadap harga pasar yang lebih tinggi, namun pertumbuhan total hasil tambang tetap kaku.
Mengingat sebagian besar perak diperoleh sebagai produk sampingan dari operasi penambangan timbal, seng, tembaga, dan emas, perusahaan tambang menghadapi kendala struktural dalam meningkatkan produksi secara cepat untuk memanfaatkan tingkat harga yang tinggi.
Akibatnya, UBS memproyeksikan pasar perak global akan mencatat defisit tahunan untuk keenam kalinya secara berturut-turut pada 2026.
Alih-alih mengejar kenaikan harga, UBS menyarankan investor untuk menerapkan strategi selektif, yakni memanfaatkan koreksi harga (pullback) yang dipicu oleh ekspektasi suku bunga untuk membangun posisi.
Bank tersebut mengidentifikasi kenaikan suku bunga yang berkepanjangan oleh bank sentral, perlambatan ekonomi global yang lebih tajam, serta substitusi industri yang lebih cepat sebagai risiko utama yang dapat menekan pergerakan harga.




