Di Balik Kandang Semarang Zoo, Ada Cinta dan Pengorbanan Para Perawat Satwa

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Bermula dari cinta pada hewan membawa sebagian besar perawat satwa di Semarang Zoo, Jawa Tengah, menjalani profesinya. Ada banyak kisah suka dan duka yang mereka jalani bersama satwa yang sudah dianggap seperti anak dan kerabat sendiri.

Cinta itu juga yang membawa Sam Malikul Mulki (25) tiba di Semarang Zoo sejak 2021. Di tiga tahun pertama, pria asal Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, ini ditempatkan di nutrisi satwa.

Hingga akhirnya tawaran menjadi perawat satwa karnivora pun tiba dua tahun lalu. Sam menerimanya itu dengan senang hati. Bersama dua rekannya, Sam merawat 11 satwa karnivora. Tujuh satwa di antaranya adalah harimau, satu singa, dan tiga beruang.

”Awalnya memang sempat takut, namanya berhadapan dengan hewan buas. Tapi, lama-lama terlatih, terbiasa jadi berani,” kata Sam saat ditemui, Kamis (22/10/2026).

Setiap hari, Sam mengatakan, berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB dan sejam kemudian tiba di Semarang Zoo. Tugasnya mulai dari membersihkan kadang, memberi makan dan minum, serta memandikan satwa-satwa sebelum dikeluarkan ke area pamer. Sebelum pulang pukul 15.00 WIB, ia harus memastikan satwa nyaman di tempat istirahatnya.

Sam mengatakan, proses pengenalan hingga akhirnya satwa karnivora bisa berinteraksi nyaman dengan perawatnya setidaknya membutuhkan waktu 2-5 bulan. Dalam masa itu, perawat akan mengamati aktivitas, kebiasaan, hingga sifat satwa.

Ia mencontohkan, saat bertemu orang baru, harimau dan singa biasanya akan meraung, sedangkan beruang menggeram. Hal itu dilakukan untuk mengintimidasi dan menunjukkan bahwa mereka tidak nyaman.

Sebaliknya, apabila sudah saling kenal, kebiasaan itu, kata Sam, terasa seperti ajakan berinteraksi. ”Saya paling dekat dengan harimau benggala betina bernama Manis. Dia baru tiga anak, dua jantan dan satu betina, sekitar tiga bulan lalu,” katanya.

Energi satwa

Sam mengatakan, dirinya menjadi saksi perjalanan hidup Manis. Mulai dari proses breeding atau pengembangbiakan, hamil, hingga akhirnya menyusui anak-anaknya.

”Melihat Manis beranak-pinak membuat saya terharu. Ada perubahan sikap pada Manis yang kini telah menjadi ibu. Saya melihatnya dia seperti ibu pada umumnya, mengasuh, melindungi, mengikuti bayi-bayinya ke sana-kemari,” ujarnya.

Akan tetapi, Sam mengatakan, kewaspadaan tetap tidak boleh kendur. Selamanya, hewan buas atau liar memiliki naluri untuk menyerang. Oleh karena itu, perawat karnivora tidak boleh beraktivitas sendirian. Minimal ada dua orang dalam satu tempat agar bisa saling mengawasi.

Sam mengatakan, sejauh ini, belum pernah berhadapan dengan masalah besar. Namun, dia tetap waspada apabila satwa yang ia jaga menunjukkan hal tidak wajar, seperti mendadak tidak napsu makan.

Biasanya, perubahan kondisi, seperti perubahan cuaca yang terlalu ekstrem rentan membuat satwa stres. Untuk itu, para penjaga satwa perlu memastikan asupan air untuk satwanya tercukupi.

Jika satwanya kembali nyaman, Sam akan mencoba kembali memberi makanan. Namun, jika belum berhasil juga, ia langsung berkonsultasi dengan dokter hewan.

”Kalau misalnya satwa itu sakit, saya tidak boleh menunjukkan kesedihan itu pada dia (satwa). Energi dari perawat satwa sering kali menular ke satwa. Intinya kita harus happy, jadi satwanya juga enjoy. Terus, kalau di luar sedang ada masalah, juga harus ditinggalkan dulu sementara. Nanti dipikirkan lagi kalau sudah selesai bekerja,” ucap Sam.

Anak sendiri

Farigitta (27), warga Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, juga sudah bercita-cita menjadi perawat satwa sejak duduk di bangku SMA. Sejak kecil, perempuan yang karib disapa Gitta itu juga sudah akrab dengan berbagai jenis binatang karena mendiang ayahnya merupakan dokter hewan.

Pada tahun 2023, lulusan Ilmu Peternakan Universitas Diponegoro ini lantas melamar ke Semarang Zoo. Sempat diterima di bagian lain, Gitta berjodoh dengan mimpinya pada Februari 2026. Tugas pertamanya di bagian animal show atau satwa pertunjukan.

Bersama tiga penjaga satwa lainnya, Gitta bertanggung jawab atas 17 satwa. Mulai dari burung, iguana, binturong, kucing, musang, otter, dan anjing. Satu kakatua bernama Alvin menjadi satwa yang dekat dengan dia.

”Dia itu moody banget, jadi harus dijaga supaya tetap stabil, apalagi dia, kan, harus show. Dia juga pemilih, tidak bisa dekat dengan semua keeper, cuma mau anteng kalau saya yang pegang,” kata Gitta.

Apabila Gitta akrab dengan Alvin, Desi Natalia (22) berkawan dengan seekor iguana bernama Nana. Nana juga dikenal pemilih.

”Saking dekatnya, sudah saya anggap seperti anak sendiri. Kalau dia sakit, saya pasti khawatir, langsung cari dokter, minta supaya ditangani. Terus kadang di rumah, saya suka kepikiran, gimana kondisinya Nana,” ucap Desi yang sebelumnya pernah menjadi perawat lumba-lumba di Beach Safari Batang.

Sejauh ini, Gitta atau Desi merasa baik satwa maupun perawat mendapat kesejahteraan serupa meski tak sama. Satwa, misalnya, diberi makan dan minum yang cukup serta di tempatkan di lokasi yang dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya.

Adapun perawat memiliki jam kerja yang layak. Setiap hari mereka bekerja dari pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB dan diberi waktu satu jam untuk beristirahat. Dalam sepekan, para penjaga satwa mendapatkan satu hari libur.

”Jam kerjanya menurut kami bagus, diberi hari libur dan bisa cuti juga. Jaminan kesehatan dan keselamatan kerja juga ada. Lalu, untuk gaji, menurut kami cukup, karena sudah sesuai dengan upah minimum,” ujar Gitta.

Namun, Gitta dan Desi tetap berharap terus ada peningkatan fasilitas di Semarang Zoo untuk menunjang kenyamanan pengunjung maupun para pekerjanya. Penambahan fasilitas yang diharapkan, seperti toilet yang aksesnya lebih dekat dan shelter atau tempat istirahat bagi penjaga satwa.

Sedih saat sakit

Selain para perawat satwa muda, Semarang Zoo juga digawangi penjaga satwa senior dengan jam terbang yang tinggi. Sukidi (47), misalnya, merawat onta sejak tahun 2000. Setelah 24 tahun bekerja di Taman Satwa Taru Jurug yang belakangan bertransformasi menjadi Solo Safari, Sukidi pindah ke Semarang Zoo dua tahun lalu.

Di Semarang Zoo, Sukidi bersama dua orang lainnya bertanggung jawab terhadap satwa-satwa herbivora, yakni rusa, domba, dan unta. Namun, Sukidi biasanya lebih banyak fokus ke unta. Di sela-sela waktu longgarnya, ia ikut mengurus rusa dan domba.

Puluhan tahun bekerja sebagai penjaga satwa, Sukidi mengalami banyak suka dan duka. Ia paling suka ketika melihat satwanya tumbuh dengan sehat dan beranak-pinak. Momen sedihnya saat satwa sakit atau mati.

”Waktu masih di Solo saya dua kali ditinggal mati oleh satwa yang saya jaga, satu di tahun 2021 dan yang satunya di tahun 2022. Yang satu itu mati karena sakit, kemudian satunya itu karena sudah tua, sekitar 35 tahun usianya. Waktu itu saya sedih sekali, sampai kepikiran berhari-hari. Sampai sekarang, masih sering teringat,” kata Sukidi.

Di Semarang Zoo, Sukidi paling dekat dengan unta bernama Momo. Sebab, pertemuan Sukidi dengan Momo sudah terjadi jauh sebelum dirinya pindah ke Semarang Zoo. Awal pertemuan itu terjadi ketika Sukidi memberikan pelatihan bagi para penjaga unta di Semarang Zoo beberapa tahun sebelumnya.

Sejauh ini, Sukidi menyebut, Semarang Zoo sebagai kebun binatang di perkotaan sudah cukup baik. Namun, ia berharap peningkatan bisa terus dilakukan.

Baca JugaPara ”Ibu” dan Bule Perawat Orangutan Kalimantan

Salah satunya dengan menanam lebih banyak pohon untuk membuat kebun binatang itu lebih rindang. Sebab, Semarang yang berada di wilayah pesisir memiliki suhu udara yang cukup panas dan lembab.

”Saya juga berharap, ada kandang khusus buat unta-unta ini, kalau bisa di tempat yang tertutup. Unta ini kan juga seperti manusia, terkadang ingin menyepi, tidak terlihat oleh siapa pun. Kandang yang ada saat ini masih terbuka dan jadi satu dengan kandang untuk wahana naik unta,” ucapnya.

Direktur Semarang Zoo Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengatakan, total ada 32 perawat satwa. Mereka bertanggung jawab menjaga dan merawat 263 satwa dari 54 spesies.

Menurut Bimo, setiap penjaga satwa memiliki tanggung jawab jumlah satwa yang berbeda-beda, ada yang satu satwa satu orang, satu spesies satu orang, dan ada pula satu orang yang menjaga lebih dari satu spesies.

”Misalnya seperti gajah itu, satu orang bisa pegang satu karena ada tiga gajah dan tiga animal keeper. Tapi, kalau seperti burung itu, satu orang bisa pegang banyak. Tergantung kebutuhannya,” katanya.

Lima ”freedom”

Penjaga satwa di kebun binatang yang merupakan salah satu BUMD Pemerintah Kota Semarang ini, disebut Bimo, berasal dari berbagai latar belakang pendidikan maupun usia. Biasanya, mereka akan dibekali keterampilan menjaga dan merawat satwa sebelum bertugas menjadi penjaga satwa.

Di Semarang Zoo, para penjaga satwa diberi pengertian untuk bisa menerapkan lima freedom bagi para satwa. Lima freedom itu, terdiri dari bebas dari kehausan, bebas dari kelaparan, bebas dari stres, bisa hidup seperti di alam liar, dan bisa beranak-pinak atau berkembang biak.

Mayoritas penjaga satwa di Semarang Zoo, disebut Bimo, berstatus sebagai pegawai tetap. Sebagian yang masih berstatus sebagai pegawai kontrak disebut Bimo dalam tahap evaluasi. Setelah satu hingga dua tahun bekerja, statusnya bakal ditingkatkan menjadi pegawai tetap.

Meski sebagian besar tinggal di luar kebun binatang, ada juga beberapa penjaga satwa yang tinggal di mes karyawan. Mereka yang akan melakukan respons cepat jika ada persoalan pada para satwa di kebun binatang tersebut.

Tidak bisa jauh

Salah satu yang tinggal tidak jauh dari satwa yang dirawatnya adalah Amsar (44), perawat senior gajah. Ia harus siap siaga dipanggil kapan saja saat dibutuhkan.

”Biarpun kami sudah di rumah, kami tetap siaga. Jadi kalau ada masalah sama gajah, nanti satpam akan telepon dan kami akan langsung meluncur ke sini,” ucap Amsar.

Kesiapsiagaan itu tidak lepas dari pengalaman panjang Amsar merawat gajah. Berbekal pelatihan di Pusat Latihan Gajah Minas di Riau periode 2000-2003, dia bekerja sebagai mahout di Taman Safari Indonesia di Bogor hingga tahun 2021.

Selanjutnya, Amsar pindah ke balai konservasi gajah bernama Elephant Flying Squad di bawah PT Riau Andalan Pulp and Paper. Baru di tahun 2024, lelaki asal Riau ini memulai perjalanannya bekerja di Semarang Zoo.

”Di sini ada tiga gajah dan tiga mahout, tapi saya tugasnya lebih banyak menjaga Zella. Gajah ini umurnya 44 tahun, dulu asalnya dari Way Kambas, terus sempat dibawa ke Borobudur. Kemudian, 3 tahun terakhir dipindahkan ke sini,” ujar Amsar.

Amsar mengatakan, perawatan gajah tidak berbeda dengan satwa lain, mandi dan makan sebelum diantar ke ruang pamer. Namun, saat kemarau atau ketika Semarang sedang panas-panasnya, gajah akan dibawa dari ruang pamer masuk lagi ke kandang sekitar pukul 11.30 WIB.

Di kandang, gajah kembali dimandikan dan diberi makan serta minum. Saat cuaca sedang panas, gajah-gajah di Semarang Zoo bisa mandi hingga tiga kali dalam sehari.

”Biarpun kulit mereka tebal, mereka itu sensitif sekali dengan cuaca panas. Jadi, kami harus rajin-rajin memandikan supaya mereka tetap nyaman, tidak kepanasan,” katanya.

Amsar mengaku, berhadapan dengan satwa berukuran besar membuatnya rentan. Ia harus bisa mengantisipasi perubahan sikap dan gerak-gerik satwa yang dijaganya supaya tidak membahayakan.

Sejauh ini, dia mengatakan, telah mendapat jaminan keselamatan kerja dan kesehatan. Namun, ia masih berharap naik gaji. Saat ini, gajinya setara upah minimum Kota Semarang, sekitar Rp 3,7 juta per bulan.

”Ternyata itu cuma cukup untuk hidup sehari-hari, hampir tidak bisa menabung. Jadinya, sudah dua tahun ini saya tidak bisa pulang kampung karena tidak ada ongkos, tiketnya mahal,” ujarnya.

Baca JugaDari Hutan ke Layar Gawai: Cerita Mahout di Tengah Krisis Gajah Sumatera


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
9 Perusahaan Sedang Antre IPO, Ini Bocoran BEI
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Yusril: Perubahan Definisi Korupsi Perlu Dikaji Secara Hati-Hati
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Prof. Muryanto Amin Pimpin ICMI Sumut, Perkuat Kontribusi Cendekiawan untuk Umat
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Jadwal Final French Open 2026: Ubed Satu-satunya Wakil Indonesia, Hadapi Christo Popov Diperebutan Gelar
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Tukang Parkir di Pasar Induk Caringin Bandung Tewas Dikeroyok 30 Orang Bersenjata Tajam
• 8 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.