jpnn.com, JAKARTA - Perjuangan panjang melawan kebakaran hutan di Gunung Sumbing akhirnya membuahkan hasil setelah seluruh titik api dinyatakan padam seratus persen.
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita keringat dan kerja keras para petugas serta relawan yang tak kenal lelah melakukan pemadaman.
BACA JUGA: Kebakaran Gunung Sumbing Sudah Dipadamkan, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Percepat Rehabilitasi
Mereka berjibaku malakukan pemadaman dengan peralatan seadanya.
Salah satunya diceritakan oleh Jumari atau akrab disapa Petruk saat ditemui di Basecamp Pendakian Bimawari, Minggu, 25 Oktober 2026.
BACA JUGA: Gubernur Jateng Ingin Pemerataan Pendidikan Sampai di Lereng Gunung Sumbing dan Merbabu
Sosok yang juga Wakil Ketua Basecamp Bimawari di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, itu merupakan salah seorang relawan yang ikut memadamkan api saat kebakaran di Gunung Sumbing.
Jumari menuturkan begitu mendapat kabar kawasan Gunung Sumbing di sisi wilayah Wonosobo terbakar, ia bersama rekan-rekannya di Basecamp Pendakian Bimawari langsung bergerak cepat.
BACA JUGA: Nekat Terabas Gunung Sumbing saat Pandemi, Doni Tata Dihukum Nenanam 500 Pohon
Apalagi saat mendapat kabar bahwa api mulai menjalar ke sisi wilayah Temanggung.
"Mulai kebakaran itu kan jam 4 sore hari Senin. Di sini dapat kabar dari Wonosobo. Jadi, hari Selasa itu kami melakukan penyisiran pendaki yang di atas atau di Segoro Wedhi. Lalu hari Rabu kami mengamankan aset dahulu seperti patok (penanda) dan CCTV di sepanjang rute pendakian," ujarnya memulai cerita.
Setelah itu, pada Kamis, 22 Oktober 2026, personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Batursari untuk memadamkan titik api di sana.
Selanjutnya pada Jumat, 23 Oktober, personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Banaran untuk memadamkan api di Jalur Cepit dan Glapansari.
"Lalu pada hari Sabtu api sudah padam semua dan kami melakukan pendinginan di Segoro Wedhi," katanya.
Jumari menyampaikan pemadaman api di Gunung Sumbing tidak mudah karena menghadapi beberapa kendala.
Di antaranya angin kencang yang membuat titik api mudah menjalar, kemudian medan terjal yang ada di titik kebakaran. Selain itu juga sarana memadamkan api yang masih menggunakan cara manual.
"Proses pemadaman kami bersifat manual, pakai kayu," tuturnya.
Jumari juga menuturkan bahwa kebakaran Gunung Sumbing pada 2026 ini bukan yang pertama kali.
Sebelumnya juga pernah terjadi kebakaran besar yang melanda Gunung Sumbing pada 2019.
Kepala Desa Wonosari Agus Parmuji menuturkan, kebakaran di Gunung Sumbing memiliki siklus delapan tahun sekali.
Maka dari itu, dia meminta kepada Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan stakeholder terkait untuk menyiapkan infrastruktur di wilayah Gunung Sumbing.
"Kalau bisa dibuatkan embung di kawasan Perhutani, karena untuk minum saja kadang susah waktu kemarau. Lalu jalur penyelamatan untuk percepatan pemadaman api," katanya.
Seorang warga Desa Wonosari, Muhadi, juga meminta agar ada bantuan infrastruktur dan beberapa alat yang bisa dikelola oleh masing-masing basecamp di wilayah Gunung Sumbing. Di antaranya drone untuk memantau titik api dan jalur untuk mempercepat pemadaman api.
"Jadi, kami minta beberapa alat agar kami dapat memetakan lebih awal, tidak hanya soal kebakaran tetapi juga hal lain termasuk pencarian kalau ada pendaki yang hilang atau tersesat," ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menyatakan kebakaran di Gunung Sumbing sudah padam.
Dia juga meminta seluruh instansi terkait, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan relawan untuk tetap waspada.
Pantauan dan evaluasi harus dilakukan secara tepat agar tidak terulang kembali.
Menurut Luthfi, evaluasi dampak bencana kebakaran tersebut sangat penting.
Data harus faktual dan tepat. Mulai dari dampak lingkungan berkaitan dengan vegetasi, hewan liar, hingga luasan petak yang terbakar di wilayah Wonosobo, Magelang, dan Temanggung.
Saat ini tim di kawasan Sumbing diminta melakukan evaluasi, patroli, dan mempercepat rehabilitasi pasca-kebakaran.
Dia menyebut banyak pipa yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery (pulihkan).
Kemudian melakukan reboisasi pascabencana. Beberapa masyarakat mengusulkan untuk diberikan tanaman-tanaman yang siap untuk direboisasi kembali.
"Reboisasi kami lakukan bersama," kata Luthfi seusai meninjau dan bertemu dengan relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu, 25 Oktober 2026.
Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah melakukan pencegahan dengan menggencarkan imbauan kepada masyarakat agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.
Dia mencontohkan imbauan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sembarangan di wilayah gunung, dan lainnya.(jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




