Didirikan oleh mantan produser veteran Capcom, Hiroyuki Kobayashi, dan disutradarai oleh Eiichiro Sasaki—nama-nama besar di balik seri Devil May Cry dan Resident Evil 6—studio ini memilih jalur yang unik.
Mereka meracik sebuah 3D Action RPG berbalut struktur roguelite dungeon crawler yang kental akan semangat pop-punk akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an. Perpaduan humor slapstick, desain karakter berwarna, dan aksi hack-and-slash yang liar membuatnya tampil beda, lengkap dengan sentuhan komedi romantis zombie. Di balik kemasannya yang meledak-ledak, apakah Stupid Never Dies mampu menyajikan gameplay yang solid?
Kisah Cinta Konyol di Ujung Kehancuran Premis cerita Stupid Never Dies terdengar sangat absurd sejak menit pertama, tetapi justru di situlah letak daya tarik utamanya. Dunia dalam game ini dikisahkan telah porak-poranda akibat perang besar antara manusia melawan pasukan monster pimpinan KOM (King of Monsters. Setelah umat manusia nyaris musnah dan berubah menjadi mayat hidup, KOM membawa seluruh kasta monster turun ke ruang bawah tanah raksasa bernama Underworld, meninggalkan para zombie di permukaan bumi karena dianggap sebagai kasta terendah yang lemah.
Kita berperan sebagai Davy, zombie remaja pengecut yang bersembunyi di sebuah mal terbengkalai bergaya era 80-an. Nasib Davy berubah ketika ia menemukan Julia, seorang mahasiswi manusia yang membeku di dalam freezer toko saat bersembunyi dari perang monster, dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dalam keadaan lapar, Davy tanpa sengaja menelan Phoenix Egg yang sedang diteliti oleh Dr. Frank Steiner—ilmuwan cyborg nyentrik bergaya mirip Doc Brown—bersama kelompok pemberontak anti-KOM. Dr. Steiner akhirnya membujuk Davy yang polos bahwa Julia bisa dihidupkan kembali jika ia terjun ke Underworld (dengan menyiram dirinya ke dalam lubang toilet mal) dan mengalahkan KOM.
Meskipun sebagian karakter Julia hanya menjadi objek beku sepanjang cerita, perkembangan kepercayaan diri Davy serta interaksi konyol bersama karakter pendukung di mal—seperti Acerino sang were-Chihuahua, Doyle si gargoyle pelupa, dan Bessie si zombie penjual burger—terasa sangat menghibur. Sayangnya, arahan pengisian suara (voice direction) untuk para zombie di area mal dibuat terlalu lambat dan menyeret, sehingga lama-kelamaan terasa cukup mengganggu.
Mekanik Style Eat Tanpa Lock-On Begitu masuk ke Underworld, gerakan Davy berubah jauh lebih lincah dibandingkan saat berada di mal. Inti pertarungan bertumpu pada kekuatan Phoenix Egg bernama Style Eat. Mengalahkan musuh bertanda khusus akan menjatuhkan Core yang bisa dimakan Davy untuk bertransformasi menjadi monster tersebut. Pemain dapat menyimpan maksimal dua wujud transformasi (Styles) sekaligus di luar wujud zombie dasar.
Setiap monster menawarkan mekanik tempur dan eksplorasi yang unik. Werewolf mengandalkan serangan jarak dekat cepat dan wall-bouncing, sedangkan Cyclops memiliki pukulan berat yang mampu menghancurkan tembok rahasia. Harpy menembakkan proyektil bulu serta membuka kemampuan double jump dan glide untuk menjangkau pelataran tinggi. Lich berfokus pada sihir jarak jauh dan memanggil pasukan tengkorak, sementara Snow Fairy membekukan lawan dengan pedang es yang memanjang.
Setiap Style hanya bertahan selama tiga lantai (floors) sebelum kadaluarsa, dan tiap Core memberikan satu dari lima active skill secara acak . Aturan ini memaksa pemain terus berganti gaya bertarung secara dinamis. Keputusan meniadakan tombol dodge universal pada wujud dasar zombie serta absennya hard lock-on membuat kontrol awal terasa kaku layaknya game aksi era PS2.
Pemain harus mengandalkan Stupid Parry untuk menangkis serangan musuh yang berkedip kuning dan membalasnya dengan Stupid Impact, lalu menggigit musuh demi memulihkan HP sesuai kapasitas Bite Gauge. Tanpa hard lock-on, Davy kerap salah menggigit kerumunan musuh biasa yang tidak memulihkan HP saat situasi sedang kacau.
Tekanan 12 Menit dan Blazing Fast Growth Eksplorasi Underworld terbagi dalam berbagai Layer, terdiri dari lantai reguler dan lantai Gatekeeper battle) yang melintasi beragam bioma sejarah kreatif, mulai dari Romawi Kuno saat letusan Gunung Vesuvius di Pompeii, Eropa Abad Pertengahan, Era Viking, hingga Jepang zaman Edo. Menariknya, setiap run dibatasi waktu ketat sekitar 10 hingga 12 menit yang ditunjukkan lewat boneka beruang (teddy bear) di layar HUD.
Jika waktu habis sebelum keluar dari safe landing area, petualangan dianggap gagal. Mekanik ini memaksa pemain cermat memilih antara menghabisi musuh demi EXP atau berlari cepat menuju lantai berikutnya.
Kegagalan tidak pernah terasa sia-sia berkat sistem Blazing Fast Growth. Setiap selesai run, pengali poin pengalaman (EXP Multiplier) Davy akan meningkat drastis hingga mencapai x1000, membuat Davy bisa langsung naik puluhan level di percobaan berikutnya serta membuka opsi melewati lantai awal. Kustomisasi juga didukung oleh Zombie Receipts (pilihan skill pasif saat naik level), empat slot Over Technology (OT) Parts, mode power-up Davy Burst dari hasil memberi hadiah pada Julia, serta opsi aksesibilitas Go Nuts Mode yang melipatgandakan kekuatan Davy jika pemain merasa kesulitan.
Tempo permainan Stupid Never Dies terasa sangat lambat pada lima hingga tujuh jam pertama. Ini karena game terus membatasi jarak eksplorasi demi pemicu cerita, sebelum akhirnya benar-benar bebas saat mencapai Layer 10.
Selain itu, membuka terlalu banyak Zombie Receipts justru mencemari pool upgrade acak karena tidak adanya fitur menonaktifkan skill yang kurang berguna. Sistem mata uang yang dipecah-pecah secara berlebihan, mekanik fast travel di mal yang mengharuskan kamera menatap fisik lokasi tujuan, lagu bonus yang tidak bisa dipakai di dungeon, hingga misi grinding mengumpulkan 30 item acak menjelang tamat juga mengurangi kenyamanan bermain.
Beruntung, segala celah tersebut tertutupi oleh presentasi audiovisual yang luar biasa. Mengandalkan Unreal Engine 5, visual cel-shaded yang dipadukan dengan sinematik bergaya papercraft dan kultur MTV era 90-an tampil sangat memikat. Musik punk-rock dan remix tiap boss juga sukses memompa adrenalin.
PLATFORM: PC, PS5 DEVELOPER: GPTrack50 PUBLISHER: Sega TANGGAL RILIS: 21 Oktober 2026 GENRE: Action-RPG, Roguelike
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Stupid Never Dies adalah karya debut yang berani, nyentrik, sekaligus tidak sempurna. Keputusan memangkas fitur lock-on dan dodge dasar serta lambatnya tempo awal memang menjadi kekurangan. Namun, game ini menyuguhkan aksi roguelite keren dan ledakan progresi yang sangat menghibur.
9
Stupid Never Dies
Plus
- Visual pop-punk era 90an berkarakter
- Mekanik Style Eat
- Soundtrack keren
- Progresi level seru
Minus
- Tak ada lock on target
- Tempo awal permainan terasa lambat
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Stupid Never Dies, Game Pop-Punk Gaya Klasik Nyentrik Klik untuk baca: https://www.medcom.id/teknologi/game/Dkq1yzek-stupid-never-dies-game-pop-punk-gaya-klasik-nyentrik
(MMI)





