jpnn.com, JAKARTA - Menjadi santri bukan sekadar identitas yang melekat selama menempuh pendidikan di pesantren, melainkan amanah yang harus dijaga sepanjang hayat.
Santri memiliki tanggung jawab untuk menjaga akhlak, memperluas pengetahuan, dan mengambil peran dalam membangun peradaban umat serta bangsa.
BACA JUGA: 75 Santri Sekolah Cendekia Baznas Tuntaskan Hafalan 30 Juz Al-Qurâan
Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie, M.A., (Dubes RI untuk Azerbaijan periode 2016-2020,) saat menerima penghargaan kategori Santri Diplomat Inspiratif dalam ajang Anugerah Santri of The Year 2026 di Graha Jalapuspita, Jakarta Pusat, Minggu (25/10/2026).
Husnan dalam sambutannya menegaskan tanggung jawab seorang santri tidak berhenti setelah meninggalkan pesantren atau memasuki dunia profesi.
BACA JUGA: Hari Santri 2026, Bamusi Luncurkan Majelis Mega Zikir di Masjid At-Taufiq
Justru, semakin luas ruang pengabdian yang dimiliki, semakin besar pula amanah yang harus dijalankan.
"Seorang santri akan terus menjadi santri hingga liang lahat. Bebannya akan terus bertambah karena ia membawa amanah dan harapan bagi peradaban umat Islam,” ungkapnya.
BACA JUGA: Kado Hari Santri, Universitas Sunan Gresik Siapkan 25 Beasiswa Kedokteran Gigi untuk Santri
Menurut Husnan, santri dan pesantren merupakan benteng pertahanan peradaban umat.
Oleh karena itu, santri harus mampu menjaga nilai-nilai pesantren sekaligus mengembangkan kapasitas intelektual agar dapat berkontribusi di tengah masyarakat.
Dia menekankan santri tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama. Santri juga perlu mengembangkan wawasan dan kemampuan berpikir, tanpa meninggalkan akhlakul karimah sebagai landasan dalam menjalani kehidupan.
“Santri adalah orang-orang yang selalu menjaga akhlakul karimah, ruh dan jiwanya, serta memiliki pengetahuan yang luas,” tuturnya.
Husnan juga mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang santri melekat di mana pun ia berada. Baik ketika mengabdi di lingkungan pesantren maupun berkiprah dalam pemerintahan, diplomasi, pendidikan, atau bidang profesi lainnya, santri tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat.
“Santri di mana pun berada harus bertanggung jawab di mana pun kakinya berpijak. Santri ikut membangun kehidupan dan peradaban umat pada masa yang akan datang,” lanjutnya.
Dari Pesantren ke Dunia Diplomasi
Husnan Bey Fananie merupakan cendekiawan Muslim, diplomat, dan pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Ia lahir di Jakarta pada 13 November 1967 dan merupakan cucu KH. R. Zainuddin Fananie, salah satu tokoh pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dia menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, pada 1982–1986, kemudian melanjutkan pendidikan di Institut Pendidikan Darussalam Gontor.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke Pakistan, tempat ia mempelajari bahasa, sejarah, studi Islam, dan ilmu politik.
Dia kemudian meraih gelar Master of Arts dari Rijksuniversiteit Leiden, Belanda, serta gelar doktor bidang Politik Islam dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada 2015.
Pengalaman pendidikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Husnan dalam menekuni berbagai bidang, mulai dari pendidikan dan jurnalistik hingga pemerintahan dan diplomasi.
Dia pernah menjadi anggota Komisi I DPR RI Periode 2012–2014 dan penasihat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas pada 2021–2024.
Dalam bidang diplomasi, Husnan pernah dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Azerbaijan pada periode 2016–2021.
Dia juga dikukuhkan sebagai profesor kehormatan oleh Azerbaijan University of Languages pada 2018 atas kontribusinya di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Selain kiprah di tingkat nasional dan internasional, Husnan tetap terhubung dengan dunia pesantren. Ia tercatat sebagai anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ilmi Indonesia di Depok.
Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana pendidikan pesantren dapat menjadi bekal untuk berkiprah dalam beragam bidang. Bagi Husnan, luasnya ruang pengabdian itu harus tetap diiringi tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai yang ditanamkan selama menjadi santri.
Hidup yang Berarti bagi Keluarga, Bangsa, dan Agama
Dalam sambutannya, Husnan mengutip pesan dari kiainya yang terus menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.
“Kiai saya mengatakan, sekali hidup, hiduplah yang berarti bagi keluarga, bangsa, dan agama,” ujarnya.
Pesan tersebut ia kaitkan dengan tanggung jawab santri untuk menjadi bagian dari upaya menjaga umat dan membangun masa depan peradaban. Menurutnya, santri perlu mengambil peran nyata dalam kehidupan, bukan hanya menjadi penonton perubahan.
Dia pun menyampaikan apresiasi kepada Islam Nusantara Center yang telah menyelenggarakan Santri of The Year 2026.
Dia berharap kegiatan tersebut terus menjadi ruang untuk mempertemukan para santri dan tokoh dari berbagai bidang, sekaligus menginspirasi generasi muda pesantren agar berani mengembangkan kemampuan dan memperluas pengabdian.
“Terima kasih kepada Islam Nusantara Center yang sudah menyelenggarakan kegiatan ini,” ungkapnya.
Melalui penghargaan Santri Diplomat Inspiratif, Husnan Bey Fananie mengingatkan bahwa identitas santri bukan sekadar warisan pendidikan, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam perilaku, keluasan ilmu, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dia berharap santri tetap menjaga akhlak sekaligus mengambil bagian dalam membangun peradaban umat dan bangsa.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




