Gadi Eisenkot Jadi Rival Berat Netanyahu, Punya Rekam Jejak Panjang di IDF

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Israel akan menggelar pemilu parlemen pada 27 Oktober 2026 yang akan menentukan komposisi kekuatan legislatif.

Israel akan menggelar pemilu parlemen pada 27 Oktober 2026 yang akan menentukan komposisi kekuatan legislatif. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Israel akan menggelar pemilu parlemen pada 27 Oktober 2026 yang akan menentukan komposisi kekuatan legislatif sekaligus membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan berikutnya. Salah satu nama yang menjadi sorotan yakni Mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot yang menjadi rival berat bagi petahana, Benjamin Netayanhu.

Eisenkot menawarkan alternatif kepemimpinan yang lebih tegas daripada Perdana Menteri (PM) Netanyahu. Dalam sejumlah jajak pendapat, Partai Yashar yang didirikan Eisenkot pada September 2025 saat ini unggul atas Likud, partai yang dipimpin Netanyahu.

Baca Juga:
Israel-Turki Panas usai Netanyahu Bombardir Suriah

Eisenkot, yang relatif baru di dunia politik, dikenal sebagai sosok berlatar belakang militer dengan pendekatan keamanan garis keras. Meski menawarkan perubahan kepemimpinan dan menentang sejumlah mitra koalisi sayap kanan Netanyahu, dia secara tegas tetap menolak pembentukan negara Palestina dan menegaskan Hamas harus dihancurkan.

Direktur Begin-Sadat Center for Strategic Studies Universitas Bar-Ilan, Eitan Shamir, menilai citra Eisenkot sebagai sosok yang sederhana dan tidak terlalu politis menjadi daya tarik bagi pemilih. 

Baca Juga:
AS-Israel Bersiap Serang Kembali Iran usai Pemilu Paruh Waktu

"Dia sangat disukai, bukan politikus, orang biasa. Dia tidak terlalu rumit. Orang merasa bisa berhubungan dengannya," kata Shamir dikutip dari Reuters, Minggu (25/10/2026),

Eisenkot juga mengandalkan rekam jejak militernya selama 41 tahun di Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Dia menjabat sebagai kepala staf militer pada 2015–2019 dan dikenal melalui doktrin Dahiyeh, yakni strategi membalas serangan kelompok bersenjata dengan kekuatan besar yang juga dapat menghancurkan infrastruktur sipil di wilayah yang mereka gunakan. Strategi tersebut diterapkan saat perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon pada 2006 dan menuai kritik terkait hukum humaniter.

Latar belakang keluarganya turut menjadi bagian dari profil politik Eisenkot. Putra imigran Maroko tersebut berpotensi menjadi PM pertama Israel dari komunitas Mizrahi, yakni kelompok Yahudi yang memiliki akar keluarga di Timur Tengah dan Afrika Utara. Putra dan dua keponakannya tewas saat bertempur di Gaza sejak perang pecah pada 2023.

Eisenkot sempat bergabung dengan kabinet perang Netanyahu sebagai pengamat (observer) setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Namun, dia keluar sekitar 8 bulan kemudian karena mengkritik kepemimpinan Netanyahu yang dinilainya gagal mencapai target perang, termasuk menghancurkan Hamas.

"Kami menargetkan bisa mencapai tujuan ini dalam waktu satu tahun. Tapi lebih dari tiga tahun telah berlalu, dan hal itu belum terjadi," ujar Eisenkot dalam wawancara dengan Channel 7.

Dia juga menegaskan bahwa pemerintahan Israel berikutnya harus mencegah Iran memperoleh kemampuan nuklir militer, baik melalui kekuatan militer maupun kesepakatan diplomatik yang didukung Amerika Serikat. 

Di sisi lain, Eisenkot mendukung permukiman Yahudi di Tepi Barat dengan syarat sesuai hukum dan kepentingan nasional Israel, tetapi mengkritik kekerasan pemukim terhadap warga Palestina serta menentang sejumlah agenda mitra koalisi sayap kanan Netanyahu.

Terkait isu Palestina, Eisenkot menolak solusi dua negara dan menyatakan Israel harus mempertahankan tanggung jawab keamanan utama di wilayah antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania. Sikap tersebut, ditambah penolakannya bekerja sama dengan partai-partai yang mewakili warga Arab Israel, berpotensi menyulitkan upayanya membentuk pemerintahan mayoritas meskipun Yashar menjadi partai terbesar.

Dengan demikian, meski berpotensi besar menjadi rival berat Netanyahu, tidak otomatis membuat jalan Eisenkot menjadi mudah. Jika gagal membentuk koalisi mayoritas dengan tingkat dukungan 61 anggota Knesset, Eisenkot bisa saja memimpin partai terbesar di parlemen tanpa menjadi PM.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemnaker Imbau Warga Waspada Penipuan BSU, Jangan Berikan NIK dan Klik Tautan Palsu
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Stadion Pakansari Bakal Jadi Lautan Bobotoh, Begini Respons Pelatih Garudayaksa FC Lawan Persib
• 12 jam lalubola.com
thumb
Sebanyak 33 Anggota PSSI Aceh Desak PSSI Pusat Jelaskan Status Hasil Kongres dan Penunjukan Plt Ketua
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Pramono Resmikan Gereja Masehi Advent di Jaktim Setelah Izin Tertunda 25 Tahun
• 11 jam laludetik.com
thumb
BNPB Pelajari Laporan dan Kronologi Gugurnya 6 Petugas Karhutla Bromo
• 2 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.