jpnn.com, JAKARTA - Mantan Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional, Irjen (putn) Arman Depari mengacungkan dua jempol untuk strategi Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memutus rantai pasok narkoba.
Apresiasi Arman Depari disampaikan dalam diskusi di stasiun televisi. Dia mengamati dinamika pemberantasan narkoba di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi.
BACA JUGA: Wanita Pengedar Narkoba di Aceh Barat Ini Tertangkap
Arman melihat ada konsistensi aparat penegak hukum dalam menjaga pengawasan sekaligus melakukan penindakan tanpa kompromi.
Dia melihat gebrakan masif pemberantasan narkoba mulai dari pencegatan kapal kargo berbendera Mongolia di Belawan, penyitaan berton-ton sabu di perairan Batam, hingga pembongkaran laboratorium rahasia atau clandestine lab dengan barang bukti hampir 1,2 ton di Pidie, Aceh.
BACA JUGA: Polri-BNN Gagalkan Penyelundupan Narkoba 1,1 Ton dari Malaysia
Fakta tersebut membuka mata publik tentang ganasnya pertempuran melawan sindikat barang haram tersebut.
Bagi seorang purnawirawan jenderal bintang dua yang telah mendedikasikan sebagian besar kariernya untuk melumpuhkan gembong narkoba, kelengahan adalah musuh terbesar dalam pemberantasan narkoba.
BACA JUGA: Mendagri Sebut Bedah Rumah di Kampung Ambon Jadi Kunci Berantas Akar Narkoba
Arman memahami betul bagaimana sindikat transnasional selalu membaca celah sekecil apa pun untuk menyelundupkan racun perusak bangsa ini.
Dia menyebut konsistensi pengawasan tidak boleh mengendur dalam situasi apa pun, Arman menyampaikan peringatan keras mengenai pentingnya kewaspadaan yang konsisten.
“Dalam pemberantasan narkotika, kita tidak boleh lengah sama sekali. Jangankan sebulan, seminggu saja kita lengah, dampaknya sangat berbahaya,” ujar Arman.
Pernyataan tersebut mendasari apresiasi tulus yang dia berikan kepada Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.
Arman menilai Kapolri Suyudi Ario Seto memegang kendali strategi yang tepat dalam memutus mata rantai pasok narkotika, terutama yang digerakkan oleh jaringan lintas negara.
Salah satu fokus utama strategi ini terletak pada pengawasan ketat terhadap jalur-jalur tikus dan pesisir rawan penyelundupan. Wilayah seperti pesisir timur Sumatra selama ini menjadi titik rawan karena sindikat kerap memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan tidak resmi untuk memasukkan kargo gelap ke daratan Indonesia.
Kasus pembongkaran laboratorium narkotika di Aceh yang melibatkan dua koki peracik asal Tiongkok memberikan bukti nyata bahwa ancaman itu telah bergeser menjadi ancaman produksi lokal yang didanai jaringan global.
Temuan ini menyadarkan semua pihak bahwa aparat tidak sekadar menghadapi para kurir jalanan, melainkan sebuah sindikat industri tersembunyi yang melibatkan aktor-aktor internasional. Oleh karena itu, pengawasan ketat di garis terdepan perbatasan harus berjalan seirama dengan operasi pembersihan di dalam negeri.
Arman memuji langkah tegas Kapolri yang menginstruksikan para Kepala Kepolisian Daerah hingga Kepala Kepolisian Resor untuk menyapu bersih kampung-kampung narkoba di wilayah hukum masing-masing.
Kendati demikian, penindakan di tingkat pengecer atau bandar lokal belumlah cukup untuk menyelesaikan akar persoalan. Arman mengingatkan bahwa setiap penangkapan di titik peredaran harus menjadi pintu masuk untuk melacak jaringan yang lebih besar di atasnya.
Aparat penegak hukum wajib membidik para pengendali utama dan bandar besar, baik yang beroperasi di dalam negeri maupun yang bersembunyi di luar negeri, melalui penguatan kerja sama internasional atau police-to-police cooperation. Penegakan hukum yang tajam ke atas akan memastikan sindikat tidak sekadar berpindah lokasi setelah satu wilayah digerebek.
Pengalaman panjang berpuluh-puluh tahun di kancah pemberantasan narkotika menuntun Arman pada sebuah filosofi penegakan hukum yang berorientasi pada pencegahan mutlak. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... DPR Dukung Bea Cukai Jakarta Perkuat Kapasitas Pemberantasan Narkoba
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan




