MSCI Mau Turunkan Status Bursa RI, Dasco: Kita Tentukan Rating Sendiri

cnbcindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kapolri Suyudi Ario Seto, CEO Danantara Rosan, Ketua OJK Friderica, Ketua DPR RI Sufmi Dasco, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Kepala Eksekutif PMDK Hasan Fawzi sambangi gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (16/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad meyakini bahwa pasar modal Indonesia memiliki fundamental yang kuat. Pernyataan tersebut merespons fenomena industri pasar modal RI yang sedang bergejolak karena MSCI yang berpotensi menurunkan status bursa RI menjadi standalone market.

Menurutnya, Indonesia mampu menentukan arah dan rating sendiri dengan kekompakan seluruh para pelaku pasar modal.

"Di Bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri," ujarnya melalui unggahan sosial media Instagram, dikutip Senin (26/10/2026).

Baca: Dijatuhkan MSCI, Bursa Ini Berhasil Bangkit Lagi Jadi Developed Market


Dasco menuturkan, untuk mewujudkan pasar modal yang kuat semua pihak harus bersatu dan berjuang menghadapi berbagai tantangan, termasuk penilaian indeks bursa global.

"Kita bersatu, bergerak dan berjuang. Menuju Bangsa Pemenang!," tutupnya.

Sebagai informasi, MSCI mengumumkan rencana untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.

"MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi," tulis pengumuman tersebut, dikutip Jumat (16/10/2026).

MSCI menyatakan bahwa pihaknya membuka konsultasi terkait proposal reklasifikasi indeks MSCI Indonesia. MSCI juga membuka kemungkinan untuk menyampaikan pembaruan sementara mengenai masukan pelaku pasar selama periode konsultasi berlangsung.

MSCI menilai, status Indonesia sebagai pasar berkembang atau Emerging Market tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saham domestik saat ini. Penilaian tersebut didasarkan pada kekhawatiran pelaku pasar terhadap tingkat investabilitas saham Indonesia, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi.

Standalone market sendiri adalah salah satu kategori klasifikasi pasar modal oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang menempatkan suatu negara di luar kelompok utama pasar maju (Developed Market), pasar berkembang (Emerging Market), maupun pasar perintis (Frontier Market).

Adapun karakteristik utama standalone market adalah berdiri sendiri. Saham-saham dari negara berstatus ini tidak lagi tergabung dalam indeks global utama MSCI, seperti MSCI Emerging Markets Index atau MSCI Frontier Markets Index.

Lalu indeks terpisah, MSCI tetap dapat menghitung indeks saham negara tersebut secara individual, tetapi tidak lagi menjadi bagian dari portofolio acuan standar bagi mayoritas manajer investasi global.



(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pasar Saham RI Selevel Zimbabwe Jika Turun ke Standalone Market

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhaj Gus Irfan Buka Expo UMKM di Yogyakarta, Dorong Produk Lokal Masuk Rantai Pasok Haji
• 19 jam laludisway.id
thumb
Tidak Cukup dengan Budaya "Asal Sibuk" Birokrasi
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polisi Gerebek Kampung Narkoba di Lima Ilir Palembang, 7 Orang Ditangkap | BORGOL
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Hari Ini, Eks Jampidsus Febrie Jalani Sidang Putusan Sela Kasus Pemerasan dan TPPU
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kapolda Metro Instruksikan Personel Operasi Patuh Jaya Rekam Pelanggaran
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.