Pakar ilmu komunikasi politik Henri Subiakto melontarkan kritik tajam terhadap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ia menyoroti citra sederhana Jokowi, keberhasilan pembangunan infrastruktur yang kerap menjadi kebanggaan pendukungnya, hingga dampak politik dan ekonomi yang menurutnya belum banyak diperhatikan masyarakat.
"Saya pernah percaya dan tertipu juga dengan ucapan dan penampilan yang penuh polesan. Sekarangpun masih banyak yang buta terhadap sosok ini, hanya karena suka dengan hasil kerja pemerintahannya dulu yg terlihat sukses membangun infrastruktur," tulisnya di akun X, dikutip Senin (26/10/2026).
Baca Juga: Pengamat: Kalau Kenal Adab Demokrasi, Gibran Gak akan Mau Jadi Wapres
Menurut Henri, penampilan Jokowi yang terkesan seperti masyarakat biasa membuat sosoknya mudah diterima oleh kalangan bawah.
"Penampilan Jokowi yg seolah seperti orang biasa membuat ada kesamaan dengan kalangan masyarakat yg hidup sederhana. Bagi mereka rakyat bawah, formalitas pendidikan tinggi itu dianggap tidak penting. Makanya para pengritik Jokowi itu dianggap pembenci, dianggap orang yg sakit hati karena kalah berpolitik," ujarnya.
"Bagi para pendukung setianya, Jokowi itu dilihat jauh lebih bagus dibanding Prabowo. Nilai kelebihan Jokowi itulah yg terus disuarakan para buzzer dan para pembelanya di berbagai media dan kesempatan," lanjut dia.
Lebih jauh, Henri memperingatkan bahwa kekaguman terhadap pembangunan infrastruktur yang terlihat berhasil dapat membuat masyarakat mengabaikan konsekuensi lain.
"Sampai seolah kita semua harus menormalkan ketidakjujuran. Membiasakan adanya perilaku curang, hingga menerima strategi politik asal menang yang sudah dikondisikan. Padahal pembangunan infrastruktur yg “nampak sukses” itu aslinya membawa bom waktu, saat tagihan tagihan hutang harus dibayarkan. Stabilitas politik yg seolah tenang, sejatinya menyimpan jeratan jeratan politik penyanderaan pada hampir semua partai politik," ungkapnya.
Baca Juga: Dokter Tifa Pasang Syarat soal Ijazah Jokowi: Jika Terbukti Asli, Saya Bersedia...
Ia turut mengaitkan kritiknya dengan kondisi demokrasi dan hubungan Indonesia dengan pihak asing. Henri menilai kerusakan tatanan, moral, serta etika demokrasi dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi negeri ini, tetapi persoalan tersebut dinilainya belum banyak dikaji oleh masyarakat.
"Belum lagi dampak buruk rusaknya tatanan, moral, dan etika demokrasi hingga ketergantungan pada asing, akan berkonsekuensi panjang memperburuk negeri ini. Dosa- dosa terkait ini tidak banyak didalami sebagian besar rakyat negeri ini," katanya.
Henri kemudian mengalihkan sorotannya kepada Prabowo. Ia menilai harapan agar pemerintahan saat ini memperbaiki berbagai persoalan warisan sebelumnya berpotensi berujung pada kekecewaan karena, menurutnya, pengaruh Jokowi masih belum sepenuhnya terputus.
"Sementara berharap pada Prabowo untuk memperbaikinya, malah bisa membuat frustrasi. Kenyataannya Prabowo sulit memutus total pengaruh Jokowi. Dia masih mengakomodir kepentingan Jokowi hingga hari ini. Walau terkadang nampak melakukan konsolidasi, tapi tetap saja masih memberi ruang dan kesinambungan kebijakan pada orang orang Jokowi," sambungnya.
Ia juga menilai perbedaan gaya kepemimpinan antara Prabowo dan Jokowi tidak serta-merta membuat hubungan keduanya benar-benar berjarak. Henri menyebut keduanya masih saling membutuhkan, meski hubungan tersebut dinilainya tidak lagi seharmonis pada awal pemerintahan.
"Gaya kepemimpinan dan komunikasinya memang beda tapi mereka tetap menjaga jarak aman karena masih saling membutuhkan. Walau sekarang sudah tidak seharmonis di awal-awal Pemerintahan, tapi Prabowo nampak tak berani putus total apalagi berhadap hadapan," imbuhnya.
"Isu ijazah dan putusan MK yg sangat melemahkan Jokowi Gibran dari sisi moral pun tidak direspon tegas oleh Prabowo. Seolah hanya jadi catatan dan simpanan peluru yang tidak harus terburu digunakan," tambahnya.





