Di tengah beredarnya kabar bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un jatuh sakit dan meninggal dunia, media pemerintah Tiongkok dan Korea Utara secara bersamaan memberitakan bahwa Kim mendadak mengunjungi Tiongkok dan kembali ke negaranya pada hari yang sama. Serangkaian kejadian tidak biasa selama beberapa hari berturut-turut ini menyoroti situasi politik Korea Utara yang penuh teka-teki.
EtIndonesia.com Pada malam 24 Oktober waktu Beijing, kantor berita resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xinhua, melaporkan bahwa Wang Huning, anggota Komite Tetap Politbiro PKT sekaligus Ketua Komite Nasional Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok, mendampingi Kim Jong-un mengunjungi Dandong, Provinsi Liaoning, pada hari itu.
Pada sore harinya, keduanya mengunjungi sebuah pabrik mobil di Dandong. Ketika Kim meninggalkan Dandong, Wang Huning mengantarnya di Jembatan Baru Sungai Yalu yang menghubungkan Tiongkok dan Korea Utara.
Sebelumnya pada 24 Oktober, sejumlah media Korea Selatan juga memberitakan kunjungan Kim Jong-un ke Dandong.
Jembatan Baru Sungai Yalu yang menghubungkan Tiongkok dan Korea Utara baru saja mulai beroperasi pada 15 Oktober, setelah hampir 12 tahun tidak digunakan. Sejumlah pengamat menduga kunjungan Kim ke Dandong mungkin berkaitan dengan pembukaan jembatan tersebut.
Namun, kunjungan mendadak Kim kali ini tidak diumumkan sebelumnya dan berlangsung pulang-pergi dalam satu hari. Hal ini memunculkan dugaan bahwa kunjungan tersebut sengaja dilakukan untuk membantah kabar kematiannya.
Dalam beberapa hari sebelumnya, Kim beberapa kali muncul di media resmi Partai Buruh Korea Utara. Meski demikian, sebagian pihak di media sosial masih mencurigai apakah sosok yang muncul itu benar-benar Kim Jong-un atau hanya seorang pemeran pengganti.
Pada hari Kim mengunjungi Dandong, kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, juga merilis foto-foto Kim saat menghadiri sebuah kegiatan. KCNA menyebutkan bahwa pada 22–23 Oktober, Kim menghadiri pertemuan para komandan kompi militer di Pyongyang dan menyampaikan pidato.
Sebelum itu, situs-situs web Korea Utara mengalami gangguan jaringan berskala luas yang tidak biasa selama dua hari berturut-turut. Gangguan tersebut terjadi tepat ketika media resmi Partai Buruh Korea Utara menerbitkan berita mengenai kemunculan Kim, sehingga waktunya dianggap cukup sensitif.
Pada 18 Oktober, kabar bahwa Kim Jong-un sakit dan meninggal dunia tiba-tiba menyebar luas di media sosial, menarik perhatian internasional.
Pada 20 Oktober, sejumlah media resmi Korea Utara merilis foto-foto Kim saat mengunjungi pameran pakaian dan sepatu pada 19 Oktober. Publik menilai langkah tersebut sengaja dilakukan untuk membantah kabar kematiannya.
Namun, pada 20 Oktober pagi, ketika media resmi Korea Utara mulai menepis rumor tersebut, situs-situs web di negara itu justru mengalami gangguan besar-besaran.
Pada 21 Oktober, kantor berita Yonhap Korea Selatan melaporkan bahwa hingga pukul 17.00 waktu setempat, sebanyak 42 situs resmi milik berbagai departemen dan lembaga Korea Utara yang menggunakan domain “.kp” masih tidak dapat diakses atau mengalami koneksi yang tidak stabil. Situs-situs tersebut mencakup KCNA dan surat kabar Rodong Sinmun, serta sejumlah media resmi Korea Utara lainnya.
Para pakar Korea Selatan cenderung menilai bahwa gangguan jaringan tersebut disebabkan oleh masalah seperti pasokan listrik Korea Utara yang tidak stabil. Namun, sejumlah pengguna internet juga berspekulasi bahwa gangguan tersebut mungkin berkaitan dengan gejolak politik tertentu di Korea Utara.
Laporan gabungan reporter Chen Zhenjin – NTDTV.com Editor: Lin Qing.





