Jahitan Difabel, dari Panggung Juara Nasional hingga Lorong Kota Roma

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Pita ukur melingkar di lehernya Yanti Susana Sela (46). Duduk di balik mesin jahitnya, perempuan difabel rungu dan wicara itu lantas mengarahkan sorot lampu ke ujung jarum bersiap menyulam potongan kain.

Sejurus kemudian, kaki kanannya bergeser ke pedal dinamo. Pedal itu lantas diinjak pelan.

Nguungg…

Dinamo berdengung diikuti ketukan ritmis saat jarum menembus serat kain di dalam ruang produksi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Jarum Emas Citra Busana di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (23/10/2026).

Sekali hentakan kaki, jarum bergerak cepat menembus kain sepanjang hampir 20 sentimeter. Ia menggunakan mesin listrik berkecepatan tinggi. "Tinggal sedikit (selesai dikerjakan)," ujar Yanti dalam bahasa isyarat.

Dengan pengalaman selama 24 tahun, Yanti kini bisa menyelesaikan dua pasang seragam model blus berpadu celana per hari atau yang paling banyak dibanding lima penjahit lain, yang kebetulan tidak berkebutuhan khusus. Semua mereka bekerja dalam waktu sama dan menggunakan jenis mesin serupa.

Di sela waktu menjahit, Yanti menghidupkan layar telepon genggam. Dia lalu melakukan panggilan video dengan teman sesama difabel rungu dan wicara.

Ruang produksi pun riuh dengan obrolan mereka. Namun, tidak ada yang merasa terganggu dengan percakapan itu.

"Itu hiburan dia (Yanti) saat penat. Semua yang kerja di sini memahami kebutuhan dia. Dia penjahit paling unggul. Paling disiplin, paling produktif, dan tentu saja punya penghasilan paling tinggi," kata Maria Agustina Tjung, mentor sekaligus pendiri UMKM Jarum Emas Citra Busana.

Yanti bekerja di tempat itu sejak 2002. Awalnya, ia murid sekolah luar biasa. Selama belajar, bakat menjahitnya muncul.

Hal itu juga yang membuat sekolah mencarikan tempat magang bagi dia dan bertemu Agustina. Yanti lantas magang di Jarum Emas Citra Busana.

Selesai magang, Yanti kerasan. Dia meminta agar diizinkan bekerja di tempat itu. Yanti diterima dan bekerja sampai hari ini.

Menurut Agustina, dalam membuat satu produk jahitan, ia terlebih dahulu mendesain lalu mengguntingnya. Selanjutnya diserahkan kepada Yanti untuk dijahit sesuai dengan gambar desain yang dibuat.

"Ia pintar membaca gambar desain. Semuanya dieksekusi presisi dan rapi," lanjut.

Hambatan komunikasi yang sempat dialami Yanti kini bukan lagi kendala. Tanpa belajar bahasa isyarat, puluhan tahun bekerjasama, Agustina sudah memahami pesan yang disampaikan Yanti. Agustina juga bisa berkomunikasi dengan cara yang mudah dipahami Yanti.

Juara satu nasional

Dengan kemampuan itu, Yanti jadi andalan Agustina. Pada tahun 2025, misalnya, datang undangan menghadirkan kegiatan Ikatan Penata Busana Indonesia di Jakarta. Agar mendapat penginapan gratis, mereka diminta panitia membawa produk untuk dipamerkan.

Dalam tenggat tiga hari, Agustina dan Yanti menghasilkan lima jenis pakaian wanita berbahan variasi tenun ikat. Tanpa diduga, karya mereka meraih juara satu.

Serial Artikel

Membuat Difabel lebih Berdaya dengan Pelatihan Kerja

Juru bahasa isyarat menjelaskan materi dari instruktur kepada peserta pelatihan desain grafis dengan mobile training unit yang digelar Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta Timur UPT.

Baca Artikel

"Juri kaget karena ini adalah karya yang lahir dari penjahit tuna rungu dan tuna wicara," kata Agustina.

Pencapaian ini menunjukkan, mereka yang dengan keterbatasan, jika dibimbing dengan sepenuh hati dan diberi kesempatan, mereka akan mampu menghasilkan karya-karya yang berkelas. Yanti telah membuktikan itu.

Jahitan tangannya tersebar di berbagai wilayah di NTT, di sejumlah kota di Indonesia, dan berbagai negara di dunia seperti Amerika, Inggris, Kanada, Australia, dan Italia.

"Beberapa suster yang saat ini bertugas di Roma (Italia), mengenakan karya Yanti. Di foto-foto yang mereka kirim, ada yang mengenakan sambil jalan di lorong-lorong Kota Roma. Yanti senang ka tidak?" tanya Agustina kepada Yanti.

"Senang, senang, senang," jawab Yanti dalam bahasa isyarat. Sepertinya ia bersyukur bahwa karya tangannya kini melampaui batas negara.

Pekerjaan menjahit juga menopang hidup Yanti. Ia menafkahi suami dan anak semata wayang dengan penghasilan sekitar Rp 3 juta per bulan atau di atas upah minimum NTT, Rp 2,4 juta. Selama bekerja dengan Agustina, Yanti diberi tempat tinggal dan makan minum gratis. Itu membuat gaji yang dia peroleh tidak berkurang banyak setiap bulannya.

Binaan Bank Indonesia

UMKM Jarum Emas Citra Busana merupakan binaan Bank Indonesia Kantor Perwakilan NTT. Dukungan yang diterima berupa penambahan alat kerja, pelatihan, dan promosi produk.

Tahun 2026, dukungan datang kian intens seiring meningkatnya program BI untuk UMKM. Mereka dibantu untuk promosi melalui jejaring media sosial seperti Instagram, Facebook, Tiktok, dan YouTube.

Pada awal Oktober 2026, BI NTT menggelar Flobamorata Creative Expo di Kota Kupang. Kegiatan ini merupakan panggung bagi UMKM. Kelompok Jarum Emas Citra Busana kebagian menyediakan seragam bagi panitia. Beberapa produk mereka dipamerkan.

Gubernur BI Destri Darmayanti hadir dalam pembukaan acara itu. Saat itu, Destry mendorong UMKM agar berdaya. Ia melihat banyak potensi di NTT yang bisa jadi kekuatan. Salah satunya tenun ikat dan variasi model pakaian berbahan tenun seperti buatan tangan Yanti.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga memuji kelompok UMKM khususnya dengan latar belakang kebutuhan khusus. Seperti pelaku UMKM pada umumnya, pemerintah menyediakan kredit usaha rakyat. Alokasi untuk NTT pada tahun 2026 sebesar Rp 3 triliun.

"Untuk pinjaman di bawah Rp 100 juta itu tanpa agunan," ujar Melkiades.

Berdasarkan data Pemprov NTT, jumlah pelaku UMKM di NTT saat ini sekitar 370.000 orang. Tak ada data jumlah pelaku UMKM berkebutuhan khusus.

Namun, dalam diam mereka berkerja menggerakkan ekonomi. Karya mereka menghiasi panggung juara nasional hingga dipakai menyusuri di lorong-lorong Kota Roma.

Serial Artikel

Melindungi Pelaku UMKM Difabel Lansia dari Jebakan Pinjaman Ilegal di Pelosok NTT

Banyak pelaku UMKM di pedalaman NTT terjebak pinjaman ilegal dan investasi bodong. Perlu upaya serius agar mereka berdaya dan memahami literasi keuangan.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Disorot Angkat Dua Anaknya Jadi Tenaga Ahli, Begini Kata Menhaj Gus Irfan
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Sleman kembangkan padi sehat berbasis irigasi ramah lingkungan
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Samsat Ciledug Blokir Data McLaren Rp 4,5 M yang Catut Nama Montir di Tangerang
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Foto: Siswa SMAN 81 Jakarta Mengikuti Tes Kemampuan Akademik Jenjang SMA
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kesejahteraan Satwa dan Nasib Penjaganya
• 9 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.