Jakarta, VIVA – Buya Yahya mengingatkan pentingnya introspeksi diri bagi perempuan dalam kehidupan rumah tangga, terutama terkait kebiasaan mengeluh dan kurang menghargai kebaikan suami. Dua sifat tersebut menjadi pokok pembahasan saat ia menjelaskan hadis Nabi Muhammad SAW mengenai banyaknya perempuan yang disebut sebagai penghuni neraka.
Dalam kajiannya, Buya Yahya menekankan bahwa hadis tersebut bukan alasan untuk langsung menghakimi perempuan sebagai calon penghuni neraka. Sebaliknya, hadis itu perlu dipahami sebagai peringatan agar seseorang mengenali perilaku yang harus diperbaiki sebelum terlambat.
Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW juga menyampaikan sebab di balik peringatan tersebut. Dengan mengetahui perilaku yang perlu dihindari, umat Islam diharapkan dapat memperbaiki diri dan membangun hubungan rumah tangga yang lebih baik.
Sifat pertama yang disoroti Buya Yahya adalah kebiasaan mengeluh. Menurut penjelasannya, keluhan yang terus-menerus dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai, terutama ketika berbagai usaha dan pemberian suami selalu dianggap belum cukup.
“Ngeluh itu adalah menyiksa, dikit-dikit enggak terima kasih, enggak apa, ngeluh itu ya pokoknya bikin susah kepada suami. Sudah bagus motor kurang bagus, sudah ini kurang terus,” ujar Buya Yahya yang dikutip dari YouTube pada Senin (26/10/26).
Meski demikian, bukan berarti seorang istri tidak boleh menyampaikan keluhan atau membicarakan masalah rumah tangga. Mengungkapkan kesulitan, meminta bantuan, dan menyampaikan kebutuhan merupakan bagian dari komunikasi yang sehat. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara menyampaikannya, sehingga tidak berubah menjadi kebiasaan merendahkan atau mengabaikan usaha pasangan.
2. Tidak Bersyukur dan Kurang Menghargai SuamiSifat kedua adalah kurang bersyukur atau tidak menghargai kebaikan yang telah diberikan suami. Buya Yahya menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut berkaitan dengan sikap mudah mengeluh, seolah-olah segala sesuatu yang dilakukan pasangan tidak pernah cukup.
Dalam penjelasannya, ia menyebut hadis yang mengingatkan perempuan agar tidak mengingkari kebaikan suami. Buya Yahya kemudian mengajak jamaah memahami pesan tersebut sebagai kesempatan memperbaiki perilaku, bukan sebagai alasan untuk merasa takut tanpa memahami konteksnya.





