OLEH Ida Zuniarti, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Mandiri
Ketika kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, persoalan terbesar bukan lagi seberapa canggih teknologi tersebut, melainkan seberapa siap manusia menghadapi perubahan. Otomatisasi layanan pelanggan, analisis data, pemasaran digital, hingga penyusunan laporan membuat dunia kerja bergerak semakin cepat.
- UNM Bakal Gelar Seminar AI dan Peluncuran Buku UNM RC-25
- Prodi Sistem Informasi UNM Kampus Margonda Siapkan Talenta Digital Masa Depan
- UNM dan PWU Filipina Jalin Kerja Sama Internasional di Kongres AFEBSI
Di tengah perubahan itu, pekerja dituntut meningkatkan kompetensi, perusahaan harus menata ulang strategi bisnis, dan perguruan tinggi menghadapi tantangan untuk memastikan lulusannya tetap relevan dengan kebutuhan industri.
Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan manusia bukan tanpa alasan. Sejumlah tugas rutin kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan teknologi. Namun, melihat AI semata-mata sebagai ancaman justru berisiko membuat kita kehilangan peluang untuk berkembang. Persoalan mendasarnya adalah kesenjangan antara kecepatan perkembangan teknologi dan kesiapan manusia dalam menggunakannya secara efektif, kritis, dan bertanggung jawab.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menurut saya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan sekadar apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia, melainkan apakah kita sudah memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja bersama AI. Sebab, perubahan dunia kerja tidak hanya menuntut penguasaan teknologi, tetapi juga kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengambil keputusan secara bijak.
Dalam dunia bisnis, AI memberikan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengambilan keputusan. Perusahaan dapat memanfaatkan teknologi ini untuk menganalisis perilaku konsumen, mengenali tren pasar, mempercepat pengolahan informasi, dan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih terarah. Dengan dukungan data yang memadai, proses bisnis dapat berjalan lebih efektif.
Namun, teknologi bukanlah jawaban untuk semua persoalan. AI dapat menghasilkan rekomendasi, tetapi manusia tetap harus menilai apakah rekomendasi tersebut sesuai dengan konteks, kebutuhan, dan tujuan organisasi. Keputusan bisnis tidak hanya berkaitan dengan angka dan efisiensi, tetapi juga menyangkut kepercayaan pelanggan, etika, reputasi perusahaan, serta dampaknya terhadap masyarakat.
Di sinilah peran manusia tetap penting. Kreativitas, empati, pemikiran kritis, kemampuan berkomunikasi, dan tanggung jawab tidak boleh diabaikan ketika perusahaan mengadopsi teknologi. AI dapat membantu mengolah informasi, tetapi manusia harus mampu mempertanyakan hasilnya, memahami konteks, dan menentukan tindakan yang tepat.
Karena itu, saya memandang bahwa kompetensi masa depan tidak cukup hanya berupa kemampuan mengoperasikan perangkat digital. Seseorang juga perlu memiliki kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, menyampaikan gagasan, dan belajar secara berkelanjutan. Kombinasi antara kecakapan digital dan kemampuan manusiawi inilah yang akan menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Tantangan tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi perguruan tinggi. Pendidikan tidak boleh berhenti pada penyampaian teori dan pencapaian nilai akademik. Mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan, menganalisis persoalan nyata, serta memahami bagaimana teknologi digunakan dalam aktivitas profesional.
Sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya melihat bahwa Program Studi Manajemen dan Program Studi Bisnis Digital memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang mampu menghadapi transformasi tersebut.
Program Studi Manajemen membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai pengelolaan organisasi, pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, dan strategi bisnis. Sementara itu, Program Studi Bisnis Digital membantu mahasiswa memahami pemanfaatan teknologi untuk pengembangan usaha, pemasaran digital, analisis perilaku konsumen, dan inovasi model bisnis.
Kedua bidang ini saling melengkapi. Dunia bisnis membutuhkan tenaga profesional yang memahami strategi sekaligus mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai. Penguasaan AI tanpa pemahaman bisnis dapat membuat teknologi digunakan tanpa arah yang jelas. Sebaliknya, pemahaman bisnis tanpa literasi digital berisiko membuat seseorang kesulitan mengikuti perubahan industri.
Sejalan dengan peran UNM sebagai Kampus Digital Bisnis, pembelajaran perlu mengintegrasikan pengetahuan bisnis, teknologi, kreativitas, dan etika. Mahasiswa harus didorong untuk tidak sekadar menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu mengevaluasi hasilnya, mengenali keterbatasannya, menjaga kerahasiaan data, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Program unggulan 3+1, yaitu tiga tahun kuliah dan satu tahun magang, juga dapat menjadi sarana untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan kebutuhan industri. Melalui pengalaman profesional yang relevan, mahasiswa berkesempatan memahami penerapan teknologi dalam proses bisnis, mengenali tantangan pekerjaan, dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di lingkungan kerja.
Meski demikian, kesiapan menghadapi era AI tidak dapat dibebankan kepada perguruan tinggi saja. Mahasiswa harus proaktif meningkatkan kompetensi, membangun portofolio, mencoba teknologi secara bertanggung jawab, dan terus memperbarui pengetahuan. Dunia kerja akan terus berubah sehingga kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi kebutuhan jangka panjang.
Perusahaan pun perlu melihat AI sebagai bagian dari transformasi organisasi yang harus dikelola dengan bijak. Penerapan teknologi idealnya tidak hanya berorientasi pada penghematan biaya, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan, pengembangan kemampuan karyawan, dan penciptaan peluang baru. Perubahan teknologi akan memberikan manfaat lebih besar ketika diiringi kesiapan sumber daya manusia.
Pada saat yang sama, kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan penggunaan AI, seperti ketidakakuratan informasi, risiko kebocoran data, bias algoritma, dan persoalan etika. Pemanfaatan teknologi harus disertai pengawasan dan tanggung jawab yang jelas. Kemajuan digital tidak boleh mengorbankan kepercayaan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, AI bukan sekadar persoalan mesin yang semakin pintar. Ini adalah persoalan bagaimana manusia menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan. Mereka yang enggan belajar mungkin akan kesulitan mengikuti perkembangan, sedangkan mereka yang mampu memadukan keahlian, kreativitas, dan teknologi memiliki peluang untuk menciptakan nilai baru.
Masa depan bisnis bukan tentang manusia melawan mesin, melainkan tentang manusia yang mampu menggunakan teknologi untuk menjadi lebih produktif, kreatif, dan bernilai. Karena itu, daripada hanya takut digantikan AI, kita perlu mulai membangun kompetensi agar mampu bekerja bersama teknologi dan mengambil peran dalam membentuk masa depan. UNM sebagai Kampus Digital Bisnis berkomitmen mendorong pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia industri.




