Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan transaksi tanpa dolar Amerika Serikat antara Indonesia dengan negara-negara mitra dagang kian membesar.
Ia mengatakan, transaksi dengan mata uang lokal melalui skema local currency transcation (LCT) itu pada akhir 2026 akan mencapai US$ 55 miliar atau setara Rp998,08 triliun (kurs Rp 18.147/US$).
Nilai proyeksi itu menurut Destry akan tumbuh sekitar 120% dibanding dengan nilai transaksi LCT yang tercatat hingga akhir 2025 sebesar US$ 25 miliar.
"Perkiraan akhir tahun ini sekitar 55 miliar USD padahal tahun lalu itu baru sekitar 25 miliar USD. Mainly adalah dari China," kata Destry dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Destry menegaskan, dengan semakin besarnya pemanfaatan LCT, maka akan dapat membantu mengurangi kebutuhan dolar di dalam negeri, dan memperbaiki defisit transaksi berjalan per kuartal II-2026 yang telah menembus level 3% PDB.
"Ini akan mengurangi penggunaan juga USD sehingga juga nilai tukar kita juga akan bisa lebih balance. Jadi pendekatan bilateral banyak kami lakukan," papar Destry.
Sebagaimana diketahui, hingga Agustus 2026, nilai transaksi LCT telah mencapai US$49,4 miliar ekuivalen, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang sebesar US$25,7 miliar ekuivalen.
Saat ini, kerja sama LCT Indonesia telah berjalan dengan tujuh negara mitra, yakni China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Singapura.
(arj/arj)




