Jakarta, VIVA – Kekuatan diplomasi tidak semata ditentukan oleh kesepakatan resmi antarpemerintah, tetapi juga oleh kedekatan personal para pemimpinnya. Dalam buku Indonesia–Rusia dalam Pusaran Perang Dingin: Geopolitik dan Diplomasi Soviet di Asia Tenggara, sejarawan Dr. Ahmad Fahrurodji menyoroti peran sentuhan personal (personal touch) dan konsep persahabatan atau druzhba dalam hubungan Indonesia dengan Uni Soviet, Rusia, serta negara-negara bekas Uni Soviet. Menurut penilaian Fahrurodji, kelihaian Presiden Sukarno dalam membangun kedekatan dengan pemimpin negara lain memperlihatkan sosok kepala negara yang sekaligus menjalankan peran sebagai diplomat ulung.
Buku tersebut juga mengungkap episode diplomasi menjelang Perang Dunia II yang jarang mendapat perhatian: perundingan Jepang dengan Uni Soviet, ketika kekayaan alam Hindia Belanda disebut dalam pembicaraan mengenai kemungkinan keterlibatan Soviet bersama Jepang dan Jerman. Menurut uraian Fahrurodji, pihak Jepang menyinggung kekayaan alam wilayah yang saat itu belum diduduki Jepang sebagai bagian dari tawaran diplomatik. Upaya untuk menarik Soviet ke dalam poros tersebut tidak terwujud; Uni Soviet kemudian berperang di pihak Sekutu.
Temuan-temuan itu menjadi pintu masuk untuk menelusuri peran hubungan antarpemimpin, kepentingan geopolitik, serta posisi Indonesia dalam persaingan kekuatan besar sepanjang abad ke-20.
Buku ini menelusuri hubungan diplomatik Indonesia–Uni Soviet sepanjang 1945–1964, mencakup masa pemerintahan Stalin dan Nikita Khrushchev serta kepemimpinan Presiden Sukarno. Pembahasannya mempertemukan perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan, kepentingan geopolitik Soviet di Asia Tenggara, dan perubahan kebijakan luar negeri dalam suasana persaingan global.
Ahmad Fahrurodji mengembangkan buku ini dari riset dan disertasinya pada Program Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Dalam pengantar penulis, ia menjelaskan proses pengumpulan data di Arsip Negara Federasi Rusia serta dukungan akses terhadap sumber di Bulgaria. Wawancara dengan sejumlah narasumber, termasuk Vladlen Sigaev, penerjemah Presiden Sukarno–Khrushchev, turut memperkaya data dan perspektif penelitiannya.
Salah satu perhatian buku ini adalah dukungan diplomatik Soviet terhadap perjuangan Indonesia melalui forum Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelum hubungan diplomatik formal kedua negara terbentuk. Pembahasan kemudian bergerak menuju perkembangan kerja sama pada era Khrushchev, mulai dari hubungan ekonomi dan kebudayaan hingga dukungan politik dan militer dalam perjuangan Irian Barat.





