JAKARTA, DISWAY.ID-- Distrik Oransbari di Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di wilayah tersebut.
Rasa dan kepulenannya pun tak kalah dengan beras asal Pulau Jawa.
BACA JUGA:Tarif Pencatatan Hak Cipta Rp0 Diperluas, Seluruh Jenis Ciptaan Akan Gratis!
Namun, potensi besar ini sempat terkendala oleh kualitas yang belum sepenuhnya konsisten akibat proses pengeringan dan penyaringan yang belum terstandarisasi.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 20 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya turun tangan melakukan pendampingan langsung bagi para petani dan pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Pendampingan ini difokuskan pada peningkatan mutu gabah, teknik penyortiran butiran beras utuh, hingga inovasi pengemasan yang lebih menarik.
BACA JUGA:Aturan Baru 2027: Guru P3K Paruh Waktu Diangkat Penuh Waktu Tanpa Tes
Harapannya, beras produksi Oransbari bisa naik kelas menjadi produk premium yang mampu menembus pasar lebih luas dengan harga jual yang lebih kompetitif.
Direktur BUMDes Margomulyo, Ilham, menyambut antusias program pendampingan ini. Sebagai representasi anak muda setempat, ia memiliki impian besar untuk daerahnya.
"Saya sebagai anak muda ingin Oransbari ke depan punya produk beras sendiri, Beras Premium Oransbari," terangnya.
Dalam kegiatan tersebut, para petani dan pengelola BUMDes dibekali ilmu seputar tahapan pengolahan gabah secara komprehensif, mulai dari pengoperasian mesin penggilingan modern hingga teknik penyortiran yang higienis sebelum dikemas.
BACA JUGA:IHSG Babak Belur! Anjlok 66 Poin ke Level 5.373, Bursa Saham Indonesia Kembali Memerah
Anggota Tim 20 TEP ITS, Muhamad Iqbal Sidiq menekankan pentingnya kehadiran fisik dan pendampingan langsung di tengah masyarakat agar solusi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.
"Terkadang kita luput dalam melakukan pendampingan masyarakat secara langsung dan hanya fokus pada bantuan alat saja. Tim 20 TEP ITS berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan pendekatan nyata terhadap setiap masalah dan kebutuhan riil masyarakat," jelas Iqbal.
Dukungan serupa datang dari Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat, Syukur Syarif. Menurutnya, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu kualitas.
- 1
- 2
- »





