45 Persen Anak Alami Perundungan Siber, Fitur Pengawasan Orang Tua Minim Dimanfaatkan

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Menkomdigi Meutya Hafid mengungkapkan bahwa penggunaan fitur pengawasan orang tua masih minim.

45 Persen Anak Alami Perundungan Siber, Fitur Pengawasan Orang Tua Minim Dimanfaatkan. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid mengungkapkan, mayoritas orang tua merasa tak cukup untuk mendampingi anak di internet. Bahkan, kata dia, sebanyak 45 persen anak di Indonesia pernah mengalami perundungan siber.

Meutya menilai, perlindungan anak di ruang digital semakin mendesak. Pasalnya, kata dia, banyak kejahatan terhadap anak termasuk perundungan di media sosial.

Baca Juga:
Komdigi dan DPR Siapkan Aturan Biaya Delivery Barang dan Makanan Aplikasi Ojol

"Kemudian, hanya 39,9 persen orang tua yang merasa cukup mampu mendampingi anak di internet, dan ini pun berdasarkan perasaan orang tuanya, belum tentu betul," ungkap Meutya dalam diskusi publik yang diselenggarakan Kosgoro 1957 di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).

Selain itu, ia berkata, sebanyak 48 persen remaja menilai media sosial berdampak negatif bagi teman seusianya. Ironisnya, Meutya mengungkapkan bahwa penggunaan fitur pengawasan orang tua minim.

Baca Juga:
Heboh Isu Pembatasan Konten soal Karhutla, Komdigi Buka Suara

"Artinya, selama ini para platform itu selalu mengatakan bahwa kami sebetulnya sudah memperkenalkan fitur-fitur yang membuat orang tua bisa melakukan kontrol secara, baik dari sisi waktunya, sisi konten, dan sebagainya. Tapi karena itu sifatnya opsional, maka yang memakai layanan itu hanya 10,2 persen orang tua," ucap Meutya.

Kendati demikian, Meutya menilai perlu edukasi yang luas dalam menyiasati hal ini. Di sisi lain, ia menilai, perlu kebiasaan lebih untuk melakukan parental control melalui digitalisasi. 

Baca Juga:
Komdigi Akan Perkuat Jaringan Telekomunikasi di Berau, Kawasan Wisata Jadi Prioritas

"Karena itu, lahir pada Maret 2025, aturan (PP Tunas) ini. Para platform kita berikan waktu 1 tahun untuk melakukan tidak hanya sosialisasi, tapi juga meng-upgrade teknologinya supaya mereka bisa membedakan mana yang anak dan mana yang orang tua atau yang non-anak, begitu ya," pungkasnya.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Keluarga Dini Tahu Dwi Bagus Punya Istri Sah, Nikah Siri Sudah 3 Tahun
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Pergolakan Besar dalam Perombakan Personel PKT, Analis: Perebutan Kekuasaan Internal Semakin Sengit Menjelang Kongres Nasional ke-21
• 21 jam laluerabaru.net
thumb
Tiga Bulan Asap Karhutla, Warga Kutai Barat Keluhkan Gangguan Pernapasan | KOMPAS SIANG
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Studi: Butuh Waktu 200 Jam untuk Bisa Jalin Persahabatan Erat di Usia Dewasa
• 13 jam lalubeautynesia.id
thumb
Lima Karyawan Indonesia Pelajari Teknologi Energi Bersih di China, Kunjungi Pembangkit Listrik dan Pusat Kendali Cerdas
• 18 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.