Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengumumkan rencana pertemuan dengan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan untuk membahas keamanan kawasan Timur Tengah. Sejumlah pejabat senior dari ketiga negara tersebut dijadwalkan datang ke Teheran, meski waktu pelaksanaannya belum diumumkan.
Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri Kani, mengatakan pertemuan tersebut akan dihadiri Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman, Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir, serta Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin.
Adapun Turki, Arab Saudi, dan Pakistan sebelumnya sepakat untuk segera menjalankan komitmen pertahanan bersama melalui Komite Strategis Politik dan Pertahanan Makkah yang kerap disebut NATO versi Muslim.
"Sesuai kesepakatan, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman, Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir, dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin akan berpartisipasi dalam pertemuan ini," kata Kani, dilansir AFP, Senin (26/10/2026).
- 92 Tahun Berjalan, Pabrik Biskuit Legendaris Resmi Tutup Akhir Oktober
- Respons Lengkap Singapura dari Menteri hingga PM soal Pasokan Gas RI
- KBRI Riyadh Beri Pengumuman ke WNI soal Penerbangan di Bandara Saudi
Ia menambahkan pembicaraan itu akan digelar bersama pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei.
"Dalam pandangan kami, pertemuan empat pihak di Teheran ini dapat menjadi langkah penting dan efektif menuju pembangunan keamanan regional yang berkelanjutan. Kami berharap inisiatif ini dapat membantu mewujudkan kawasan yang stabil," ujar Kani dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.
Kani tidak merinci tanggal pertemuan tersebut. Namun, ia menyebut gagasan itu muncul saat Asim Munir berkunjung ke Teheran pekan lalu.
Rencana pembicaraan ini muncul ketika konflik di Timur Tengah masih berlangsung. Perang meletus pada Februari setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangkaian serangan mendadak terhadap Iran, saat Washington dan Teheran masih berunding mengenai program nuklir Iran.
Gencatan senjata pada April mengakhiri fase awal serangan besar-besaran. Meski demikian, persaingan kedua pihak untuk menguasai Selat Hormuz terus berlanjut. Jalur pelayaran strategis tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Iran sejak itu mengeklaim menguasai Selat Hormuz dan berulang kali menargetkan kapal yang melintas tanpa izin Teheran. Sebagai balasan, AS memberlakukan blokade laut tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Upaya diplomatik antara AS dan Iran juga masih mengalami kebuntuan. Situasi semakin rumit setelah kesepakatan pada Juni yang memuat jalur menuju penyelesaian permanen konflik gagal bertahan.
Dampak perang pun meluas ke berbagai bagian kawasan. Salah satu perkembangan yang terjadi adalah konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran.
(luc/sef)




