KAIRO - Parlemen Mesir telah memberikan wewenang kepada militer negara tersebut untuk memberikan dukungan bagi pertahanan Arab Saudi, demikian dilaporkan oleh para anggota parlemen dan media setempat. Langkah ini berpotensi membawa Kairo lebih dekat ke dalam konflik regional yang kian memanas akibat serangan dari milisi Houthi di Yaman.
Presiden Abdel Fattah el-Sisi pekan lalu meminta persetujuan parlemen untuk memberikan bantuan militer jika Riyadh memohon dukungan dalam mempertahankan diri dari kelompok Houthi. Operasi kelompok tersebut mengancam wilayah Arab Saudi serta Selat Bab al-Mandab yang strategis—sebuah jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi akses menuju Terusan Suez di Mesir.
Dilansir TRT, pemberian wewenang oleh parlemen ini muncul di tengah serangkaian serangan terhadap Arab Saudi yang telah mengganggu penerbangan serta ekspor minyak, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan regional dan jalur perdagangan internasional.
Kairo Menetapkan Batasan Peran Militer Mereka
Mesir telah berulang kali mengecam serangan yang dilakukan oleh Iran maupun pihak-pihak yang didukung Iran terhadap negara-negara Teluk, namun hingga kini belum secara terbuka terlibat dalam pertempuran langsung dalam konflik yang sedang berlangsung.
Sisi telah mengisyaratkan bahwa dukungan apa pun dari Mesir akan terbatas pada upaya mempertahankan wilayah dan perbatasan Arab Saudi, bukan melancarkan serangan ke dalam wilayah Yaman.
Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, dan kepala intelijen, Hassan Rashad, bertolak ke Riyadh pada hari Rabu lalu untuk menyampaikan surat dari Sisi kepada Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Menyusul kunjungan tersebut, Abdelatty menyatakan bahwa Kairo mendukung penjajakan “setiap peluang” untuk menyelesaikan konflik Yaman melalui jalur diplomasi.
Potensi keterlibatan Mesir akan menjadi perkembangan yang signifikan, mengingat kapabilitas militer negara tersebut serta posisi strategisnya di sepanjang Laut Merah.




