Danantara menargetkan investasi sebesar USD20 miliar hingga USD30 miliar atau sekitar Rp362,64 triliun hingga Rp543,96 triliun.
IDXChannel – Danantara menargetkan investasi sebesar USD20 miliar hingga USD30 miliar atau sekitar Rp362,64 triliun hingga Rp543,96 triliun dalam dua hingga tiga tahun ke depan untuk mengembangkan industri berbasis teknologi dan inovasi.
Salah satu yang menjadi prioritas adalah hilirisasi mineral, agar Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga bisa menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026, Sigit Puji Santosa mengutarakan target Danantara dalam lima tahun ke depan, yakni menyiapkan lebih dari 140 proyek hilirisasi.
Sejumlah proyek saat ini tengah menjalani studi kelayakan atau feasibility study (FS) dan persiapan teknis melalui front-end engineering design (FEED).
“Kami dalam lima tahun ke depan ini, kami sampaikan tadi, sekitar 40 lebih dari proyek hilirisasi. Saat ini kami sedang melakukan proses full FS, dan juga langsung kalau perlu kita ke FEED,” ujarnya.
Sejumlah sektor yang diprioritaskan antara lain mineral, material maju, dan semikonduktor. Danantara melihat potensi besar dari cadangan mineral Indonesia, mulai dari mineral strategis dan mineral kritis hingga rare earth atau logam tanah jarang serta platinum group metals.
Pengembangan industri tersebut tidak akan berhenti pada tahap ekstraksi saja. Danantara ingin terus mendorong proses hilirisasi lebih jauh, mulai dari pengembangan produk dan komponen hingga subsistem dan produk akhir.
“Karena mineral ini jangan sampai hanya di bagian extractive activities, tapi kita masuk ke development, pengembangan produk, komponen, sub sistem sampai ke produk akhir,” ujarnya.
Dengan begitu, Indonesia berpeluang mengambil peran lebih besar dalam rantai industri, bukan hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai produsen barang bernilai tambah.
Selain mineral dan semikonduktor, Danantara juga membidik sektor energi, pangan dan kesehatan, infrastruktur digital dan telekomunikasi, serta pertahanan. Sektor-sektor tersebut masuk dalam lima kelompok industri yang dinilai berpotensi memberikan dampak besar bagi perekonomian.
“Lima ini cukup besar sebenarnya. Saya kira kalau kita USD20–30 miliar itu mungkin within the reach, tapi kami kira bisa lebih tinggi lagi dari itu,” tutur dia.
Sigit juga mengatakan Danantara akan mengoptimalkan BUMN yang sudah ada. Jika belum mencukupi, Danantara akan menggandeng perusahaan lain atau membangun kerja sama baru bersama perusahaan lainnya.
Pengembangan industri ini juga akan didukung kolaborasi dengan perguruan tinggi. Danantara menyiapkan skema mapping and matching untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan keahlian kampus, termasuk perguruan tinggi yang berada di sekitar lokasi industri.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengembangan smelter alumina di Mempawah, Kalimantan Barat. Dalam proyek tersebut, perguruan tinggi seperti Universitas Tanjungpura dapat dilibatkan untuk mendukung proses hilirisasi.
Danantara berharap kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau MoU. Kerja sama tersebut ditargetkan berlanjut menjadi kontrak dan proyek yang benar-benar direalisasikan.
Penulis: Magang-Kidung Dhia Fardheena
(Kunthi fahmar sandy)





