Jakarta: Konser, ribuan penonton, dan perputaran uang yang bisa menjalar ke berbagai sektor ekonomi. Konser Ye atau Kanye West di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada 24 Oktober 2026. Ini bukan sekadar pertunjukan musik.
Jakarta menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara dan juga Oceania yang masuk dalam rangkaian tur Ye tahun ini. Ini peluang besar bagi Indonesia untuk menarik pengunjung dari luar negeri, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi pertunjukan musik internasional. Tapi, seberapa besar dampak ekonominya dan apa yang harus dibenahi agar manfaatnya tidak berhenti setelah konser usai atau di Ye saja?
Baca Juga :
Pramono: Dampak Ekonomi Jakarta Running Festival dan Konser Kanye West Capai Rp625 MiliarPromotor melaporkan ada sekitar 20.500 pembeli tiket dari luar negeri. Australia menjadi pasar asing terbesar, disusul Malaysia dan Singapura sebagai pasar utama berikutnya. Sebelum konser, promotor juga memproyeksikan lebih dari 30.000 pengunjung dari luar Jakarta.
Angka ini menunjukkan konser berpotensi menarik pergerakan orang lintas negara dan lintas daerah, namun pembeli tiket dari luar negeri tidak otomatis benar-benar sama dengan jumlah penonton asing yang benar-benar datang. Dampak pariwisatanya juga tidak cukup diukur dari jumlah penonton.
Baca Juga :
Konser Ye di SUGBK Berjalan Lancar, Sahroni: Bukti Indonesia KondusifGubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, dampak ekonomi konser Ye diperkirakan menggerakkan sekitar Rp450 miliar, sementara Jakarta Running Festival menyumbang sekitar Rp175 miliar. Efek dominonya menjangkau berbagai sektor mulai dari sebelum dan sesudah konser.
Misalnya, penerbangan, perhotelan, transportasi, restoran, pusat perbelanjaan, sampai pelaku UMKM di sekitar lokasi acara. Nah dibalik megahnya pertunjukan promotor ini, tim atau juga promotor ini juga harus menggelontorkan investasi besar untuk menghadirkan konser berkelas dunia. Sebagai ilustrasi, misalnya fee artis internasional diasumsikan mulai USD1 juta, dengan asumsi kurs Rp17.500 rupiah per dolar, promotor harus menyiapkan anggaran sekitar Rp17,5 miliar hanya untuk membayar artis.
Ini belum termasuk biaya sewa kawasan GBK, kemudian juga tidak hanya memperhitungkan hari pertunjukan, tapi juga masa persiapan, pembangunan panggung, sampai pembongkaran. Ini semua harus dibayar dan perlengkapan setelah konser. Promotor juga harus mengalokasikan anggaran untuk tata suara dan pencahayaan, logistik, pengamanan, pemasaran, sampai berbagai kebutuhan teknis lainnya.
Investasi besar inilah yang turut menggerakkan rantai ekonomi karena promotor menggandeng beberapa industri, penyedia jasa dan tenaga kerja untuk mendukung penyelenggaraan konser. Bahkan promotor sempat memperkirakan sekitar 5.000 pekerja lokal turut ambil bagian dalam proses produksi dan operasional konser Ye.
Dampak ekonomi konser tidak hanya muncul ketika puluhan ribu penonton datang ke stadion, memadati stadion, tapi juga bergerak sejak tahap persiapan, berlanjut ke pertunjukan, sampai proses pembongkaran selesai. Semakin besar keterlibatan industri dan tenaga kerja dalam negeri, semakin luas juga peluang ekonomi yang bisa dinikmati pelaku usaha lokal.
Inilah yang kemudian membuat konser internasional bukan sekadar panggung hiburan, tapi juga menjadi penggerak aktivitas bisnis, pembuka lapangan kerja, dan pendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk menjaga peluang ekonomi terus tumbuh, penyelenggaraan event berskala besar membutuhkan kepastian dan dukungan dari berbagai pihak. Ini kami tampilkan perlunya satu komando.
Baca Juga :
Guncang GBK di Atas Bola Dunia Raksasa, Konser Perdana Ye di Jakarta Pikat Puluhan Ribu PenontonPemerintah perlu memastikan proses izinnya jelas, penetapan biaya resminya secara transparan, dan memperkuat koordinasi antarinstansi supaya tidak saling tumpang tindih. Di sisi lain promotor, pengelola venue, apartemen, dan penyedia transportasi juga perlu menyelaraskan perencanaan agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Kepastian inilah juga penting untuk melindungi penyelenggaraan dari praktik misalnya masih ada pungli, tekanan pihak yang tidak berwenang, kemudian juga prosedur yang berbelit dan berpotensi menambah biaya.
Namun kemudahan perizinan tetap harus berjalan beriringan dengan pengawasannya ketat dan juga terukur. Jadi dengan prosedur yang jelas ini, kemudian biayanya transparan dan koordinasi yang solid, Indonesia bisa membangun ekosistem penyelenggaraan event yang lebih sehat, menarik investasi, dan membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Kota harus siap
Selanjutnya, selain kepastian izin, kesiapan infrastruktur kota ini juga penting untuk mendukung kesuksesan konser berskala internasional. Salah satunya adalah melalui layanan transportasi publik yang menyesuaikan kebutuhan penonton. Kemarin, pada saat konser Ye, MRT Jakarta menjadwalkan layanan tambahan sampai di pukul 1.30 dini hari dengan jarak kedatangan antarkereta sekitar 14 menit selama periode layanan tambahan. Langkah seperti ini yang kemudian mempermudah mobilitas penonton, sekaligus juga membantu mengurangi kepadatan lalu lintas, terutama saat puluhan ribu orang meninggalkan lokasi konser dalam waktu yang hampir bersamaan.
Karena kesuksesan konser ini tidak hanya bergantung pada kemegahan panggung dan kualitas tata suara, penyelenggara juga harus memastikan kelancaran arus kendaraan, keamanan, kebersihan, aksesibilitas, sampai kenyamanan penonton sejak datang sampai kembali pulang. Di sisi lain, industri hiburan Tanah Air juga perlu terus memperkuat kualitas venue, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, kemudian juga mengembangkan teknologi produksi, dan melindungi konsumen dari tiket palsu dan praktik percaloan. Kolaborasi antara pemerintah, promotor, pengurus venue, dan penyedia layanan publik ini menjadi kunci untuk menciptakan pengalaman konser yang aman, nyaman, dan berkesan. Dengan dukungan infrastruktur dan layanan yang semakin baik, Indonesia tidak hanya mampu menarik penonton, tapi juga memperkuat daya tariknya sebagai tujuan konser internasional di masa-masa mendatang.
Jangan cuma ramai semalam
Pada akhirnya, keberhasilan konser tidak hanya tercermin dari puluhan ribu penonton yang kemudian memadati stadion, tapi juga seberapa luas acara ini menggerakkan ekonomi, mulai dari hotel yang menerima tambahan tamu, kemudian juga restoran dan pelaku UMKM yang meningkatkan penjualan, hingga sektor transportasi yang melayani mobilitas penonton. Di balik panggung, investasi besar promotor juga membuka peluang kerja, sekaligus juga memberikan pengalaman dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal untuk menangani event internasional berikutnya.
Untuk melihat seberapa besar dampak ini, kemudian pemerintah dan pelaku industri perlu mengukur lagi hasil penyelenggaraan melalui data pasca acara. Jadi mulai dari peningkatan transaksi, penyerapan tenaga kerja, sampai nilai ekonomi yang mengalir ke berbagai sektor. Nah dengan begitu, setiap konser besar tidak hanya menciptakan perputaran uang, tapi juga membuka peluang pertumbuhan industri yang berkelanjutan.
Jadi konser yang kemarin ini memperlihatkan besarnya potensi Jakarta sebagai tujuan pertunjukan musik berskala internasional. Lebih dari sekadar hiburan, konser ini juga menjadi gambaran bagaimana investasi besar, berkolaborasi dengan lintas sektor, dan antusiasme penonton bisa menciptakan efek domino bagi perekonomian. Karena ketika penonton telah pulang, panggung dibongkar dan lampu stadion dipadamkan, dampak sebuah konser sejatinya tidak harus ikut berakhir.
Ada peluang usaha yang terbuka, tenaga kerja yang semakin terampil, dan industri musik Indonesia yang terus berkembang. Karena konser besar ini sekali lagi bukan cuma tentang siapa yang tampil di atas panggung, tapi juga seberapa besar manfaat yang tumbuh di luar panggung. Kami akan kembali dengan informasi lain.
Sumber: Redaksi Metro TV




