Usul Moratorium Smelter, Inalum Harap Aluminium Tak Bernasib Seperti Nikel

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mendorong pemerintah menjaga kuota dan pemberian izin smelter bauksit menjadi alumina untuk mencegah ancaman depresiasi cadangan yang terlalu cepat serta gejolak pasar layaknya komoditas nikel.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengusulkan agar pertumbuhan kapasitas smelter disesuaikan dengan peningkatan kebutuhan dalam negeri secara bertahap.

Arif menyatakan bahwa izin pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit menjadi alumina yang telah dikeluarkan saat ini diperkirakan mencapai total kapasitas 10 juta ton per tahun.

Menurutnya, apabila seluruh kapasitas tersebut beroperasi secara penuh, cadangan bauksit Indonesia yang saat ini diperkirakan sebesar 3 miliar ton di wilayah Kalimantan Barat berpotensi habis dalam kurun waktu 50 tahun ke depan.

"Tujuannya apa? Supaya sumber daya alam tidak cepat habis dan bisa dinikmati sampai anak cucu. Kalau tiba-tiba sekarang dijadikan 10 juta ton, saya khawatir kejadian seperti nikel akan terjadi," ujarnya saat Media Gathering, dikutip Selasa (27/10).

Inalum menilai konsumsi aluminium nasional saat ini masih sekitar 1,5 kilogram per kapita per tahun. Jika angka konsumsi domestik ini didorong naik secara bertahap hingga 10 kilogram per kapita, kebutuhan aluminium nasional diproyeksikan berada di angka 3 juta ton.

Angka tersebut dinilai sudah cukup untuk menggerakkan perputaran ekonomi yang besar dalam kurun waktu 5 tahun ke depan tanpa menguras cadangan bauksit secara berlebihan.

“Saya berharap dalam 5 tahun ke depan 3 juta ton itu sudah menyebabkan perputaran ekonomi yang sangat besar,” tegas Arif.

Selain itu, Arif memaparkan bahwa hilirisasi rantai pasok bauksit memberikan lonjakan nilai ekonomi yang signifikan bagi negara. Dari sisi rantai produksi, dibutuhkan sekitar 3 ton bauksit untuk menghasilkan 1 ton aluminium melalui pengolahan alumina. Adapun rasio kebutuhan 2 ton alumina per 1 ton aluminium.

Secara keekonomian, dia menyebutkan bahwa harga bauksit mentah berada di kisaran harga USD 40 per ton. Setelah diolah menjadi alumina, harganya melesat hingga USD 400 per ton alias naik 10 kali lipat.

Adapun setelah diproses menjadi aluminium, harganya melonjak mencapai USD 3.200 hingga USD 3.500 per ton atau naik 9 kali lipat dari alumina.

Peningkatan nilai tambah ini memberikan multiplier effect berupa penerimaan negara dari pajak, terciptanya circular economy, penyerapan tenaga kerja, hingga penguatan moda transportasi dan logistik.

Contohnya, di Mempawah, Kalimantan Barat, hadirnya industri pengolahan alumina BIA dan fasilitas pengolahan Inalum berhasil memacu pertumbuhan ekonomi daerah dari sebelumnya 4 persen menjadi di atas 6,8 persen hingga 7 persen, sekaligus menciptakan proyeksi hingga 130.000 lapangan kerja baru.

Pengolahan Red Mud

Selain fokus pada aluminium, Inalum bersama MIND ID terus mengembangkan riset pemanfaatan limbah pengolahan bauksit (red mud). Limbah red mud yang selama ini dikategorikan sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3) karena volumenya yang besar, kini ditargetkan menjadi sumber pendapatan baru.

"Riset MIND ID telah berhasil meningkatkan kadar besi (Fe) pada red mud dari 33 persen menjadi 53 persen. Jika berhasil didorong hingga 56 persen dan menekan kadar silika ke bawah 6 persen, limbah ini dapat dimanfaatkan secara komersial oleh PT Krakatau Steel sebagai bahan baku baja," jelas Arif.

Tak hanya besi, potensi ekstraksi mineral bernilai tinggi lainnya seperti Logam Tanah Jarang (LTJ) dari sisa hasil pengolahan bauksit juga disiapkan untuk dimasukkan ke dalam perencanaan pembangunan fase berikutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arteta Ingatkan Skuad Arsenal Waspadai Fleetwood pada Babak Keempat Piala Liga Inggris
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hensa: Seskab cek Sekolah Rakyat malam hari pastikan program berjalan
• 28 menit laluantaranews.com
thumb
Marcos Reina Bangga Persik Kediri Berjuang bak Singa di Kandang Persija Jakarta: Layak Bawa Pulang Poin
• 9 jam lalubola.com
thumb
Pemerintah Paraf DIM RUU Adminduk, Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan NIK sebagai Identitas Tunggal
• 3 jam laludisway.id
thumb
Bahlil Kritik Singapura Usai Pangkas Ekspor Gas: Harus Sama-Sama Menghargai
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.