Jakarta (ANTARA) - Pengamat politik Hendri Satrio (Hensa) menilai kunjungan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Bekasi, Minggu (25/10) malam, untuk memastikan program Presiden Prabowo Subianto benar-benar berjalan.
"Publik jadi tahu, ternyata yang bantu Presiden memantau program-programnya di lapangan itu Mas Teddy. Datang mendadak, cek kamar, ngobrol sama anak-anak, baru pulang," kata pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Teddy tiba di SRT 1 Kabupaten Bekasi sekitar pukul 20.50 WIB bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Dia langsung masuk ke asrama putra jenjang SMA, lalu ikut bernyanyi bersama siswa, serta menengok kamar tidur mereka.
Berdasarkan keterangan Sekretariat Kabinet, Teddy masih berada di Hambalang, Kabupaten Bogor, mengikuti pertemuan Presiden dengan Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI pada Minggu (25/10).
Menurut Hensa, kunjungan seperti itu sulit dibaca sebagai acara seremonial semata.
Baca juga: Seskab Teddy: Sekolah Rakyat buka harapan bagi 45 ribu anak jalanan
"Malam-malam begitu, di asrama, mana ada panggungnya? Itu cara orang yang mau tahu sendiri program Pak Prabowo jalan atau enggak. Dia enggak puas cuma baca laporan," ujar Hensa.
Dia juga mengingatkan kontrol atas program Presiden tidak boleh bergantung pada kunjungan pejabat Istana.
"Jangan sampai kementerian baru gerak kalau Seskab sudah datang. Kalau begitu, artinya pengawasan internal tidak berjalan. Sekolah Rakyat ada di banyak kabupaten dan kota, apa semuanya harus nunggu didatangi dulu?," ujarnya.
Selain itu, Hensa juga meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk meninjau Sekolah Rakyat.
Selama ini, Kemendikdasmen menyiapkan kurikulum dan guru Sekolah Rakyat, sedangkan pengelolaan sekolah dan asrama di tangan Kemensos.
Baca juga: Mensos dalami dugaan kekerasan dalam pendampingan Sekolah Rakyat
"Kurikulum dan gurunya memang dari Kemendikdasmen, itu sudah jalan. Tetapi, kurikulum dan guru baru separuh pekerjaan. Yang perlu dicek juga anak-anaknya makin pintar atau enggak," ujarnya.
Sebelumnya, Teddy menyampaikan pembangunan 265 Sekolah Rakyat dalam dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo telah membuka akses pendidikan bagi lebih dari 45 ribu anak dari keluarga kurang mampu.
Program tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses pendidikan untuk kembali bersekolah.
"Publik jadi tahu, ternyata yang bantu Presiden memantau program-programnya di lapangan itu Mas Teddy. Datang mendadak, cek kamar, ngobrol sama anak-anak, baru pulang," kata pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Teddy tiba di SRT 1 Kabupaten Bekasi sekitar pukul 20.50 WIB bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Dia langsung masuk ke asrama putra jenjang SMA, lalu ikut bernyanyi bersama siswa, serta menengok kamar tidur mereka.
Berdasarkan keterangan Sekretariat Kabinet, Teddy masih berada di Hambalang, Kabupaten Bogor, mengikuti pertemuan Presiden dengan Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI pada Minggu (25/10).
Menurut Hensa, kunjungan seperti itu sulit dibaca sebagai acara seremonial semata.
Baca juga: Seskab Teddy: Sekolah Rakyat buka harapan bagi 45 ribu anak jalanan
"Malam-malam begitu, di asrama, mana ada panggungnya? Itu cara orang yang mau tahu sendiri program Pak Prabowo jalan atau enggak. Dia enggak puas cuma baca laporan," ujar Hensa.
Dia juga mengingatkan kontrol atas program Presiden tidak boleh bergantung pada kunjungan pejabat Istana.
"Jangan sampai kementerian baru gerak kalau Seskab sudah datang. Kalau begitu, artinya pengawasan internal tidak berjalan. Sekolah Rakyat ada di banyak kabupaten dan kota, apa semuanya harus nunggu didatangi dulu?," ujarnya.
Selain itu, Hensa juga meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk meninjau Sekolah Rakyat.
Selama ini, Kemendikdasmen menyiapkan kurikulum dan guru Sekolah Rakyat, sedangkan pengelolaan sekolah dan asrama di tangan Kemensos.
Baca juga: Mensos dalami dugaan kekerasan dalam pendampingan Sekolah Rakyat
"Kurikulum dan gurunya memang dari Kemendikdasmen, itu sudah jalan. Tetapi, kurikulum dan guru baru separuh pekerjaan. Yang perlu dicek juga anak-anaknya makin pintar atau enggak," ujarnya.
Sebelumnya, Teddy menyampaikan pembangunan 265 Sekolah Rakyat dalam dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo telah membuka akses pendidikan bagi lebih dari 45 ribu anak dari keluarga kurang mampu.
Program tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses pendidikan untuk kembali bersekolah.





