Kebutuhan pengiriman juga mengalami perubahan seiring meningkatnya ekspektasi pelanggan terhadap kecepatan dan fleksibilitas.
IDXChannel—Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai ramai dimanfaatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Para pelaku usaha juga menghadapi kebutuhan pengiriman yang semakin beragam menjelang 2027.
Berdasarkan survei UMKM 2026 yang dilakukan oleh platform pengiriman Lalamove terhadap lebih dari 300 pelaku UMKM, sebanyak 36,8 persen responden telah menggunakan AI untuk mendukung kegiatan bisnis.
Sementara itu, 29,6 persen lainnya memilih belum menggunakan teknologi AI namun mulai mempertimbangkannya. Adapun penggunaan AI paling banyak ditemukan pada kegiatan pemasaran dan pembuatan konten, dengan persentase 42,6 persen.
Selain itu, sebanyak 23,5 persen responden memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung layanan pelanggan dan komunikasi. Artinya, pemanfaatan AI mulai dilirik untuk membantu pekerjaan sehari-hari, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan promosi dan interaksi dengan konsumen.
Namun, penggunaan teknologi bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian pelaku UMKM. Kebutuhan pengiriman juga mengalami perubahan seiring meningkatnya ekspektasi pelanggan terhadap kecepatan dan fleksibilitas layanan.
Dalam survei yang sama, sebanyak 60,7 persen responden mengaku semakin membutuhkan layanan pengiriman ke beberapa titik tujuan. Sementara itu, 43,3 persen membutuhkan pengiriman di luar jam operasional atau dengan waktu yang lebih fleksibel.
Perubahan tersebut berkaitan dengan tuntutan pelanggan yang menginginkan layanan lebih cepat. Sebanyak 36,3 persen responden menyebut ekspektasi terhadap kecepatan layanan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kebutuhan operasional mereka.
Selain itu, 34,3 persen responden mengaitkan perubahan kebutuhan pengiriman dengan meningkatnya jumlah pesanan pelanggan.
Jenis barang yang dikirim pun cukup beragam. Makanan dan minuman menjadi kategori terbesar dengan persentase 42,4 persen, diikuti dokumen dan berkas kantor sebesar 25,9 persen serta pakaian dan produk fashion sebanyak 23,2 persen.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan logistik UMKM tidak selalu sama. Pelaku usaha perlu menyesuaikan pengiriman dengan jenis barang, tujuan, hingga waktu yang dibutuhkan pelanggan.
Managing Director Lalamove Indonesia, Andito B. Prakoso, mengatakan pelaku UMKM perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan dinamika operasional bisnis.
Menurutnya, fleksibilitas pengiriman menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan agar pelaku usaha dapat merespons kebutuhan pelanggan yang semakin beragam.
Meski menghadapi perubahan kebutuhan operasional, pelaku UMKM masih menunjukkan optimisme terhadap prospek bisnis ke depan.
“Pelaku UMKM perlu semakin adaptif dalam menghadapi perubahan perilaku pelanggan dan dinamika operasional bisnis. Di tengah perkembangan pemanfaatan teknologi, fleksibilitas pengiriman menjadi salah satu aspek penting untuk membantu bisnis merespons kebutuhan pelanggan yang semakin beragam," ujarnya.
Bagi pelaku UMKM, pengelolaan biaya menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menjalankan usaha. Terlebih, kebutuhan pengiriman yang semakin beragam menuntut mereka untuk menyesuaikan pengeluaran dengan kapasitas bisnis.
Di luar kebutuhan operasional, pelaku UMKM juga menilai ada sejumlah dukungan yang dapat membantu perkembangan usaha. Di antaranya pemasaran dan promosi, pembiayaan untuk pengembangan usaha dan peluang membangun jejaring bisnis.
Temuan survei ini menggambarkan sejumlah pertimbangan pelaku UMKM dalam mempersiapkan bisnis menghadapi 2027. Adopsi teknologi, pengelolaan biaya, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan menjadi bagian dari tantangan yang perlu diperhatikan agar usaha dapat terus berkembang.
(Nadya Kurnia)





