BIMA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menduga pembakaran lahan lokal berkaitan dengan udara kabur (haze) yang menyelimuti Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), sejak pertengahan Oktober 2026.
Curah hujan yang minim dan kemungkinan inversi suhu ikut memengaruhi kondisi atmosfer, sehingga partikel bisa bertahan lebih lama di udara.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Moch. Syaiful Annas, mengatakan sumber dan lokasi pembakaran masih perlu dipastikan lewat pemeriksaan di lapangan.
Baca Juga: BMKG Masifkan Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Karhutla, 15 Pesawat Dikerahkan ke 3 Provinsi
"Fenomena udara kabur diduga dipicu aktivitas pembakaran lahan lokal, tetapi sumber dan lokasi pastinya masih memerlukan verifikasi langsung di lapangan," kata Syaiful dikutip dari Antara, Selasa (27/10/2026).
BMKG Pantau Jarak Pandang dan Sebaran AsapMenurut BMKG, jarak pandang di wilayah pengamatan Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima sekitar delapan kilometer.
Pada jarak itu, objek yang jauh bisa terlihat samar. BMKG mengingatkan penurunan jarak pandang dapat memengaruhi keselamatan perjalanan darat, laut, dan udara.
Citra satelit Himawari-9 pada Selasa (27/10/2026) pukul 13.00 WITA belum menunjukkan sebaran kabut asap yang signifikan di Bima dan Dompu.
Hasil itu belum tentu berarti udara bebas dari partikel asap. Asap yang sangat tipis atau berada di bawah tutupan awan bisa tidak terdeteksi satelit.
Baca Juga: Kasus ISPA Melonjak Imbas Karhutla, Puan Minta Infrastruktur Rumah Sakit Diperkuat
Hujan Berpotensi Mengurangi Partikel di UdaraAnnas menjelaskan, inversi suhu terjadi ketika lapisan udara hangat berada di atas lapisan udara yang lebih dingin.
Kondisi ini menghambat pergerakan udara secara vertikal, sehingga polutan lebih mudah terperangkap di dekat permukaan.
Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Bima dan Dompu beberapa hari terakhir dapat membantu mengurangi partikel di atmosfer.
Air hujan membawa sebagian partikel yang melayang ke permukaan melalui proses deposisi basah (wet deposition).
Seberapa efektif proses ini bergantung pada intensitas, durasi, dan cakupan hujan, serta karakteristik partikelnya.
Baca Juga: Menhut Raja Juli Tegaskan Pemerintah Tanggung Jawab Tangani Karhutla: Kami Hadir Langsung
"Kondisi udara kabur masih perlu diamati lebih lanjut karena perubahan jarak pandang dapat berbeda di setiap lokasi," ujar Syaiful.
BMKG Imbau Masyarakat WaspadaBMKG meminta pengguna jalan memperlambat kendaraan, menjaga jarak aman, dan menyalakan lampu sesuai kondisi saat jarak pandang menurun.
Penumpang transportasi laut dan udara diminta mengikuti informasi meteorologi terkini serta arahan otoritas transportasi.
Masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak. Jika udara kabur disertai asap atau tanda penurunan kualitas udara, gunakan masker yang sesuai.
BMKG turut meminta warga tidak membakar sampah, semak, atau lahan secara terbuka. Pembakaran terbuka menambah partikel di udara dan meningkatkan risiko kebakaran.
Baca Juga: Hujan Ekstrem Guyur Aceh dan Sumatera Utara, BMKG: Bukan Disebabkan Siklon Tropis ARNAB
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- udara kabur Bima
- Dompu NTB
- pembakaran lahan
- kabut asap
- cuaca NTB





