Jejak Low Tuck Kwong Membangun Kerajaan Batu Bara BYAN, Kini Dilirik Haji Isam

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Nama Low Tuck Kwong dan perusahaan tambang batu bara miliknya PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi sorotan dalam sebulan terakhir. Perhatian pasar tertuju pada pengalihan 30,25% saham BYAN kepada perusahaan milik crazy rich Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam yaitu PT Jhonlin Baratama. 

Perpindahan tangan saham BYAN ini menambah babak baru dalam sejarah Bayan Resources. Hal itu lantaran aset tambang batu bara BYAN sejatinya juga diambil Low Tuck Kwong dari pemilik sebelumnya. Berdasarkan penelusuranKatadata pemilik awal BYAN adalah Haji Asri.

Low kemudian membangun BYAN hingga menjadi salah satu pemain besar di industri batu bara Indonesia. Polemik kepemilikan saham BYAN bukan baru pertama kali terjadi dari aksi Haji Isam.

Dua tahun lalu, persoalan kepemilikan saham BYAN juga menjadi sorotan usai Low menghibahkan 22% saham perusahaan kepada putrinya Elaine Low pada 2024. Hal yang menjadi persoalan adalah status kewarganegaraan Elaine yang bukan Warga Negara Indonesia (WNI). 

Deretan peristiwa ini kemudian menjadi perhatian pasar terhadap perjalanan Low membangun kerajaan batu bara. Lantas bagaimana perjalanan bisnis Low Tuck Kwong membangun Bayan Resources dan peristiwa besar yang ada di baliknya hingga saham itu jatuh ke tangan Haji Isam.

Awal Perjalanan Low Tuck Kwong di BYAN

Ketika lahir, Low bukanlah warga negara Indonesia. Dia dilahirkan di Singapura pada 1948. Di Singapura dia bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya. Kemudian pada 1972 dia merantau ke Indonesia.

Di Indonesia, Low mendirikan perusahaan konstruksi yang bergerak di bidang pondasi dan pekerjaan sipil bernama PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI),. JSI kemudian merambah industri pertambangan pada 1988 dan berkembang menjadi kontraktor tambang.

Pada 1992, Low berganti kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia. Lima tahun berselang, ia mengakuisisi konsesi tambang batu bara pertamanya yaitu PT Gunungbayan Pratamacoal (GBP) di Muara Tae, Kalimantan Timur.

Merujuk laporan tahunan Bayan Resources 2023, akuisisi konsesi GBP pada November 1997 menjadi awal sejarah Bayan Group. Sebelumnya, Low telah memiliki pengalaman di sektor pertambangan melalui bisnis jasa konstruksi dan kontraktor tambang.

Pada 1998, melalui PT Dermaga Perkasapratama (DPP) Low juga mengembangkan bisnis terminal batu bara di Balikpapan. DPP memiliki dan mengelola Balikpapan Coal Terminal (BCT) fasilitas yang mendukung kegiatan pengangkutan dan pengiriman batu bara.

Ekspansi berlanjut dengan akuisisi sejumlah konsesi tambang dan perusahaan penunjang. Para pemegang saham pendiri kemudian mendirikan PT Bayan Resources Tbk pada 7 Oktober 2004. Low kemudian membawa BYAN melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lwat aksi initial public offering (IPO) pada 2008.

“Perseroan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia melalui Penawaran Umum Saham Perdana (IPO) dengan harga perdana sebesar Rp 5.800/saham,” seperti yang dikutip dari laporan keuangan tahun 2023 BYAN, Selasa (27/10).

Setelah melantai di bursa, BYAN terus memperluas bisnisnya. Pada 2011, perusahaan mengakuisisi 56% saham Kangaroo Resources Pty Ltd yang memiliki 13 konsesi pertambangan. BYAN kemudian mengakuisisi sisa saham perusahaan tersebut pada akhir 2018 sehingga kepemilikannya menjadi 100%.

Ekspansi ke pertambangan, pengangkutan dan infrastruktur pendukung memperkuat posisi BYAN sebagai perusahaan batu bara terintegrasi. Bisnis tersebut sekaligus menjadi salah satu sumber utama kekayaan Low yang kemudian masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Pada tahun buku 2025, Bayan membukukan pendapatan US$ 3,43 miliar atau sekitar Rp 57,52 triliun. Kinerja tersebut mencerminkan skala bisnis yang telah dibangun Low sejak mengakuisisi konsesi tambang pertamanya pada akhir 1990-an.

Merujuk laman resmi Forbes Billionaires Real Time, Selasa (27/10), kekayaan Low tercatat sebesar US$ 10,4 miliar atau setara Rp 187,2 triliun, menempatkannya menjadi orang terkaya nomor tiga di Indonesia saat ini.

Polemik Akuisisi GBP

Di balik ekspansi BYAN, sempat terjadi persoalan mengenai sejarah kepemilikan PT Gunungbayan Pratamacoal, konsesi yang menjadi titik awal bisnis Low di sektor batu bara tersebut.

Berdasarkan penelusuran Katadata, Haji Asri disebut sebagai pemilik awal GBP sebelum konsesi tersebut diakuisisi Low pada November 1997. PT GBP termasuk salah satu perusahaan penanaman modal dalam negeri yang mengajukan permohonan kuasa pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. Saat itu, Asri disebut mengajukan konsesi lahan seluas 100 ribu hektare.

Pada periode tersebut, Low telah menjalankan bisnis kontraktor pertambangan melalui JSI. Kedua pihak kemudian bertemu dalam bisnis pertambangan. Namun, peralihan kepemilikan GBP belakangan dipersoalkan oleh pihak keluarga Haji Asri.

Pada Februari 2023, kuasa hukum ahli waris Haji Asri menyampaikan klaim mengenai pengalihan saham GBP pada November 1997. Menurut mereka, transaksi tersebut melibatkan PT Kaltim Bara Sentosa, Low Tuck Kwong dan Engky Wibowo.

Pihak ahli waris menyatakan nilai transaksi yang dijanjikan mencapai Rp 5 miliar, tetapi pembayaran yang diterima baru Rp 3,5 miliar. Mereka juga menyampaikan dugaan adanya tekanan terhadap Haji Asri untuk menandatangani dokumen pengalihan saham.

Hibah 22% Saham BYAN kepada Putrinya Elaine Menuai Kontroversi

Kepemilikan BYAN juga menjadi sorotan pada Agustus 2024. Saat itu, Low menghibahkan 7,33 miliar saham BYAN, setara dengan 22% dari seluruh saham perusahaan, kepada putrinya, Elaine Low.

Berdasarkan laporan tahunan Bayan Resources 2024, pengalihan tersebut berlangsung pada 28 Agustus 2024. Setelah hibah, kepemilikan langsung Low turun dari sekitar 62,15% menjadi 40,15%, sedangkan Elaine tercatat memiliki 22% saham BYAN.

Nilai saham yang dialihkan mencapai sekitar Rp100,85 triliun berdasarkan harga saham pada saat transaksi. Namun, pengalihan tersebut merupakan hibah keluarga, bukan transaksi jual-beli yang mengharuskan Elaine membayar nilai tersebut kepada ayahnya.

“Pada tanggal 28 Agustus 2024, pemegang saham utama dan pengendali Perseroan yaitu Dato’ DR. Low Tuck Kwong menghibahkan saham miliknya kepada Elaine Low yang merupakan putri beliau sebanyak 7.333.333.700 saham,” seperti yang dikutip dari laporan keuangan BYAN tahun 2024, Selasa (27/10)

Dalam penjelasannya kepada BEI, BYAN menyebut Low tetap menjadi pemegang saham pengendali. Perusahaan juga menjelaskan bahwa Elaine akan menggunakan hak suaranya sesuai arahan sang ayah.

Persoalan kemudian berkembang karena Elaine berkewarganegaraan Singapura, sedangkan Low telah menjadi WNI sejak 1992. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai hubungan antara kepemilikan saham oleh warga negara asing dan ketentuan yang berlaku bagi perusahaan pertambangan batu bara di Indonesia.

Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi turut menyinggung persoalan kewarganegaraan tersebut. Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram resminya, @m.lutfi, pada 21 Oktober 2026, Lutfi mengomentari masuknya Haji Isam melalui Jhonlin Baratama ke dalam kepemilikan Bayan.

Dalam pernyataannya, Lutfi menyoroti perbedaan kewarganegaraan Low dan Elaine. Ia menyebut Low sebelumnya merupakan warga negara Singapura yang kemudian melepas kewarganegaraannya pada 1992 untuk menjadi WNI.

Berdasarkan data kepemilikan saham yang dicatat BEI pada Selasa (27/10), Elaine masih tercatat memiliki sekitar 22% saham BYAN. Namun, untuk memastikan komposisi kepemilikan setelah transaksi dengan Jhonlin Baratama, data tersebut perlu dicocokkan dengan keterbukaan informasi terbaru perusahaan.

Haji Isam Masuk ke BYAN

Perubahan kepemilikan berikutnya terjadi pada 2026. Low dan Elaine menandatangani perjanjian jual-beli saham bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terkait dengan Haji Isam.

Haji Isam mengakuisisi saham BYAN yang diakuisisi melalui PT Jhonlin Baratama. Berdasarkan perubahan perjanjian jual beli saham bersyarat, jumlah saham yang akan dicaplok bertambah 84,09 juta saham menjadi 10,08 miliar saham. 

Manajemen Bayan Resources mengatakan jumlah saham biasa perusahaan yang akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham. Meski begitu, manajemen belum mengungkapkan di harga berapa nilai aksi korporasi itu.  

Apabila dikalkulasikan, jumlah saham yang akan diakuisisi bertambah sebanyak 84.087.870 saham. Perubahan ini merupakan bagian dari perubahan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) yang ditandatangani Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low bersama PT Jhonlin Baratama pada 1 Oktober 2026.

“Setelah penyelesaian transaksi dan terpenuhinya seluruh syarat pendahuluan, Haji Isam akan memiliki 10.084.088.370 saham biasa BYAN,” tulis manajemen BYAN, Selasa (6/10).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jababeka (KIJA) Fokus Perkuat Kawasan Industri demi Dongkrak Pendapatan Berulang
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Insanul Fahmi Bantah Tudingan Wardatina Mawa Soal Tak Kasih Nafkah Anak: Aku Ngasihnya Cash
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Lamine Yamal Raih Trofi Kopa 2026 untuk Ketiga Kalinya
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Pasar Saham Bergejolak, BSI (BRIS) Siap-Siap Buyback Rp500 Miliar
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Tersangka Terancam Hukuman Mati
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.