Konser hingga Ajang Lari Turut Menggerakkan Ekonomi Jakarta

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Penyelenggaraan Jakarta Running Festival 2026 dan konser Kanye West bertajuk Ye Live in Jakarta 2026 pada 24–25 Oktober 2026 turut mendongkrak ekonomi Jakarta dengan kontribusi hingga Rp 625 miliar. Angka ini memperlihatkan besarnya potensi kegiatan olahraga dan hiburan dalam menggerakkan perekonomian Ibu Kota.

Gubernur Jakarta Pramono Anung merinci, Jakarta Running Festival menyumbang dampak ekonomi sekitar Rp 175 miliar, sedangkan konser Kanye West atau konser Ye mencapai Rp 450 miliar.

”Konser Ye kurang lebih Rp 450 miliar, kemudian Jakarta Running Festival Rp 175 miliar, kalau dijumlahkan kurang lebih Rp 625 miliar,” ujar Pramono Anung di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Menurut Pramono, kedua acara tersebut juga menarik lebih dari 50.000 pengunjung dari luar Jakarta. Kehadiran mereka tidak hanya meramaikan lokasi acara, tetapi juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap hotel, restoran, transportasi, dan berbagai usaha lain selama mereka berada di Jakarta.

Dampak ekonomi itu tidak semata-mata berasal dari penjualan tiket atau biaya pendaftaran peserta. Pengeluaran pengunjung untuk akomodasi, makanan, transportasi, hingga belanja turut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang terbentuk di sekitar penyelenggaraan acara.

Baca JugaJRF 2026 Targetkan 37.000 Pelari, Diharapkan Berdampak pada Ekonomi Jakarta

Jakarta Running Festival (JRF) 2026, misalnya, diikuti lebih dari 37.000 pelari dari 48 negara, termasuk lebih dari 1.000 pelari mancanegara. Ajang tersebut juga melibatkan 49 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta 130 merek lokal dan internasional melalui kegiatan race expo.

Kehadiran pelaku usaha dalam rangkaian acara membuka kesempatan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Bagi UMKM, kegiatan berskala besar dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus meningkatkan penjualan.

Sementara itu, konser Ye menyumbang bagian terbesar dari perkiraan dampak ekonomi kedua acara tersebut. Pramono menyebut, penjualan tiket konser saja mencapai Rp 328 miliar dari total dampak ekonomi yang diperkirakan sebesar Rp 450 miliar.

Besarnya nilai penjualan tiket menunjukkan kuatnya permintaan terhadap hiburan berskala internasional. Di luar transaksi tersebut, pengeluaran penonton untuk memenuhi kebutuhan selama berada di Jakarta turut memperluas aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan konser.

Pramono mengatakan, sebagian penonton masih berada di Jakarta hingga sehari setelah konser berlangsung. Hal itu memberikan kesempatan bagi usaha perhotelan, kuliner, transportasi, dan pusat perbelanjaan untuk turut menikmati aktivitas ekonomi dari kedatangan pengunjung.

Baca JugaThe Weeknd Menyapa Jakarta

Penghitungan dampak ekonomi kedua acara dilakukan di bawah koordinasi Asisten Keuangan Pemerintah Provinsi Jakarta. Namun, Pramono meyakini nilai sebenarnya bisa lebih besar karena tidak semua aktivitas ekonomi masyarakat dapat tercatat dalam penghitungan tersebut.

”Saya pribadi meyakini pasti nilainya lebih dari ini. Karena aktivitas masyarakat kan tidak bisa semuanya dihitung,” ucap Pramono.

Pengeluaran penonton konser

Adapun besarnya perputaran uang dari konser tidak terlepas dari kesediaan penonton mengeluarkan uang untuk menikmati hiburan. Namun, bagi penonton, keputusan membeli tiket tetap harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan masing-masing.

Keysa (25), warga Jakarta Selatan, misalnya, rela menabung selama tiga bulan untuk menonton konser musisi favoritnya. Baginya, menonton konser merupakan pengalaman yang layak diperjuangkan selama biayanya sesuai anggaran dan tidak sampai harus berutang.

Untuk menyaksikan penampilan Kanye West dalam konser Ye Live in Jakarta 2026 pada Sabtu (24/10/2026), Keysa mengeluarkan sekitar Rp 3,5 juta untuk membeli tiket. Biaya tersebut belum termasuk ongkos transportasi, makanan, dan pengeluaran lain selama menonton konser.

Bagi Keysa, besarnya biaya itu perlu dipertimbangkan sebelum membeli tiket. Ia harus memastikan pengeluaran untuk hiburan tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari. Dengan perencanaan keuangan, ia tetap bisa menikmati konser tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain.

Meski membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Keysa menilai menonton konser secara langsung memberikan pengalaman berbeda dibandingkan mendengarkan musik melalui platform digital. Kehadiran musisi favorit di Jakarta juga membuatnya tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk bepergian ke luar negeri demi menyaksikan penampilan mereka.

Maraknya konser musisi internasional di Jakarta, menurut Keysa, juga menjadi peluang bagi perkembangan industri hiburan di Ibu Kota. Penyelenggaraan acara berskala besar melibatkan banyak pihak, mulai dari penyelenggara, pekerja produksi, hingga pelaku usaha yang melayani kebutuhan penonton.

”Acara berskala besar tidak hanya melibatkan musisi dan penyelenggara, tetapi juga pekerja di bidang produksi, tata panggung, pencahayaan, dokumentasi, hingga usaha makanan dan minuman,” katanya.

Destinasi konser internasional

Anggota Komisi E DPRD Jakarta Farah Savira juga menilai, kehadiran musisi dunia semakin memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi konser internasional. Tingginya minat masyarakat terhadap musik lokal maupun internasional, menurut dia, perlu dimanfaatkan untuk memperluas manfaat ekonomi bagi warga.

Untuk itu, Farah mendorong Pemprov Jakarta memperluas ketersediaan tempat penyelenggaraan konser dengan membangun atau bekerja sama dengan pihak lain.

Baca JugaMenggali Kekuatan Ekonomi Kreatif Jakarta

Venue yang tersebar di berbagai wilayah diharapkan dapat memperluas jangkauan pengunjung sekaligus mengurangi kepadatan di kawasan yang selama ini menjadi pusat acara, seperti Senayan, Kemayoran, dan Tanjung Priok.

”Bagaimana jika kita punya venue-venue yang lokasinya agak lebih jauh sedikit, tapi juga menjangkau warga di sebelah sana dan memiliki ruang gerak yang lebih luas,” ujarnya.

Farah juga berharap penyelenggara konser memberikan ruang lebih besar bagi UMKM lokal untuk berjualan. Pelibatan UMKM dapat dilakukan melalui kurasi bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, termasuk dengan melibatkan pelaku usaha binaan Jakpreneur.

Selain itu, Farah mengusulkan integrasi sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan ekonomi kreatif melalui paket promosi atau potongan harga bagi pemegang tiket konser. Dengan cara itu, pengeluaran penonton diharapkan tidak hanya terserap untuk membeli tiket, tetapi juga menggerakkan usaha lain di Jakarta.

Ia juga mengingatkan pentingnya aspek keamanan dalam penyelenggaraan konser. Pengamanan yang memadai diperlukan agar penonton dapat menikmati acara dengan nyaman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PDIP Sentil Jangan Sok Keras Anti Asing, Pengamat sebut Hanya Trik Retorika Hindari Masalah
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Akhir Laporan terkait Kripto Timothy Ronald Sebab Tak Ada Pidana
• 12 jam laludetik.com
thumb
JPU nilai keterangan dua saksi meringankan Bangun Paulus tak relevan
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Instruksikan BRIN Riset Model Perambatan Api Cegah Karhutla Berulang
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BPK Ungkap Proses Penghitungan Kerugian Rp 622 Miliar Kasus Kuota Haji
• 6 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.