Putar Bisnis dari Bos Kayu Jati, Jadi Kolektor Motor Jadul Legendaris!

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Motor klasik punya penggemar dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan muda sampai kolektor berduit yang memburu sejumlah motor langka. Pasar itu hidup di Galeri Motor Jadul milik Totok, tempat ratusan motor lawas berjajar sebagai koleksi sekaligus investasi jangka panjang.

Deretan koleksinya mencakup Yamaha, Honda, Suzuki, Zundapp, BSA, dan motor lainnya lansiran 1940 sampai 1990-an. Totok menyebut saat ini ada sekitar 215 motor lawas yang berkumpul di galeri berusia 10 tahun tersebut.

“Awalnya saya bos kayu jati. Jadi sebelum ada galeri ini, bisnis saya kayu jati dulu, terus pulang kampung saya beli motor, ya enggak dijual, ditaruh di rumah saja karena hobi, total ada 25 unit,” kata Totok saat dijumpai kumparan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, belum lama ini.

Bisnis kayu jati mulai sepi, Totok lalu menutup usahanya. Ia masih memegang tabungan dan terus menambah motor di rumah. Rumahnya pun jadi tujuan orang yang ingin membeli motor dan sang istri yang paling sering menerima tamu.

“Istri saya bilang, 'Pak, kamu kan hobi motor, motornya dijual aja. Aku capek tiap hari orang ke sini nanyain motor, bukain pintu, nanya dijual enggak'. Ya memang enggak dijual, namanya hobi,” katanya.

Dari keluhan itu, sang istri punya ide agar seluruh uang yang ada dibelikan motor sebanyak-banyaknya, lalu rumah dibuka sebagai toko. Galeri berdiri sekitar tahun 2015-2016 di sebelah showroom Honda, Pondok Cabe, dan dipajang bersama sebagian stok kayu jati yang masih tersimpan.

“Zamannya COVID itu saya pernah dapat Rp 175 juta sebulan. Motor-motor ini ramai. Sekarang sepi, kebetulan saya hobi jadi tetap senang walaupun nggak laku. Saya itu semangat saja di sini, senang itu nggak harus uang, ” tutur Totok.

Seluruh keuntungan ia putar kembali menjadi stok. Totok mengaku tidak menyimpan uang tunai dalam jumlah besar karena hasil usahanya habis untuk membeli motor dan suku cadang.

Dari sekitar 215 unit, ada satu motor yang tidak akan ia lepas, yaitu BSA keluaran 1941. Motor itu lebih tua dari usia kemerdekaan Indonesia. Totok menyebutnya motor yang paling ia sayangi, tawaran sebesar Rp 150 juta pun ditolaknya.

Galeri terbuka untuk siapa saja

Totok bilang, tak sedikit orang yang berkunjung ke galeri hanya untuk berfoto atau sekadar ngobrol-ngobrol untuk bernostalgia. Ia tak pernah melarang siapa pun untuk datang meski tidak membeli motor.

"Termasuk cewek dari Senen telepon saya, 'Pak, boleh nggak main ke sana? Aku senang motor-motor gitu, cuma foto-foto doang,' dan benar dia datang ke sini. Ada juga cewek-cewek lain berdua dari Kemayoran datang ke sini ngobrol sama saya nggak kerasa sampai lupa waktu," ujarnya.

Di sisi lain, pernah ada seseorang yang ingin membeli galeri milik Totok termasuk dengan bangunannya. Menurutnya, si pembeli tersebut ingin mengajaknya bekerja sama agar seakan-akan memiliki ratusan koleksi motor itu.

"Ada bos besar, pensiunan mungkin ya terus duitnya sudah kebanyakan, datang ke sini tujuannya semua mau dibeli. Saya disuruh ngitung berapa, tapi saya nggak mau, mendingan berteman baik seperti ini. Itu sudah risiko saya kalau nggak laku," ucapnya.

Totok kini menyiapkan lini baru. Ia telah membelanjakan hampir Rp 80 juta untuk suku cadang motor tua, termasuk lebih dari 100 piston untuk Honda V80, V75, dan RC. Pembelian itu ia lakukan secara bertahap karena komponen lama makin sulit ditemukan di Jakarta.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cegah Scam, OJK Minta Anak Muda Berpikir Kritis
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gagal Berangkat ke Polandia, Perusahaan Penempatan PMI Ini Disanksi KP2MI Selama 3 Bulan
• 17 jam laludisway.id
thumb
Guru Besar Unsoed Apresiasi Wapres Temui Nelayan Cilacap
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Harga Tiket Museum Sumpah Pemuda, Wisata Sejarah untuk Peringati 28 Oktober
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Saat Sampah Pergi dari Rumah, tapi Masalahnya Tinggal di Galuga
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.