Cegah Perubahan Iklim, Badan Geologi Petakan Lokasi Penyimpanan Karbon

liputan6.com
4 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan potensi formasi akuifer salin di bawah permukaan bumi sebagai lokasi penyimpanan karbon. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk menekan emisi gas rumah kaca dan memitigasi perubahan iklim.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, upaya tersebut diselaraskan dengan komitmen Indonesia Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050), yang mencakup strategi pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon di Indonesia.

Advertisement

BACA JUGA: Tekan Harga Jelang Nataru, Pemerintah Perketat Jalur Pangan

"Badan Geologi senantiasa menyelaraskan langkah dengan komitmen. Salah satu strategi penting dalam dokumen LTS-LCCR 2050 tersebut adalah pengimplementasian teknologi Carbon Capture and Storage di Indonesia," kata Lana ketika dikonfirmasi mengenai target prioritas Badan Geologi pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menjawab tantangan perubahan iklim, dilansir Antara, Rabu (28/10/2026).

Untuk mendukung pengembangan CCS, Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi memfokuskan penyelidikan pada cekungan sedimen dan wilayah greenfield guna mengidentifikasi formasi geologi yang berpotensi menjadi tempat penyimpanan karbon secara aman.

Berdasarkan hasil pemetaan dan penyaringan regional hingga 2025, Badan Geologi mencatat potensi kapasitas teoretis penyimpanan karbon sekitar 6.435 gigaton (Gt) CO2 yang tersebar di 41 area akuifer salin.

Akuifer salin merupakan formasi batuan bawah permukaan bumi yang mengandung air dengan tingkat salinitas tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi. Formasi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan karbon dioksida (CO2) melalui teknologi CCS, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik geologi dan aspek keselamatannya.

"Secara spesifik, prioritas kerja kami dititikberatkan pada cekungan-cekungan sedimen yang belum berproduksi migas atau area frontier. Optimalisasi formasi akuifer salin atau saline aquifer sebagai media penyimpanan karbon yang berbasis survei geologi dan skrining regional," kata Lana.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Turun Hampir 2 Persen, Risiko Perang Iran Masih Bayangi Pasokan
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Mengapa Pengeluaran Masyarakat Indonesia untuk Rokok Jauh Lebih Tinggi daripada Makanan Bergizi?
• 53 menit lalukompas.id
thumb
Klasemen IBL All Indonesian 2026: Dewa United Belum Terkalahkan, Bogor Hornbills Pimpin Grup A
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Bea Cukai gagalkan ekspor ilegal 25,88 kg emas
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Menaker masih siapkan penyaluran BSU 2027 dengan Kemenkeu
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.