Arsip Foto ”Kompas”: Jalan Terjal Merawat Sumpah Pemuda

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Tepat 21 tahun lalu, lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” dengan gesekan biola yang dibawakan oleh violis terkemuka Indonesia, Idris Sardi, mengalun anggun di Gedung Museum Sumpah Pemuda. Idris memainkan kembali biola milik komponis WR Supratman setelah 67 tahun tidak dimainkan.

Di tengah lagu kemudian menyusul Paduan Suara SMA Fons Vitae I, dan hadirin yang hadir bisa ikut menyanyikan bagian akhir lagu. Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri hadir pada peringatan tersebut.

Suasana itu mengingatkan orang ketika berlangsung Kongres Pemuda, 27-28 Oktober 1928. Pada hari kedua kongres itulah WR Supratman memperdengarkan lagu kebangsaan yang liriknya sempat dilarang oleh penguasa kolonial.

Idris menjelaskan, dirinya mendapat kepercayaan untuk memainkan biola yang sempat ikut dikubur bersama pemiliknya itu. Namun, kemudian digali kembali untuk keperluan pelestarian sejarah. Hanya saja, biola buatan Italia ini memang perlu diganti sejumlah bagiannya untuk bisa dimainkan lagi. Idris lalu mengganti senar dan dudukannya. Hal lain yang juga ia lakukan adalah menghilangkan vernis yang menutup pori badan biola yang berumur lebih dari 100 tahun tersebut.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat jika Gedung Sumpah Pemuda yang terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 106 di Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, ini pernah menjadi saksi sejarah lahirnya ikrar Sumpah  Pemuda melalui peristiwa Kongres Pemuda kedua serta diperdengarkannya lagu ”Indonesia Raya” oleh  WR Supratman.

Pemandu Museum Sumpah Pemuda, Bakti Ari, Kamis (26/10/2017), menerangkan, tempat indekos bernama Indonesische Clubhuis milik Sie Kong Liong di Kramat Raya 106, Jakarta, itu telah menjadi pondokan bagi aktivis Jong Java pada awal 1920-an. ”Sejak tahun 1926, para pemuda Sumatera dan berbagai daerah juga tinggal di sini. Kamar paling belakang diduga kamar kos Mohammad Yamin,” kata Bakti Ari.

Tidak hanya para mahasiswa kedokteran Stovia yang tinggal di tempat itu. Sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Recht Hoogeschool—kini Kompleks Kementerian Pertahanan RI di Jalan Medan Merdeka Barat—juga bermukim di rumah Sie Kong Liong.

Baca JugaMasa Depan Indonesia, untuk Siapa?

Gedung Kramat yang dimanfaatkan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan pergerakan ini juga kerap didatangi Bung Karno untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni.

Dalam perjalanannya, gedung ini berubah-rubah fungsi. Gedung Kramat  106 pernah menjadi rumah tinggal, toko bunga, hotel, kantor, hingga akhirnya pada 3 April 1973 gedung Kramat 106 dipugar oleh Pemda DKI Jakarta. Setelah selesai dipugar, pada 20 Mei 1973 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan Gedung Sumpah Pemuda menjadi museum. Setahun kemudian, Museum Sumpah Pemuda kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Memaknai Sumpah Pemuda

Dari Kramat 106, semangat Sumpah Pemuda terus dirawat dan diperingati di berbagai pelosok negeri. Pada tahun 28 Oktober 1980, berjarak 2,7 kilometer dari Gedung Museum Sumpah Pemuda, mahasiswa Universitas Indonesia memprotes ketimpangan sosial yang terjadi. Aksi yang digelar di dalam lingkungan kampus UI Salemba itu dihadiri oleh Adnan Buyung Nasution. Orasi oleh  Adnan Buyung itu dihadiri ratusan mahasiswa yang menyemut hingga di atap gedung. Sebuah spanduk berbunyi  ”Pemuda Bukan Milik Penguasa” dibentangkan mahasiswa di salah satu gedung sebagai pernyataan sikap.

Pada 28 Oktober 2000 aksi serupa berulang. Masih di lingkungan kampus Universitas Indonesia Salemba, para mahasiswa memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan menuntut pengadilan atas mantan Presiden Soeharto.  Mahasiswa pun membentangkan spanduk tuntutan berbunyi ”Pendidikan Gratis dan Lapangan Kerja untuk Rakyat”. Suara itu masih relevan hingga kini.

Mahasiswa Universitas Indonesia memperingati Sumpah Pemuda dengan berorasi di halaman Rektorat UI di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, 28 Oktober 1980. Aksi tersebut dihadiri Adnan Buyung Nasution, memprotes ketimpangan sosial. (KOMPAS/DUDY SUDIBYO)

Sehari menjelang peringatan Sumpah Pemuda, lima puluhan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (27/10/2000). KOMPAS/ DANU KUSWORO

Pengunjuk rasa dari berbagai elemen prodemokrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda di Kampus Universitas Indonesia, Jakarta, Sabtu (28/10/2000). Dalam orasinya, mereka menuntut diadilinya mantan Presiden Soeharto. KOMPAS/ DANU KUSWORO

Tidak hanya unjuk rasa, Sumpah Pemuda diperingati dengan berbagai kegiatan. Kirab Budaya Rakyat Jakarta dengan pertunjukan pakaian adat berpadu kuliner menyemarakkan peringatan Hari Sumpah Pemuda saat hari bebas kendaraan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada tahun 2012. Arak-arakan ondel-ondel menjadi daya tarik warga yang  berolahraga saat  itu.

Bendera Merah Putih sepanjang  2.000 meter diarak oleh ratusan pelajar yang berbusana adat dalam rangkaian peringatan Sumpah Pemuda di Tugu Pahlawan, Surabaya, pada tahun 2019. Rangkaian bendera itu terlihat elok dilihat dari udara.

Di Yogyakarta, masih dalam kondisi Covid-19, mahasiswa dari berbagai daerah yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Nusantara menggelar upacara peringatan Sumpah Pemuda di Bunker Kaliadem, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, pada 28 Oktober 2021. Mereka yang berpakaian adat dan membawa bendera Merah Putih itu terlihat mengenakan masker untuk menghindari penularan.

Baca JugaSumpah Pemuda dalam Pandangan Gen Z

Setiap tahun, Harian Kompas pun terlibat dalam upaya merawat semangat Sumpah Pemuda melalui berbagai artikel. Kami selalu memberi kesempatan bagi penulis muda untuk menuangkan gagasannya. Pada peringatan Sumpah Pemuda tahun 2017, Harian Kompas berkolaborasi dengan puluhan desainer muda untuk merancang halaman Kompas dengan sentuhan seni mereka. Tak tanggung-tanggung, mereka berkantor di ruang  rapat redaksi yang selama puluhan tahun  menjadi ruang kramat yang digunakan untuk menentukan arah pemberitaan Harian Kompas.

Hari ini, Harian Kompas terbit dengan istimewa melalui edisi Indonesia, Besok…. Koran terbit dengan 24 halaman, berbagai tokoh menulis opini untuk menggugah semangat berkebangsaan.

Hampir satu abad Sumpah Pemuda, Indonesia sudah seutuhnya kita miliki. Puja-puji dalam perayaan seremonial dilakukan setiap tahunnya. Upaya-upaya untuk menjadikan Indonesia lebih baik sudah sepantasnya diperjuangkan.  

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Demo Mahasiswa, Pengendara Diimbau Hindari 4 Lokasi Ini
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Menkomdigi Buka Suara soal Ancaman Pemutusan Kabel Internet RI oleh Politisi Singapura
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat Jadi Sorotan Aksi Komite Sadar di Hari Sumpah Pemuda
• 8 jam lalueranasional.com
thumb
Sidang Pembuktian Roy Suryo, JPU Bakal Hadirkan 94 Saksi dan 26 Ahli
• 5 jam lalurctiplus.com
thumb
I.League Jelaskan Aturan 3 Pemain Asing di League Cup 2026/2027, Bisa Ganti di Pertengahan Turnamen
• 17 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.