Grid.ID - Pelaku pembunuhan istri dan anak di Madiun disebut punya IQ di atas rata-rata. Keahlian DBM bahkan diakui hingga Eropa.
Dwi Bagus Martono (40), pelaku pembunuhan istri siri Dini Hardianti (34) dan anaknya AGF (4) di Kota Madiun, Jawa Timur, ternyata bukan orang sembarangan.
Bagus diketahui memiliki tingkat kecerdasan atau IQ yang berada di atas rata-rata.
Direktur Ditreskrimum Polda Jawa Timur, Kombes Pol Roy Hutton Marulamrata, menjelaskan bahwa informasi tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan psikologis yang telah dijalani oleh pelaku. Selain memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, Bagus juga disebut menunjukkan kecenderungan psikologis untuk menempatkan dirinya sebagai sosok yang lebih unggul dibandingkan orang lain.
"Terhadap pelaku juga kita sudah lakukan tes psikologis ya. Memang kasus tes psikologi-nya sudah keluar dan sudah disampaikan kemarin. Memang ada kecenderungan tersangka ini bersifat superior," ujarnya di Selasa (27/10/2026), dikutip dari TribunJatim.com.
Roy mengatakan, dengan kecerdasan yang dimiliki, pelaku secara keji mengeksekusi pembunuhan hingga berupaya menghilangkan jejak aksinya selama dua hari.
"Dia mempunyai kelebihan dari sisi IQ, juga pintar. Kemudian juga dia juga memiliki kepintaran yang tinggi. Waktu yang dibutuhkan, yaitu 2 hari."
"Mulai dari dia melakukan peristiwa pembunuhan sampai dia mengamankan seluruh perbuatan yang dia lakukan," jelasnya.
Bagus tercatat sebagai lulusan salah satu perguruan tinggi ternama yang berada di Jawa Barat. Sementara itu, Eko Sumaryono, yang merupakan tetangga Bagus, menuturkan bahwa selama ini Bagus dikenal sebagai sosok yang cerdas dan cenderung pendiam.
"Pintar orangnya, setelah lulus SMA langsung kuliah ke luar kota," kata Eko Sumaryono, Selasa (27/10/2026).
Bagus diketahui menempuh pendidikan menengah di SMAN 2 Madiun sebelum melanjutkan studinya ke Institut Teknologi Bandung (ITB).
Baca Juga: Kronologi Pembunuhan Wakil Rektor IT&B Kabanjahe Karo, Berawal dari Pencurian sampai Pelaku Terancam Hukuman Seumur Hidup
Melansir dari Surya.co.id, Bagus juga disebut memiliki keterampilan khusus dan menjalani pekerjaan dengan posisi yang cukup menonjol. Ikbal Sermaf, selaku kuasa hukum keluarga korban, mengungkapkan bahwa Bagus bekerja di sektor perkapalan dan dikenal memiliki kemampuan yang diperhitungkan oleh rekan-rekan seprofesinya.
Menurut Ikbal, pekerjaan Bagus bukan sekadar sebagai anak buah kapal (ABK) pada umumnya. Ia disebut memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan oleh perusahaan asing di luar negeri.
"Latar belakang dari pelaku ini memang dia salah satu pekerja yang cukup dikenal di kalangan teman-temannya di bidang perkapalan."
"Dia sebenarnya bukan ABK biasa, melainkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan asing di luar negeri," Senin (26/10/2026).
Dari hasil analisis profiling dan wawancara langsung dengan pelaku, Bagus disinyalir berprofesi sebagai konsultan perkapalan.
"Mungkin semacam konsultan untuk perkapalan-perkapalan, seperti itu yang saya dalami dan saya profiling dari hasil pertanyaan saya kepada pelaku," katanya.
Sementara itu, menurut informasi dari seorang sumber internal, Bagus mempunyai keahlian khusus dalam pekerjaan pengeboran minyak lepas pantai (offshore) serta teknik pengelasan di bawah permukaan air (underwater welding). Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa sertifikat kompetensi dan izin kerja yang dimiliki Bagus berlaku untuk bekerja hingga kawasan Eropa.
"Pelaku ini ahli di pengeboran minyak lepas pantai dengan kisaran gaji 100 sampai 150 ribu Dolar AS setiap kali kontrak."
"Statusnya saat ini masih aktif bekerja dan izin kerjanya tembus sampai Eropa," ujar seorang narasumber internal saat dihubungi Senin.
Atas perbuatan kejinya, Bagus menyampaikan permohonan maaf, terutama kepada mertua atau ibu korban, serta masyarakat.
"Saya minta maaf pada keluarga pak dan masyarakat, saya mengaku salah, dan menyesal. Menyesal banget," ujarnya seraya menyibak kerumunan awak media saat digelandang oleh penyidik meninggalkan Gedung Bidang Humas Mapolda Jatim, pada Selasa, dilansir TribunJatim.com.
Baca Juga: Jejak Pembunuhan Mozza Terungkap, Pelaku Ternyata Pernah Pinjam Lakban ke Teman Kos
Bagus mengaku khilaf, sehingga melakukan perbuatan keji tersebut kepada istri siri dan anaknya.
"Saya minta maaf kepada keluarga dan semuanya. Saya minta maaf kepada keluarga dan masyarakat semua juga. Khilaf saya," tandasnya.
Sebelumnya, Kasus ini pertama kali terungkap setelah pihak keluarga korban melaporkan hilangnya DH kepada polisi di Bogor. Keluarga mulai merasa ada kejanggalan lantaran komunikasi dengan DH yang biasanya terjalin secara rutin mendadak terhenti sejak 20 September 2026.
Pihak keluarga kemudian berupaya menghubungi DBM untuk mencari tahu keberadaan DH. Namun, tersangka disebut tidak memberikan respons yang memadai sehingga menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.
Laporan kehilangan tersebut menjadi dasar awal bagi kepolisian untuk melakukan penyelidikan. Penyidik selanjutnya menelusuri berbagai petunjuk, di antaranya rekaman kamera pengawas atau CCTV, informasi yang beredar di media sosial, serta data yang tersimpan di telepon genggam tersangka.
Polisi menjelaskan, penelusuran bukti digital tersebut membantu penyidik mengembangkan penyelidikan dari perkara orang hilang menjadi dugaan kasus pembunuhan.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa DBM dan DH telah menjalani pernikahan siri selama kurang lebih dua tahun. Keduanya diketahui menikah di Kalimantan dan sempat menetap di wilayah tersebut selama sekitar dua bulan.
Dalam konferensi pers, polisi menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan awal yang diperoleh, hubungan keduanya selama ini terkesan harmonis. Namun, perselisihan yang muncul menjelang peristiwa pembunuhan diduga menjadi salah satu pemicu tindakan tersangka.
Meski begitu, penyidik masih terus mendalami latar belakang kejadian tersebut. Pendalaman juga dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat faktor lain yang berkaitan dengan persoalan pribadi di antara keduanya.
Dalam rangkaian penyelidikan, polisi menemukan beberapa serpihan tulang di area belakang rumah tersangka. Temuan itu kemudian diamankan sebagai barang bukti untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium forensik.
Roy menjelaskan bahwa penyidik masih melakukan pengumpulan dan pemeriksaan bukti guna memastikan identitas serpihan tulang tersebut serta mengetahui keterkaitannya dengan para korban.
Baca Juga: Kronologi Napi Kasus Pembunuhan Kabur dari Lapas Ambon, Nekat Bobol Plafon sampai Panjat Tembok Pakai Sarung
“Masih ada beberapa tulang-tulang yang kita temukan dan ini sudah kita serahkan untuk pemeriksaan di laboratorium forensik,” jelasnya, dikutip dari Kompas.com.
Polisi belum bisa memastikan apakah serpihan tulang yang ditemukan tersebut berasal dari jasad korban. Hingga konferensi pers digelar, hasil pemeriksaan DNA juga belum diumumkan secara resmi.
Oleh sebab itu, penyidik masih menunggu hasil analisis laboratorium forensik sebelum mengambil kesimpulan terkait temuan tersebut.
Polda Jawa Timur menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penyelidikan sementara, DBM diduga menjalankan aksinya seorang diri.
Meski demikian, kepolisian tetap membuka kemungkinan adanya pihak lain yang turut membantu dalam rangkaian kejadian tersebut. Penyidik masih menelusuri kronologi peristiwa, mulai dari hilangnya kedua korban hingga kasus pembunuhan itu berhasil diungkap.
Polisi juga mengungkapkan bahwa istri sah tersangka diduga tidak mengetahui kejadian yang berlangsung di rumah tersebut. Berdasarkan keterangan penyidik, DBM diduga menyembunyikan perbuatannya tanpa sepengetahuan sang istri.
Polda Jatim menegaskan bahwa proses penyidikan masih terus berjalan. Setiap kesimpulan yang diambil nantinya akan mengacu pada alat bukti yang berhasil dikumpulkan oleh penyidik.
Selain itu, kepolisian mengingatkan masyarakat dan media untuk tetap menghormati privasi korban, terutama anak yang terlibat dalam kasus ini. Masyarakat diimbau tidak menyebarluaskan foto, alamat, ataupun informasi pribadi lain yang berpotensi mengungkap identitas korban. (*)
Artikel Asli



