Gempa Susulan di Tibet Lebih dari 2.000 Kali, Pesan Permintaan Tolong Warga Diblokir

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

Gempa berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Kabupaten Baqing, Kota Nagqu, Tibet, dan hingga kini telah terjadi lebih dari 2.000 kali gempa susulan. Otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) membatasi akses ke wilayah bencana serta melarang pengambilan gambar, siaran langsung, dan publikasi pesan permintaan bantuan. Warga setempat mengungkapkan kepada NTD bahwa korban jiwa dan luka-luka di daerah yang terdampak paling parah sangat banyak. Namun, PKT melarang informasi tersebut diungkapkan kepada publik. Bahkan, seorang warganet dilaporkan mendapat sanksi administratif dari kepolisian karena menyebarkan informasi terkait bencana.

EtIndonesia.com Sejak gempa berkekuatan magnitudo 7 terjadi pada malam 22 Oktober di Kabupaten Baqing, Kota Nagqu, Tibet, gempa susulan terus berlangsung. Gempa susulan terbesar berkekuatan magnitudo 5,7 dan terjadi pada malam 25 Oktober.

Pada malam yang sama, Kabupaten Zaduo, Prefektur Yushu, Provinsi Qinghai, yang berbatasan dengan wilayah tersebut, juga mengalami gempa berkekuatan sekitar magnitudo 5,6 pada pukul 19.26. Pada 26 Oktober dini hari, pukul 00.46, gempa lain berkekuatan magnitudo 4,2 kembali terjadi.

Kabupaten Sog, yang berbatasan dengan Kabupaten Baqing dan berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat gempa di Kecamatan Maru, tidak mengalami keruntuhan bangunan. Namun, rumah-rumah yang dibangun menggunakan beton bertulang mengalami keretakan. Sebagian diantaranya bahkan menjadi bangunan yang membahayakan keselamatan penghuninya. Warga terus mengirimkan pesan permintaan bantuan, tetapi pesan-pesan tersebut diblokir.

“Gempa bumi ini sangat mengerikan. Semua rumah mengalami keretakan dan kondisinya sangat berbahaya. Kami tidak berani tinggal di rumah, sehingga keluar dan mendirikan tenda untuk tinggal di luar,” kata Seorang warga Kabupaten Sog yang menggunakan nama samaran Sangji. 

“Banyak sekali orang yang membeli tenda. Pedagang yang tidak bermoral menaikkan harga tenda. Tenda yang biasanya dijual seharga 130 yuan kini dijual seharga 200 yuan, bahkan lebih,” tambahnya. 

Seorang warga Kabupaten Sog lainnya, yang menggunakan nama samaran Lamu, mengatakan: “Gempa susulan sangat sering terjadi. Terkadang terdengar suara seperti angin bertiup kencang, dan kami mengira memang sedang ada angin kencang, padahal sebenarnya sedang terjadi gempa.”

“Kadang-kadang tanah atau bangunan berguncang, membuat orang sangat ketakutan. Bagaimana mungkin kami berani tinggal di rumah? Saat tidur pada malam hari pun kami merasa sangat tidak tenang. Di dalam tenda juga terasa agak dingin,” lanjutnya. 

Dalam beberapa hari terakhir, seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah, berasal dari Desa Qugu, Kecamatan Maru—yang juga dikenal sebagai Desa ke-13—mengirimkan pesan permintaan bantuan. Ia mengatakan bahwa warga membutuhkan selimut dan berbagai perlengkapan darurat. Sebagian besar rumah telah roboh, sementara selimut dan makanan tertimbun reruntuhan.

Seorang warga yang membantu korban bencana, bermarga Wang dan menggunakan nama samaran, mengungkapkan bahwa wilayah bencana berada pada ketinggian rata-rata 4.800 meter di atas permukaan laut, dengan cuaca yang sangat dingin.

Otoritas setempat membatasi akses ke daerah bencana. Pengiriman bantuan harus melalui proses permohonan izin, sementara pengambilan video dan siaran langsung juga dilarang. Orang-orang yang tertimbun di dalam rumah bahkan tidak dapat keluar. Warga desa pun dilarang mengungkapkan jumlah korban jiwa kepada pihak luar.

Wang mengatakan: “Desa ke-13 merupakan daerah yang kekurangan pasokan bantuan. Banyak rumah roboh dan tanah mengalami banyak retakan. Dampak bencananya sangat parah, dan jumlah korban meninggal cukup banyak.

Di sini benar-benar sangat dingin, suhunya mencapai minus 6 derajat Celsius. Semua orang tinggal di dalam tenda. Kondisi kehidupan mereka benar-benar sangat sulit.”

Pada 22 Oktober malam, klinik kesehatan Kecamatan Maru mengalami kerusakan parah dan mengirimkan pesan permintaan bantuan. Sejumlah kendaraan kemudian berdatangan untuk memberikan pertolongan, membawa korban luka ke Kabupaten Sog, Kota Nagqu, dan Lhasa untuk mendapatkan perawatan medis.

Seorang tenaga medis dari Kecamatan Maru yang menggunakan nama samaran Deji mengatakan: “Gempa terjadi dan listrik padam. Apotek juga roboh sehingga tidak ada obat lagi. Seluruh bangunan rawat inap ambruk.

Kami melarikan diri dari ruangan dan menyelamatkan banyak orang. Ada yang berhasil diselamatkan, tetapi ada juga yang tidak tertolong. Hanya ada satu ambulans. Jumlah orang yang meninggal di Desa ke-3 cukup banyak. Kami terus melakukan upaya penyelamatan, bahkan sampai tidak sempat makan.”

Pada 23 Oktober, seorang warganet mengunggah pesan di grup WeChat yang menyebutkan bahwa gempa Baqing telah menewaskan 32 orang. Angka tersebut berbeda dari data resmi pemerintah yang menyatakan terdapat 16 korban meninggal dunia. Akibat unggahan tersebut, warganet itu justru dikenai sanksi administratif oleh kepolisian.

Laporan wawancara: Xiong Bin dan Bai Ni, NTD Television.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Demo di Jakarta Hari Ini, Simak Daftar Titik-Titik Lokasi Aksi Massa Berikut
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
PLN Siap Pasok Listrik untuk Industri Pusat Data, Permintaan Capai 20 GW di Luar Rencana RUPTL
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Satu prajurit Kopassus jadi tersangka kasus lalai menggunakan senjata
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Solusi Efisiensi dan Keselamatan Bangunan Pakai Teknologi Startup, Contohnya?
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
IHSG Ditutup Melemah 1,99% ke Level 5.266,13, Rupiah Juga Turun ke Rp 18.164
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.