Waduk Cipancuh berjarak 60 kilometer dari pusat kota Indramayu, tepatnya berada di Desa Situraja, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Waduk seluas 700 hektar tersebut berfungsi sebagai sumber irigasi utama bagi lahan pertanian. Kekeringan akibat musim kemarau panjang berdampak pada kurangnya kebutuhan air persawahan di empat kecamatan, yakni Gantar, Haurgeulis, Kroya, dan Anjatan.
Selasa (27/10/2026) sore, tiga petugas operator Waduk Cipancuh tengah mengecek pintu air. Mereka mengatakan air bendungan mulai surut sejak Juni 2026, sedangkan mulai kering dalam empat bulan terakhir. Waduk tersebut selalu kering pada musim kemarau karena hanya berfungsi sebagai penampung air hujan.
Sementara itu, Cecep (51) menggembala 20 ekor domba di dasar waduk. Sejak pukul 12.00 WIB hingga 17.00 WIB, Cecep mengikuti jalannya domba mencari rumput. Tongkat kayu sesekali ia gunakan untuk menghalau rombongan agar tidak terlalu jauh berpisah. Sebuah ember berisi air tak lupa dibawa untuk memberi minum dombanya.
Menggembala Domba (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Pintu Air (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Warto Membawa Rumput (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Lain lagi dengen Warto (55). Sore itu Warto menyabit rumput untuk pakan domba di sawah mengering yang berbatasan dengan bendungan. ”Sejak bulan Mei sudah tidak ada hujan, danau mengering. Rumput di dasar danau pendek-pendek, masih bagusan rumput yang tumbuh di sawah panjang-panjang. Saya mencari rumput dari jam dua siang hingga jam lima sore dan hanya dapat satu karung. Rumput juga banyak yang tidak tumbuh lagi. Namanya juga wong cilik, kudu tetap bekerja,” kata Warto.
Beranjak sore, jalan aspal di pinggiran waduk mulai ramai oleh muda-mudi. Mereka naik sepeda motor untuk menikmati senja sembari memandang lanskap waduk yang mengering dan hanya hijau oleh tanaman liar. Dalam lima tahun terakhir, kawasan ini ramai sebagai tujuan wisata gratis bagi warga setempat. Selain nongkrong dan bercengkerama, warga sekitar juga memanfaatkan untuk berolahraga.
Ramainya warga yang berwisata gratis dimanfaatkan oleh penjual makanan dan minuman. Ade (49) salah satunya. Ada 10 penjual lainnya yang menunggu pembeli di dekat pintu air. Ade menjual cilok yang dinamai Cilok Adoel.
”Saya berjualan dari pagi jam tujuh hingga azan maghrib. Ramainya kalau Sabtu dan Minggu, pada olahraga keliling. Dalam lima tahun terakhir tempat ini dijadikan kawasan nongkrong, terutama pagi dan sore,” kata Ade.
Waduk Cipancuh dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1927. Waduk ini sering disebut warga sekitar dengan nama Wadukan. Danau buatan ini pernah direkontruksi pada tahun 1972. Fungsi waduk ini untuk menampung air pada musim hujan dan mengalirkannya ke sungai irigasi di sekitarnya.
Pintu air
Nongkrong di Waduk Cipancuh
Waduk Cipancuh pernah mengalami longsor dan ambles pada akhir Januari hingga 10 Februari 2009. Tepatnya berada di ruas lereng hilir, sekitar 150 meter di sebelah kiri saluran masuk Cipancuh. Panjang amblesan mencapai 30 meter di bagian puncak hulu dan 50 meter di bagian hilir. Kerusakan dipicu oleh ketidakstabilan struktur tanggul urukan tanah yang mengalami peronggaan, rembesan, dan tekanan air.
Mendung gelap terlihat di kejauhan. Sinar matahari tertutup awan. Namun, hingga gelap dan sepi oleh aktivitas warga, hujan tak juga turun di Waduk Cipancuh. Semoga hujan segera turun dan kembali menggenangi waduk sehingga petani bisa kembali menggarap sawah.





