Perguruan Tinggi Berinovasi Mengelola Sampah Organik hingga Limbah Elektronik

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Pengelolaan sampah yang menjadi proyek strategis nasional kini melibatkan perguruan tinggi. Tidak hanya berhenti pada pengembangan riset dan inovasi teknologi pengolahan sampah, penerapan program pengelolaan sampah juga melibatkan para mahasiswa.

Pelibatan perguruan tinggi dalam pengelolaan sampah dari riset dan inovasi hingga penerapannya menjadi pembahasan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersama dengan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arief Satria.

Pendekatannya diarahkan untuk mengidentifikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah, sekaligus mengevaluasi efektivitas penerapannya sebelum diperluas ke lokasi lain.

Untuk itu pelaksanaan program tersebut memerlukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait, terutama dalam memastikan kesiapan lahan, pembiayaan, serta pengelolaan operasional fasilitas agar teknologi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Nanti kita bikin tim kecil, pilih desanya mana, lalu mana yang mau kita implementasikan. Sosialisasi dan pendampingan dapat melibatkan mahasiswa agar program ini berjalan kontinyu. Kita bisa mendukung yang dijalankan BRIN,” ucap Brian, dalam siaran pers Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Baca JugaJutaan Ton Sampah Belum Dikelola, Kampus dan Sekolah Bisa Berperan Menuntaskannya

Brian menegaskan, Kemendiktisaintek dan BRIN tengah membahas berbagai teknologi pengolahan sampah yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pada berbagai skala, mulai dari rumah tangga hingga fasilitas pengolahan yang lebih besar.

Pilihan teknologi tersebut mencakup pengolahan sampah organik menjadi kompos, pemanfaatan sampah organik untuk menghasilkan biogas, hingga pengolahan sampah plastik tertentu melalui proses pirolisis.

Pertemuan itu juga menyoroti pentingnya mendorong hasil riset dan inovasi, agar dapat diterapkan secara nyata. Salah satu gagasan yang dibahas yakni penjajakan proyek percontohan di sejumlah daerah untuk menguji kesesuaian teknologi dengan kebutuhan lapangan.

Kepala BRIN Arief Satria menjelaskan berbagai keunggulan teknologi pengelolaan sampah pada level rumah tangga dengan biaya murah sudah diterapkan di berbagai wilayah.

“Misalnya kemarin beberapa kota, Semarang, Bandung banyak yang melakukan. Ada Lahsamor, ada komposter aerob statis, dan biogas dari sampah dapur. Di level desa ada mesin paralysis Faspol generasi lima. Ini menghasilkan bahan bakar setara solar. Saya memasukkan ke perahu nelayan, sudah jalan serta diterapkan di 80 titik di Indonesia,” kata Arief.

Menurut Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN Cuk Supriyadi Ali Nandar, selain untuk level rumah tangga, ada teknologi Fast Pyrolysis 5.0 (Faspol 5.0) yang mengolah sampah plastik jadi bahan bakar cair bernama Petasol. Teknologi ini memakai proses pirolisis untuk mengonversi limbah plastik jadi bahan bakar alternatif dengan karakteristik setara solar.

Sejauh ini pemanfaatan petasol telah diuji pada sejumlah aplikasi, termasuk perahu nelayan dan alat pertanian. Inovasi itu jadi contoh pemanfaatan riset dan teknologi untuk mendukung pengelolaan sampah sekaligus menghasilkan produk bernilai guna bagi masyarakat.

Sementara pengomposan berkapasitas lebih besar, insinerator, dan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif juga menjadi bagian dari pemaparan. Pemilihan teknologi perlu mempertimbangkan jenis dan volume sampah, kapasitas pengolahan, kebutuhan perawatan, biaya operasional, serta kesesuaian dengan kondisi wilayah.

Selain aspek teknis dan pelibatan warga, pertemuan membahas pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan badan usaha untuk mendukung pemanfaatan teknologi. Pembagian peran pengembang teknologi, pengelola fasilitas, pemerintah daerah, dan mitra pelaksana perlu dirancang secara jelas agar berjalan efektif dan berkelanjutan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Industri dan Bahan (PRTIB) BRIN Firman L Sahwan menjelaskan, sampah organik yang mendominasi timbulan sampah nasional bisa menghasilkan emisi metana jika tak dikelola dengan baik.

Untuk itu BRIN mengembangkan teknologi pengomposan skala rumah tangga hingga kota guna mengurangi dampak lingkungan sekaligus menghasilkan pupuk organik.

“Sampah organik, terutama dari sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan limbah kebun, mendominasi timbulan sampah nasional. Karena itu pengomposan jadi langkah strategis mengurangi dampak lingkungan sekaligus menghasilkan pupuk organik,” jelas Firman di laman BRIN.

Pada skala rumah tangga, BRIN memiliki berbagai teknologi komposter sederhana dan efektif, seperti komposter aerobik rotary cluster, komposter aerobik pipa aerasi, komposter anaerobik statis, komposter biopori, hingga ecoenzyme. 

Untuk skala kawasan, pengomposan dengan volume lebih besar dilakukan dengan komposting sistem windrow bergulir, komposting sistem bak aerasi bergulir, dan aerated hot composter. “ Sistem ini dapat diterapkan di pemukiman, perkantoran, kampus, dan fasilitas publik lain,” ujarnya.

Keberhasilan teknologi pengomposan tidak hanya bergantung pada inovasi teknis, tetapi juga memerlukan dukungan kebijakan, infrastruktur, serta partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

Pada skala kota, BRIN mengembangkan mechanical windrow, yakni sistem pengomposan dengan alat pembalik mekanis untuk menangani sampah dalam jumlah besar secara efisien. Teknologi ini dinilai potensial diterapkan pemerintah daerah dalam mendukung pengelolaan sampah perkotaan yang modern dan berkelanjutan.

“Keberhasilan teknologi pengomposan tidak hanya bergantung pada inovasi teknis, tetapi juga memerlukan dukungan kebijakan, infrastruktur, serta partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya,” ungkap Firman.

” Teknologi tersedia, tantangan berikut yakni mendorong adopsi luas melalui edukasi, kolaborasi, dan penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu. Kami berharap inovasi pengomposan jadi rujukan pengelolaan sampah yang efektif dan ramah lingkungan serta mendukung pembangunan berkelanjutan,” tuturnya.

Limbah elektronik

Pemerintah Indonesia juga menjajaki peluang kerja sama dengan Jepang dalam pengembangan teknologi daur ulang limbah elektronik dan baterai bekas, serta bioetanol sebagai energi alternatif. Hal ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk merespons tantangan bidang energi.

Hal itu terungkap dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Executive Director of the Technology and Innovation Strategy Center (TSC), New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), Kikuo Kishimoto, di Jakarta, pada Selasa (27/10/2026),

“ Kita harus berpikir cepat, Indonesia menjajaki kerja sama dengan berbagai negara untuk mengembangkan industri kita. Kita membutuhkan dukungan teknologi dan keterlibatan mitra industri, agar hasil riset dapat dikembangkan jadi solusi yang sesuai kebutuhan nasional,” kata Brian.

Baca JugaLimbah Elektronik Amerika Banjiri Asia, Indonesia Sasaran Terbesar Kedua
Baca JugaMegaproyek Pengelolaan Sampah untuk Energi Punya Banyak Catatan

Peluang pengembangan teknologi daur ulang limbah elektronik dan baterai bekas dengan Jepang berpotensi memulihkan material bernilai dari limbah, untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri.

Kikuo Kishimoto, penelitian untuk memulihkan material dari baterai masih berada pada tahap awal. Ia menyampaikan keterbukaan terhadap pengembangan teknologi yang dapat mendukung kebutuhan Indonesia.

Pembahasan juga mencakup pengolahan limbah plastik melalui pendekatan upcycling, yaitu mengolah material bekas jadi produk dengan nilai guna lebih tinggi. Salah satu contoh yang dibahas yakni pemanfaatan botol plastik bekas jadi material yang bisa digunakan kembali dalam proses industri.

Selain pengolahan limbah, pertemuan itu membahas peluang pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif. Pembahasan menyoroti kebutuhan teknologi yang kompetitif dari sisi harga dan kepastian pasar agar hasil produksi dapat dimanfaatkan industri.

Brian menyampaikan keinginan berdiskusi dengan perusahaan otomotif Jepang terkait potensi dukungan terhadap pengembangan bioetanol. “ Pengembangan berbagai teknologi itu membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha,” ungkapnya.

” Perguruan tinggi dapat mendukung riset dan pengujian teknologi. Sementara mitra industri berperan dalam mengkaji kebutuhan produksi serta potensi penerapannya,” papar Brian.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sumpah Pemuda di Antrean Kedai Kopi SCBD Jakarta
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tito Siapkan Dana Rp 1 T untuk Daerah yang Paling Dukung Program MBG
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura di Hambalang
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Nathan Tjoe-A-On Tampil Penuh saat Willem II Kalahkan Helmond 4-3 dan Lolos ke Babak Berikutnya Piala Belanda
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Persib Bandung Sikat Melbourne Victory, Intip Klasemen Grup E ACL Two 2026/2027
• 3 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.