PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 25 pencatatan saham baru dan 905 pencatatan efek pada 2027. Target tersebut tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) BEI tahun buku 2027, seiring upaya bursa memperkuat pendalaman pasar modal dan memperluas sumber pendanaan bagi perusahaan.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrick mengatakan, target pencatatan efek baru pada 2027 meningkat 13,1 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi sebanyak 800 efek.
Target tersebut terdiri dari 25 pencatatan saham baru, 175 emisi obligasi dan sukuk, serta 705 efek lainnya, termasuk waran, infrastruktur, dan produk investasi kolektif, sesuai transkrip paparan BEI.
Selain pencatatan efek, BEI membidik rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp 21 triliun pada 2027. Target tersebut meningkat 16,7 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi sebesar Rp 18 triliun, dengan asumsi 241 hari bursa.
Bursa juga menargetkan rata-rata investor aktif bulanan mencapai 1,3 juta investor, naik 44,4 persen dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi sebanyak 900 ribu investor.
Jeffrey menjelaskan, penyusunan RKAT 2027 mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik dan global, prospek pertumbuhan pasar modal, serta capaian kinerja tahun berjalan. Meski ketidakpastian global masih menjadi perhatian, BEI melihat peluang pertumbuhan dari stabilitas ekonomi domestik, arah kebijakan pemerintah yang mendorong investasi, dan perkembangan aktivitas pelaku pasar modal.
“Pencatatan efek baru ditargetkan sebesar 905 efek meningkat 13,1 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi sebesar 800 efek. Target tersebut mencakup 25 pencatatan saham baru 175 emisi obligasi dan sukuk serta 705 efek lainnya,” kata Jeffrey dalam paparan RUPSLB BEI, Rabu (28/10).
Untuk mendorong pertumbuhan investor, BEI akan memperluas jangkauan edukasi, literasi, dan aktivasi melalui jaringan kantor perwakilan, galeri investasi, serta pemanfaatan kanal digital. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan partisipasi masyarakat di pasar modal.
Dalam RKAT 2027, BEI menyusun 51 rencana kerja dengan total anggaran Rp 596,4 miliar. Anggaran itu dialokasikan ke dalam dua kelompok utama, yakni pilar bisnis sebesar Rp 186,8 miliar atau 31,3 persen dari total anggaran, serta kelompok enabler sebesar Rp 409,7 miliar atau 68,7 persen.
Anggaran pilar bisnis mencakup penguatan bisnis transaksi dan nontransaksi, peningkatan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat, serta perluasan partisipasi investor. Sementara itu, anggaran enabler difokuskan pada penguatan infrastruktur dan kapabilitas pendukung.
Dari total anggaran enabler, sebesar Rp380,7 miliar diarahkan untuk penguatan dan optimalisasi aset teknologi informasi. Alokasi tersebut ditujukan untuk mendukung keandalan sistem, kapasitas layanan, dan kesiapan pengembangan pasar ke depan.
Rencana kerja tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Masterplan BEI 2026–2030. Pada fase awal yang disebut fundamental reinvention, bursa memprioritaskan penyelarasan produk dengan kebutuhan pasar, perluasan akses investor, serta penguatan infrastruktur, proses operasional, dan tata kelola.
BEI juga menyiapkan inisiatif untuk memperkuat transparansi dan perlindungan investor, meningkatkan likuiditas dan mekanisme perdagangan, serta memperluas produk investasi. Sejumlah langkah yang telah dilakukan antara lain penyempurnaan metodologi konsentrasi kepemilikan saham, penerbitan ketentuan papan pemantauan khusus, penyesuaian harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1, serta penerbitan ETF emas.
Dari sisi keuangan, BEI memproyeksikan pendapatan sebesar Rp 2,59 triliun pada 2027, tumbuh 14,6 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi. Pendapatan tersebut ditopang oleh aktivitas transaksi efek, jasa pencatatan efek, dan layanan data kebursaan.
BEI juga memproyeksikan laba bersih sebesar Rp 563,9 miliar pada 2027, meningkat 22,76 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi. Total aset perseroan diperkirakan mencapai Rp 9,12 triliun, dengan total ekuitas sebesar Rp 7,66 triliun.
Untuk mendukung pengelolaan infrastruktur dan pertumbuhan bisnis, BEI menganggarkan belanja investasi sebesar Rp 670 miliar pada 2027, meningkat 161,82 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi.





