Muhaimin Hadratul Fadhil (26), berdiri di tengah ruang diskusi yang diselenggarakan Harian Kompas bertajuk ”Indonesia, Besok”. Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda itu, ia bertanya soal kondisi ekonomi bangsa dan pandangan seorang Anies Baswedan soal masa depan Indonesia.
Ia bukanlah seorang pakar atau politisi yang diundang secara khusus. Bagi dia, merogoh kocek sebesar Rp 125.000 untuk mengikuti diskusi itu bukanlah kesia-siaan, melainkan investasi intelektual bagi masa depan.
”Saya bilang investasi karena kita ke sini bisa bertukar pikiran, bertarung dengan gagasan-gagasan aktor-aktor politik, praktisi-praktisi,” katanya.
Meskipun ia seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dari salah satu kementerian, kehadirannya di diskusi merupakan inisiatif pribadi. Acara diskusi dan pelatihan, baik berbayar maupun gratis, menjadi wadahnya mengasah kemampuan berpikir. Bahkan, ia tak ragu untuk mengajukan izin tidak masuk kantor demi menghadiri acara diskusi ini.
Segala diskusi dan pelatihan yang diikutinya bakal berujung menjadi bahan pembelajaran, riset, hingga bekal untuk studi masternya mendatang. ”Berhenti belajar itu seperti berhenti hidup. Siapapun pasti selalu belajar dan mengembangkan diri, apapun pekerjaannya,” katanya.
Seperti halnya Muhaimin, Irfan Miftah (28), seorang karyawan perusahaan swasta, datang jauh-jauh dari Cilacap menuju Jakarta demi menghadiri diskusi. Ia tiba sekitar pukul 9.00 dan langsung menuju ruang diskusi.
Saya bilang investasi karena kita ke sini bisa bertukar pikiran, bertarung dengan gagasan-gagasan aktor-aktor politik, praktisi-praktisi.
Bagi Irfan, kehadirannya bukan sekadar rutinitas mendengarkan pemaparan narasumber, melainkan sebuah misi ”belanja ilmu” dan ”belanja isu”. Pekerjaan menuntutnya untuk terus mengasah ilmu dan kemampuan merespons suatu peristiwa.
Hal yang membuatnya tertarik dari diskusi ”Indonesia, Besok” adalah narasumber yang dihadirkan. Dalam diskusi, Kompas menghadirkan sejarawan Hilmar Farid dan pendiri Karsa City Lab Anies Baswedan. Dua tokoh itu memantiknya untuk menempuh perjalanan 380 kilometer dari kampungnya.
”Karena saya pribadi harus banyak belanja isu. Gimana misalkan rekomendasi arah politik pemerintah itu ke mana, arah ekonomi gimana. Kita kasih rekomendasi supaya pimpinan-pimpinan atau stakeholder di internal ini bisa mengambil keputusan yang tepat,” jelas Irfan.
Ia menyimak dengan seksama bagaimana Hilmar menarik garis sejarah pembentukan Indonesia yang kompleks hingga bisa bersatu melalui ikrar Sumpah Pemuda. Begitu pula saat Anies memaparkan anomali tata kota, seperti karakteristik wilayah Cibinong yang secara struktur ekonomi layaknya sebuah kota, tetapi secara birokrasi kewilayahan masih berstatus kecamatan. Analisis-analisis strategis semacam ini dinilai menjadi bekal berharga bagi Irfan.
Pengajar komunikasi politik dari Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo, berpandangan, fenomena partisipasi anak-anak muda di ruang diskusi berbayar bukanlah sekadar urusan transaksional. Fenomena ini merupakan bagian dari konsep political consumerism, sebuah kondisi di mana politik telah menjadi komoditas yang dicari, terutama oleh generasi muda.
”Di sini tidak hanya soal konsumerisme sendiri, tapi political consumerism itu juga menunjukkan ada ownership (rasa kepemilikan) terhadap sebuah isu, ada komitmen terhadap sebuah isu,” jelas Kunto.
Keputusan seorang anak muda untuk membeli tiket atau membayar demi sebuah acara politik, menurut dia, menunjukkan sebuah sikap identitas yang kuat. Mereka sedang menempatkan diri bahwa isu politik kebangsaan yang dibahas tidak terlepas dari bagian identitas mereka. Kerelaan mereka untuk membayar, merupakan bentuk materialisasi dari komitmen terhadap isu itu sendiri.
Lebih jauh, Kunto menganalogikan antusiasme di ruang diskusi politik ini layaknya sebuah konser musik. Publik memang selalu bisa menikmati materi politik secara gratis melalui siaran langsung atau gawai mereka. Namun, ada pengalaman ruang dan keterlibatan emosional yang hanya bisa didapatkan dengan hadir secara fisik.
Di sanalah sebuah diskusi politik menjadi lebih hidup. Seperti halnya Muhaimin yang berani melontarkan kerisauannya secara langsung tanpa hambatan medium.
”Itu pendidikan politik yang sehat sih buat anak muda. Dan mereka membeli itu, yang mereka beli kan experience (pengalaman) ya, bukan hanya substansi diskusinya,” katanya.
Keberanian anak-anak muda untuk menyisihkan waktu dan uang demi beradu gagasan, sejatinya membuktikan kepedulian mereka terhadap ke masa depan bangsa.





