Anak Usia 7 Tahun Takut Dewasa dan Kehilangan Orang Tua, Bagaimana Menyikapinya?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Akun Instagram @dellakaramoy membagikan video anaknya yang menangis menjelang ulang tahun ke-7. Sang anak mengaku tidak ingin menjadi dewasa seperti ibunya karena merasa kehidupan orang dewasa itu sulit. Ia juga takut, semakin bertambah usianya, sang ibu akan semakin tua dan suatu saat tidak lagi tinggal bersamanya.

Momen tersebut memunculkan pertanyaan, mengapa anak bisa merasa takut menjadi dewasa dan kehilangan orang tuanya?

Psikolog Pendidikan, Gita Aulia Nurani, Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa ketakutan terhadap bertambahnya usia dan kehilangan orang tua merupakan hal yang wajar dalam perkembangan psikologis anak.

Ketakutan ini berkaitan dengan ikatan emosional atau attachment anak dengan orang tua sebagai sumber rasa aman. Bagi anak, membayangkan kehilangan orang tua berarti membayangkan kehilangan sosok yang selama ini memberikan perlindungan, kenyamanan, dan kasih sayang.

Bagaimana Anak Usia 7 Tahun Memahami Kehilangan?

Pada usia 7 tahun, kemampuan berpikir logis anak mulai berkembang. Namun, pemahamannya terhadap konsep abstrak seperti waktu, kematian, dan kehilangan masih terus bertumbuh.

“Pada usia 7 tahun, anak mulai memahami bahwa setiap orang akan bertambah tua dan kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, secara emosional, anak belum tentu mampu mengelola pemahaman tersebut dengan baik,” ucap Gita, Kamis (15/10).

Akibatnya, anak bisa merasa cemas, sedih, bahkan menangis ketika membayangkan kemungkinan berpisah dengan orang yang disayanginya, meskipun peristiwa itu belum terjadi.

Cara Menenangkan Anak yang Takut Kehilangan Orang Tua

Ketika anak menangis karena takut kehilangan orang tuanya, orang tua sebaiknya tidak langsung menyangkal perasaan tersebut atau buru-buru mengalihkan pembicaraan. Hal terpenting adalah memvalidasi perasaan anak dan memberikan rasa aman melalui pelukan, perhatian, serta penjelasan sederhana sesuai usianya.

Orang tua juga perlu menghindari janji yang tidak realistis, seperti mengatakan bahwa mereka akan hidup selamanya. Sebaliknya, bantu anak memahami bahwa saat ini mereka masih memiliki banyak waktu untuk bersama dan menikmati kebersamaan.

“Orang tua dapat memberikan rasa aman melalui pelukan, perhatian, dan penjelasan sederhana yang sesuai dengan usia anak. Bantu anak memahami bahwa saat ini mereka masih memiliki banyak waktu untuk bersama dan menikmati kebersamaan tersebut,” imbuhnya.

Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi dengan Psikolog?

Ketakutan anak terhadap kehilangan orang tua tidak selalu menandakan adanya masalah psikologis. Namun, jika kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu tidur, aktivitas sekolah, atau kegiatan sehari-hari, orang tua sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak.

Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar mengenali dan mengelola perasaannya. Yang terpenting, buat si kecil merasa aman untuk bercerita, bertanya, dan mengungkapkan ketakutannya tanpa merasa dihakimi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Skybridge Rusak yang Dipenuhi Karangan Bunga di Stasiun Bojonggede Segera Direnovasi
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BGN Klarifikasi Dugaan Keracunan MBG di Dramaga Bogor: Yang Benar 13 Orang
• 10 menit lalukompas.tv
thumb
Foto: Operasi Patuh Kembali Digelar Untuk Menertibkan Jalan dan Menekan Kecelakaan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
AS Ketar-ketir Perang Meluas, Pangkalan Militer Wajib Siaga 90 Hari
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kalimantan Akhirnya Turun Hujan, Rara Pawang Hujan Klaim Berkat Ritualnya
• 3 jam lalucumicumi.com
Berhasil disimpan.