JAKARTA, DISWAY.ID-- Semangat Sumpah Pemuda 1928 ternyata masih hidup sampai hari ini. Hal itu ditekankan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra.
Yusril menyebut ikrar satu nusa, satu bangsa, satu bahasa bukan lagi sekadar hafalan sekolah, melainkan sudah menjadi kenyataan yang mengikat ratusan bahasa daerah di Indonesia.
BACA JUGA:BGN Setop Operasional SPPG Dramaga 04, Imbas Siswa Tiga Sekolah Keracunan MBG
Hal itu disampaikan dalam Konferensi Peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda di Gedung Makara UI, Depok, Rabu (28/10).
"Kita laksanakan sekarang seluruhnya. Satu bangsa, satu negara, satu bahasa betul-betul sudah kita hayati. Ini kekuatan luar biasa, padahal kita punya ratusan bahasa daerah," kata Yusril.
Yang membuat Yusril kagum, rasa cinta Indonesia justru paling kuat di wilayah perbatasan. Di Pulau Rote, Sangihe, hingga Miangas, daerah yang secara ekonomi belum sepenuhnya sejahtera — nasionalisme warga tetap tak luntur.
BACA JUGA:Jaro Ade Dipanggil KPK Besok Soal Kasus Korupsi di Kabupaten Bogor
"Tetaplah mereka itu mencintai negara, mencintai bangsa kita ini," ujarnya.
Menurut Yusril, modal sosial sebesar itu harus dijaga dengan satu kunci utama: kepastian hukum.
"Ini menjadi modal penting untuk melanjutkan pembangunan. Fokus kita tetap pembangunan dan pemerataan sosial. Karena tanpa adanya keadilan dan kepastian hukum, sulit bagi kita untuk mencapai kesejahteraan," tegasnya.
Sementara itu, Rektor UI Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah yang mendampingi Yusril sepakat bahwa jika 98 tahun lalu Sumpah Pemuda berhasil membuat semua orang merasa Indonesia, PR selanjutnya adalah mewujudkan kedaulatan ekonomi.
BACA JUGA:Astra Targetkan Revitalisasi 700 Posyandu dan 7.000 Sekolah Sambut HUT ke-70
"Hari ini 28 Oktober hari yang spesial. 98 tahun lalu para pemuda kita mengikrarkan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dan sekarang kita merasakan betul. Yang di Jabodetabek aja kadang lupa bahasa daerahnya, sehari-hari pakai Bahasa Indonesia. Artinya Sumpah Pemuda itu sudah membuahkan hasil," kata Heri.
"Setelah merdeka secara politik tahun 1945, tujuan berikutnya bagaimana kita menjadi bangsa yang betul-betul maju dengan kedaulatan politik dan kedaulatan ekonomi," pungkasnya.





