Hotspot Karhutla Turun Jadi 79 Titik, Enam Provinsi Nihil

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berkepercayaan tinggi secara nasional turun menjadi 79 titik hingga Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB. Sebanyak enam provinsi prioritas pengendalian karhutla juga tercatat nihil hotspot berdasarkan pemantauan satelit.

Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi menyatakan, berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), jumlah hotspot tersebut turun 14 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 93 titik.

"Sebanyak enam provinsi yang nihil hotspot meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Riau. Sehari sebelumnya, keenam provinsi tersebut masih mencatat total 10 hotspot," kata Ristianto dikutip dari Media Indonesia, Rabu, 28 Oktober 2026.
 

Baca Juga :

Karhutla di Toraja Utara Berhasil Dipadamkan

Meski demikian, Kementerian Kehutanan menegaskan nihilnya hotspot berdasarkan pemantauan satelit tidak serta-merta menandakan kebakaran telah sepenuhnya padam. Kondisi di lapangan tetap harus dipastikan melalui pengecekan langsung, patroli, dan penyisiran oleh petugas.

Laporan Posko Pengendalian Karhutla Kementerian Kehutanan pada 27 Oktober menunjukkan pemadaman masih diperlukan di sejumlah lokasi. Di Kalimantan Tengah, misalnya, penanganan masih berlangsung di kawasan Taman Nasional Sebangau, termasuk Sungai Koran dan Tjilik Riwut KM 32, Palangka Raya. Kedua lokasi tersebut berada di lahan gambut dan masih membutuhkan penanganan lanjutan.


Penanganan karhutla. Foto: Antara.

Di Sumatra Selatan, operasi pemadaman masih diperlukan di sejumlah lokasi di Ogan Komering Ilir serta kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Banyuasin. Sementara di Jambi, kebakaran di sejumlah lokasi di Tanjung Jabung Timur telah dipadamkan meskipun api aktif.

Petugas masih menemukan kepulan dan titik asap. Sehingga pembasahan serta penyisiran tetap dilakukan.

Ristianto menjelaskan, kebakaran di lahan gambut berpotensi menyisakan bara di bawah permukaan tanah, meskipun tidak lagi terdeteksi sebagai hotspot. 

"Karena itu, petugas tetap melakukan pembasahan, penyisiran bara, pemadaman lanjutan, dan pendinginan untuk mencegah kebakaran kembali muncul," sebut Ristianto.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bahlil sebut Minyak Setara Emas dan Picu Ketegangan di Asia Tenggara
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Membaca Sinyal Belanja Saham Danantara Jelang RUPSLB BEI, Bagaimana Skenarionya?
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kinerja APBN Kalteng: Penerimaan Pajak Tumbuh 34,47 Persen per September 2026
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Frugal Living dan Melambatnya Daya Beli Kelas Menengah
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Wamendagri Bima Arya Tekankan Sinkronisasi Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan
• 13 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.