Palangka Raya: Hujan yang mengguyur Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, selama dua hari terakhir mulai membawa kelegaan bagi warga. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berangsur menghilang, sementara aktivitas masyarakat dan perdagangan di pasar tradisional mulai kembali normal.
Namun, pakar forensik kebakaran hutan, Profesor Bambang Hero Saharjo, mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Hujan yang turun belum merata sehingga potensi kebakaran masih perlu diwaspadai, terlebih El Nino diperkirakan kembali terjadi pada awal 2027.
Sejumlah pedagang di Pasar Jalan Jawa, Palangka Raya, mengaku bersyukur karena pembeli mulai berdatangan setelah kondisi udara membaik. Salah satunya Suparti, yang menyebut aktivitas jual beli di lapaknya mulai kembali lancar.
“Pembeli alhamdulillah lancar,” ujar Suparti dikutip dari tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu 28 Oktober 2026.
Sementara itu, pedagang lainnya, Nur Hatimah, mengungkapkan pendapatannya sempat turun drastis saat kabut asap menyelimuti kota. Dari yang biasanya mencapai Rp2 juta, pendapatannya turun menjadi sekitar Rp500 ribu.
“Awalnya dapat Rp2 juta, jadi seperempatnya aja, Rp500 ribu,” kata Nur Hatimah.
Bambang Hero Saharjo mengimbau masyarakat memanfaatkan hujan yang turun dengan menampung air sebagai persediaan apabila karhutla kembali terjadi. Menurut dia, hujan yang bersifat sporadis atau belum merata belum cukup untuk menghilangkan risiko kebakaran.
“Hujan yang ada itu, air hujan yang ada itu mestinya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjadi stok peluang kemungkinan kalau dia akan kembali lagi,” ujar Bambang.
Baca Juga :
Ia juga menyebut pihaknya menerima laporan sejumlah daerah yang sebelumnya diguyur hujan mulai kembali menghadapi kabut asap. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi kebakaran tetap tinggi apabila hujan tidak menjangkau seluruh wilayah terdampak.
“Nah, kami juga mendapat laporan ya dari ground, bahwa beberapa daerah yang tadinya hujan sekarang sedang mulai berhadapan dengan asap lagi. Karena seperti itulah polanya gitu ya, karena apa namanya, hujannya ini apa, belum menyeluruh, belum merata, masih bersifat sporadis atau parsial. Jadi kalau seperti itu, artinya apa? Peluang itu akan akan tetap tinggi gitu terjadinya kebakaran,” ujarnya.
Bambang turut mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan pemantauan titik panas atau hotspot. Menurut dia, titik panas merupakan indikasi peningkatan suhu permukaan, tetapi tidak semua kondisi dapat terdeteksi satelit, terutama ketika tertutup awan atau menggunakan satelit dengan resolusi rendah.
“Jadi artinya tetap apa, kewaspadaan itu ditingkatkan, tim juga standby gitu ya, mungkin untuk sementara ini tidak separah seberat seperti yang yang sebelumnya,” kata Bambang.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalimantan masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan berdasarkan rujukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Meski demikian, hujan yang turun saat ini belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Pemantauan dan kesiapsiagaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan karhutla kembali terjadi.




