Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons terkait nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (28/10), rupiah turun 28 poin atau 0,15 persen ke level Rp 18.184 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp 18.156 per dolar AS.
Airlangga memastikan pemerintah terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah. Dia masih optimistis terhadap kondisi makroekonomi Indonesia.
"Ya, kita lihat aja, tapi kita lebih optimistis (rupiah tidak tembus Rp 19.000 di akhir tahun). Nanti kita lihat, kita optimistis dengan kondisi makroekonomi, ya," kata Airlangga saat ditemui wartawan di Hotel Ritz-Carlton, Rabu (28/10).
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menyebut pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang kawasan.
Kondisi tersebut turut menjaga harga minyak tetap tinggi, yakni di atas USD 115 per barel, sekaligus meningkatkan risiko fiskal ke depan. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat.
“Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas USD115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat,” ujar Erwin dalam keterangannya, Rabu (28/10).
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi memburuknya sentimen risk-off di pasar keuangan global. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang atau emerging markets. Pada saat bersamaan, imbal hasil atau yield obligasi turut meningkat.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI juga memengaruhi aliran dana. Kebutuhan valuta asing (valas) domestik yang meningkat menjelang akhir bulan menjadi faktor tambahan yang menekan rupiah.
Meski menghadapi berbagai tekanan, BI menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15 persen.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia masih terjaga. BI mencatat cadangan devisa mencapai USD 146,3 miliar pada akhir September 2026.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar keuangan melalui sejumlah instrumen, yakni transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. Bank sentral juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Erwin.
Selain intervensi pasar, BI memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah ketidakpastian global.





